Berdoa dengan roh dan pikiran

“Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” 1 Korintus 14: 15

Di Australia hampir setiap orang mempunyai kendaraan bermotor karena pada umumnya orang memerlukan kendaraan pribadi untuk pergi dari satu ke lain tempat. Berbeda dari Indonesia, kebanyakan pemilik mobil harus bisa menyetir mobilnya sendiri karena gaji supir yang terlalu tinggi. Menurut statistik, setiap empat orang di Australia memiliki tiga mobil, dengan kata lain setiap orang memiliki 0,75 mobil. Dapatlah dimengerti bahwa di kota-kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane, jalan-jalan utama selalu penuh dengan mobil pada jam-jam sibuk (rush hours). Ini berbeda dengan keadaan di jalan bebas (freeway) di luar kota yang umumnya cukup lebar dan lancar.

Sebagai pengemudi mobil, saya dulu sering bepergian ke luar kota menempuh jarak ratusan kilometer dalam sehari. Jarak terpanjang yang pernah saya tempuh dalam waktu 9 jam lebih adalah dari Sydney ke Melbourne, yaitu sekitar 880 km. Menempuh jarak sepanjang itu seorang diri, saya harus bertahan menghadapi rasa bosan dan kantuk. Jalan yang panjang, lurus dan sepi memang bisa membuat pengemudi kehilangan konsentrasi. Mengemudi mobil jarak jauh memang seringkali membuat otak beristirahat dan pikiran melantur kemana-mana. Karena tidak ada yang perlu dipikirkan, pengemudi mobil seolah menjadi sebuah robot. Ini tentu saja bisa menimbulkan situasi yang membahayakan dirinya atau orang lain.

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal di lingkungan gereja, ayat yang mengingatkan orang Kristen untuk memakai baik roh maupun akal  budi dalam berdoa dan memuji Tuhan. Memang dalam keadaan tertentu, suasana bisa membawa mereka yang berdoa dan bernyanyi untuk melakukan hal itu seperti otomatis saja, alias tanpa perlu berpikir. Lebih dari itu ada orang-orang yang sengaja mencari suasana dan kesempatan untuk mengistirahatkan pikirannya dan berusaha bersekutu dengan Tuhan dalam roh saja. Dengan demikian mereka yang terlibat tidak akan mengerti apa yang terjadi pada dirinya atau pada orang lain. Karena pikiran yang kosong atau dikosongkan, hal-hal sedemikian tentu bisa menimbulkan situasi yang kurang baik bagi diri mereka atau orang lain.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kita harus berdoa tanpa memakai pikiran kita. Ajaran yang menganjurkan orang untuk menyepi dan mengosongkan pikiran dalam bersekutu dengan Tuhan bukanlah  berdasarkan firman Tuhan, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi orang-orang tertentu dan dengan demikian bersifat empiris saja. Selain itu, berbagai kepercayaan Timur yang berbau mistik juga sering mendorong orang untuk menyepi, mencari tempat-tempat tertentu yang dipercaya sebagai tempat yang sering dikunjungi Tuhan. Lebih dari itu banyak juga aliran gereja baru yang sekarang ini menganjurkan jemaatnya untuk berdoa secara hening (contemplative prayer), dengan mendengarkan lagu-lagu tertentu atau dengan mengucapkan kata-kata tertentu secara terus menerus. Praktik-praktik semacam itu jelas berusaha memisahkan roh dan pikiran.

Baikkah jika kita berdoa dan bersekutu dengan Tuhan dan sesama kita dengan roh saja, sambil mematikan pikiran atau akal budi kita? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dengan jelas menolak hal itu. Manusia yang diciptakan menurut gambar Allah adalah manusia yang lengkap dengan roh dan akal budi. Manusia yang memang berupa rohani dan jasmani tidak seharusnya menghentikan pikirannya untuk bisa mendengarkan suara Tuhan. Pada saat kita mengistirahatkan pikiran kita, kita justru kehilangan kesadaran bahwa yang seharusnya kita hadapi adalah Tuhan yang mahabesar, mahakasih dan mahasuci. Tidaklah mengherankan, dalam suasana mistik seperti itu manusia sulit untuk menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Karena itu, sering terjadi bahwa dalam keadaan sedemikian orang justru bisa tertipu oleh suara-suara mistik yang bukan dari Tuhan.

Hari ini firman Tuhan secara gamblang menyatakan bahwa dalam membina hubungan dengan Tuhan kita, kita haruslah memakai roh dan akal budi kita. Tanpa melalui roh, akal budi kita tidak dapat merasakan kehadiranNya dalam hidup dan hati kita. Tanpa memakai akal budi atau pikiran, kita akan mudah terjerumus dalam tindakan-tindakan yang justru bisa menjauhkan kita dari kebenaran Tuhan. Biarlah kita selalu mau berdoa meminta penyertaanNya agar kita bisa memakai roh dan pikiran kita dengan sebaik-baiknya untuk bisa memuliakan Tuhan dalam menjalani hidup kita hari demi hari.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s