Mengapa Tuhan membiarkan kita berbuat dosa?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1: 13 – 15

Ada seorang anak muda yang sering mengendarai mobilnya diatas batas kecepatan jalan raya. Entah itu karena mobilnya yang tergolong mobil sport, atau karena ia memang berbakat untuk menjadi pembalap mobil, dalam kenyataannya ia sering ngebut. Tetapi, pada suatu hari, mobil polisi kebetulan ada dibelakang mobilnya ketika ia melampaui batas kecepatan jalan. Polisi yang melihat hal itu kemudian mengejarnya sampai ia terpaksa berhenti. Sewaktu polisi bertanya mengapa ia ngebut, dengan santai ia berkata bahwa ia terpaksa ngebut karena mobil polisi yang menguntit mobilnya dengan jarak yang terlalu dekat alias tail gating.

Seperti anak muda itu, banyak orang yang berpendapat bahwa Tuhanlah yang membuat mereka jatuh dalam dosa. Kalau saja Tuhan tidak membatasi Adam dan Hawa, tentu tidak perlu bagi manusia untuk menjalani hidup yang berat di dunia sebagai hukuman dosa. Mereka berpikir, jika tidak ada pohon pengetahuan baik dan buruk, tentu tidaklah perlu manusia harus binasa.

Seperti itu jugalah ada orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan memang terlalu campur tangan dalam kehidupan manusia dan apapun yang terjadi didunia, baik itu hal yang indah maupun malapetaka, adalah kehendakNya. Bagi mereka, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang dengan seenaknya membuat segala sesuatu yang terjadi, sekalipun manusia tetap harus bertanggung jawab atas hidupnya.

Bagaimana orang harus percaya bahwa Tuhan yang nampaknya semena-mena, yang membuat segala sesuatu terjadi tetapi kemudian meminta pertanggung-jawaban yang penuh dari manusia? Inilah pertanyaan yang sudah ada sejak dulu.

Jika kita mengalami hidup yang kacau, memang sangat mudah bagi kita untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan ataupun Tuhan, sekalipun itu adalah kesalahan kita sendiri. Tetapi Tuhan tidak membuat kita bernasib malang dengan memberikan situasi yang buruk tanpa sebab, dan tidak juga menghilangkan keinginan kita untuk mengatasi hal itu.

Segala sesuatu memang terjadi dengan sepengetahuan dan seijin Tuhan, tetapi belum tentu Ia menghendakinya. Sebaliknya, apa yang dihendaki oleh Tuhan dari umatNya ialah agar dalam segala sesuatu yang terjadi, kita akan bisa insaf akan kelemahan kita agar mau untuk makin dekat kepadaNya.

Pada hari Minggu ini firman Tuhan mengingatkan bahwa kita harus bertanggung jawab atas hidup kita. Kita tidak boleh menghindari tanggung jawab itu dengan berdalih bahwa semua itu sudah takdir, dan semuanya adalah kehendak Tuhan. Tuhan memang bisa membiarkan apa yang buruk terjadi untuk mendewasakan iman kita, tetapi apa yang terjadi mungkin adalah konsekuensi cara hidup kita. Tuhan sudah tentu ingin agar hidup kita sesuai dengan firmanNya, tetapi jika kita memilih untuk tidak menuruti firman Tuhan, apa yang terjadi seharusnya membuat kita sadar untuk kembali ke jalan yang benar.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s