Sulitnya menjadi prajurit

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” 2 Timoutius 2: 3 – 4

Akademi militer angkatan darat yang terkenal di Australia adalah The Royal Military College, Duntroon. Akademi yang juga dikenal dengan nama Duntroon, didirikan di Canberra, ibukota Australia pada tahun 1911. Lokasi akademi ini adalah di kaki gunung Pleasant dekat danau Burley Griffin. Akademi ini sebanding dengan the Royal Military Academy Sandhurst yang dimiliki Inggris and the Military Academy at West Point yang ada di Amerika.

Seorang kolega saya, Claude, yang pernah mengajar di sebuah universitas di Australia adalah lulusan Duntroon yang pernah dikirim ke perang Vietnam sebagai seorang prajurit. Seingat saya, Claude adalah orang yang tegas dan berdisiplin dengan suara yang lantang. Mungkin saja, karena selama bertahun-tahun ia bekerja sebagai tenaga militer, ia mempunyai karakter dan tingkah laku yang khas militer.

Bagaimana seorang bisa mempunyai penampilan khas militer sekalipun ia tidak memakai seragam militer? Orang tentu tidak dilahirkan dengan ciri-ciri itu, tetapi sesudah mengalami penggemblengan yang cukup lama dan kemudian mendapat kesempatan untuk mempraktikkan semua teori yang pernah diterimanya, lambat laun akan menjadi orang yang berbeda dalam cara dan ciri hidupnya.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus bersedia menderita dan berjuang sebagai seorang prajurit yang baik. Sebagai seorang prajurit yang sedang berjuang, kita seharusnya tidak memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan kita, supaya bisa berkenan kepada komandan kita, Yesus Kristus. Pada pihak yang lain, jika kita hanya mementingkan kehidupan kita, pikiran kita selalu dibebani dengan kebutuhan kita dan selalu membayangkan apa yang kita ingini saja. Dengan demikian, sebagai seorang prajurit kita tidak akan bisa memusatkan perhatian kepada apa yang penting, yang sudah diperintahkan Tuhan.

Orang Kristen adalah seperti orang yang sudah lulus dari sebuah akademi militer. Ia adalah orang yang sudah menerima status yang baru sebagai seorang prajurit. Tetapi, apa yang sudah didengar dan dipelajarinya tidaklah akan berguna jika ia tidak mau maju berjuang bersama rekan-rekannya dan tidak mau mendengarkan perintah komandannya. Bagaimana kita bisa menjadi pengikut Tuhan jika kita hanya ingin menuruti kemauan kita? Bagaimana kita bisa bertahan dalam perjuangan jika kita tidak mau memusatkan hidup kita kepada apa yang difirmankanNya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s