Dimanakah sukacita itu?

“Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan.” Amsal 14: 14

Di Australia, hari Jumat adalah hari kerja terakhir dalam seminggu. Biasanya orang menyambut hari Jumat dengan perasaan lega karena akhir minggu sudah diambang pintu. Hari Jumat sore setelah selesai bekerja, banyak orang yang pergi ke restoran dan tempat minum bersama kolega dan teman. Karena itu, tempat-tempat terkenal di kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane biasanya penuh sesak dengan orang-orang yang ingin mengobrol sambil makan-minum. Jika kita mengunjungi tempat-tempat itu, bunyi hiruk-pikuk orang dan musik riang-gembira selalu mengisi suasana.

Suasana gembira yang bisa kita lihat ditempat umum biasanya mulai reda sesudah tengah malam. Sebagai gantinya, kita mulai melihat adanya orang-orang yang berjalan tertatih-tatih menuju ke stasiun kereta api untuk pulang ke rumah masing-masing. Maklumlah, sesudah meminum banyak minuman keras, orang menjadi kurang mampu mengontrol gerakan tubuhnya.  Sebagian orang bahkan tidak lagi bisa berjalan karena mabuk berat, dan karena itu mereka tidur dipingir jalan.

Perlukah mereka yang mabuk itu untuk dikasihani? Mungkin kita berpendapat bahwa mereka yang mabuk adalah karena kesalahan sendiri. Mereka yang mengalami hal-hal yang kurang baik ketika mereka mabuk berat adalah orang-orang yang bodoh, yang membuka kesempatan kepada orang lain untuk melakukan hal yang jahat kepada mereka. Tetapi, pada pihak yang lain, kita harus berbelas kasihan kepada mereka yang seolah mendapat kegembiraan untuk sementara, tetapi kemudian mengalami kesunyian dan bahkan penderitaan. Mereka yang tidak mempunyai kebahagian dalam hidup, seringkali mencari kebahagiaan di tempat yang dapat mengalihkan perhatian mereka untuk sesaat. Jika kita teliti, seperti apa yang dikatakan ayat diatas, diantara mereka yang tertawa ada hati yang  merana, dan kesukaan duniawi yang mereka peroleh dapat berakhir dengan kedukaan.

Orang sebenarnya tidak selalu mengonsumsi minuman keras sebagai  usaha untuk menikmati  hidup dan melupakan kepahitan yang mereka alami. Banyak orang yang tidak memilih pesta-pora, obat terlarang ataupun minuman keras sebagai pelarian dari kesepian dan penderitaan dalam hidup. Mereka mungkin saja mengucilkan diri ke tempat yang sepi, ataupun membenamkan diri dalam kesibukan hidup. Ada juga yang giat bekerja dalam aktivitas sosial, gereja, olahraga atau hobi. Semua ingin untuk mendapatkan sukacita, sekalipun untuk sementara.  Namun, semakin keras manusia berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan, semakin sulit bagi mereka untuk memperolehnya.

Kebahagiaan memang tidak bisa dicari manusia karena Tuhanlah yang memberikannya kepada mereka yang taat kepadaNya. Mazmur 37 : 3 – 5 menulis:

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”

Dimanakah kebahagiaan itu bisa ditemukan, jika tidak di sumbernya? Adakah yang lebih besar dari kasih Tuhan kepada umatNya? Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah sumber kebahagiaan kita. Happiness is the Lord.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s