Bertumbuhlah menjadi dewasa

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13: 11

Berbeda dengan Indonesia, di Australia orang tidak memiliki kartu penduduk. Penduduk Australia memang bebas untuk berpindah-pindah, mereka boleh tinggal dimana saja dan tidak perlu melaporkan diri kepada kantor pemerintah setempat. Walaupun demikian, mereka yang mengendarai kendaraan bermotor wajib mengganti alamat yang tertulis pada Surat Ijin Mengemudi (SIM).

Kartu SIM adalah salah satu bukti identitas seseorang, yang tidak hanya mencantumkan alamat tetapi juga tanggal lahir pemiliknya. Kartu ini adalah kartu yang penting karena banyak tempat yang mengharuskan pengunjungnya untuk membuktikan bahwa mereka sudah lewat usia 17 tahun. Mereka yang belum mencapai usia itu belum dapat digolongkan sebagai orang dewasa.

Jika seseorang tidak mempunyai kartu identitas, dapatkah umurnya diterka? Ini tentunya tidak mudah, perbedaan fisik antara orang dewasa dan anak-anak seringkali tipis. Ada anak-anak yang karena bentuk tubuh dan rupanya, bisa disangka sebagai orang dewasa. Sebaliknya, ada orang dewasa yang mempunyai penampilan seperti orang di bawah usia. Tanpa kartu identitas, orang bisa salah duga.

Kalau kartu penduduk dan SIM bisa dipakai untuk menentukan kedewasaan jasmani orang dewasa dan anak-anak, bagaimana pula dengan kedewasaan rohani? Tingkat kedewasaan rohani jauh lebih sulit untuk diterka atau ditentukan. Mereka yang sudah cukup tua unurnya, belum tentu mempunyai tingkat kerohanian yang lebih tinggi dari anak muda. Mereka yang sudah dewasa secara jasmani, mungkin saja belum mempunyai pengenalan yang mendalam tentang kebenaran Tuhan. Mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen, belum tentu lebih bisa menjalankan firman Tuhan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang belum dewasa rohaninya, berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Ini tentunya dalam konteks rohani. Mereka itu tidak mempunyai kebijaksanaan yang cukup untuk bisa hidup dan bertingkah laku seperti orang yang sudah dewasa dalam imannya.

Manusia yang tidak dapat mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, tidak akan dapat membedakan apa yang baik dan adil dari apa yang jahat. Orang-orang semacam itu selalu ingin untuk menjadi orang Kristen dengan cara yang semudah mungkin, yaitu cara mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang seperti bayi, yang merasa puas dengan makanan yang lunak yang mudah ditelan dan dicerna. Bagaimana pula dengan hidup kekristenan kita?

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s