Pilihan kita, resiko kita

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Minggu ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas (assignment) mereka. Seharusnya tanggal 23 April adalah batas waktunya dan jika mereka terlambat menyerahkan tugas, mereka akan mendapat pemotongan angka (penalty) sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.

Banyak alasan yang diajukan murid-murid itu. Ada yang mengaku sakit, ada yang mengemukakan sibuknya hidup mereka, ada juga yang mengalami kerusakan komputer secara tiba-tiba. Herannya, semua itu terjadi hanya satu atau dua hari sebelum tanggal pemasukan tugas (deadline). Saya sendiri berpikir bahwa karena permintaan perpanjangan itu seolah muncul pada saat terakhir, tentunya tidak semua alasan itu bisa diterima. Kebanyakan murid yang sering mengajukan permohonan perpanjangan waktu adalah mereka yang kurang pandai mengatur waktu. Mereka tidak mempunyai time management yang baik.

Ayat diatas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekedar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana disana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya.

Apa yang terjadi ternyata bukanlah seperti yang kita bayangkan. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajar. Maria duduk didekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Ia tidak senang melihat Maria yang tidak mau membantunya. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari seringkali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firmanNya atau untuk berdoa kepada Tuhan dengan teratur. Kita menunda kewajiban kita untuk berbakti kepada Tuhan, persis seperti seorang murid yang akhirnya terpaksa meminta perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugasnya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anakNya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang diluar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan memberikan kehendak bebas atau free will bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Pilihan kita, resiko kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s