Jangan kesal berbuat baik

“Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” 2 Tesalonika 3: 13

Banyak orang yang mengira bahwa menjadi orang Kristen adalah hal yang tidak terlalu sulit. Bukan hanya orang yang beragama lain, sebagian orang Kristen pun mengira bahwa agama lain mempunyai persyaratan yang lebih berat. Mereka menyangka bahwa untuk menjadi Kristen orang tidak diharuskan untuk berbuat baik, karena keselamatan datang secara cuma-cuma dari Tuhan yang mahakasih. Pandangan ini sudah tentu adalah keliru. Perbuatan baik justru adalah sesuatu yang semestinya dilakukan oleh seluruh umat Kristen, sekalipun bukan untuk memperoleh keselamatan.

Berbuat baik? Semestinya? Berbuat baik yang bagaimana? Bagi banyak orang, berbuat baik berarti melakukan sesuatu yang membawa kebaikan untuk sesama, untuk lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan banyak berbuat baik orang mungkin mengharapkan adanya balasan atau penghargaan dari sesama, masyarakat, negara, dan bahkan Tuhan. Semua ini bisa menjadi motivasi orang di dunia, tetapi bagi orang Kristen yang sejati, perbuatan baik adalah karena Tuhan sudah lebih dulu memberikan karunia keselamatan.

Walaupun perbuatan baik bisa juga dirasakan sebagai sesuatu yang membawa keuntungan pada diri sendiri, agar selalu bisa mempraktikan ini perlu adanya pengurbanan. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi sesama, kemudian memperoleh kekecewaan dan kelelahan karena kurang atau tidak adanya penghargaan.

Kejemuan akan timbul jika perbuatan baik kita hanyalah dianggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya kita lakukan untuk orang lain. Hari demi hari kita berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, tetapi mereka kurang menghargai jerih payah kita. Kita mungkin sering dikecewakan oleh orang lain, termasuk suami, istri, anak, sanak keluarga, dan teman segereja yang menganggap kebaikan kita sebagai sesuatu yang biasa (taking it for granted). Tambahan pula, ada orang-orang yang seakan membalas kebaikan kita dengan hal yang kurang baik. Buat apa kita berbuat baik jika orang justru menganggap kita sebagai sapi perahan?

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan bahwa kita tidak boleh jemu dan kesal (weary) untuk berbuat baik. Berbuat baik adalah ciri hidup orang yang sudah merasakan kebaikan Tuhan. Orang yang merasa bahwa ia pernah tersesat dan melarikan diri dari Tuhan, orang yang tidak layak untuk diterima oleh Tuhan.

Sebagai anak yang pernah hilang kita sudah disambut dengan tangan terbuka oleh Allah, Bapa yang mahakasih. Dengan demikian, adakah alasan bagi kita untuk merasa kesal dalam berbuat baik bagi Tuhan dan sesama kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s