Bertahan sampai akhir

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 11 -12

Berita olahraga kemarin membuat saya terpesona. Rekor lari maraton dunia lagi-lagi dipecahkan oleh pemegang rekor dunia dari Kenya, Eliud Kipchoge. Kali ini, ia menjadi orang pertama yang bisa menyelesaikan jarak 42.2 km itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Suatu prestasi yang luar biasa yang mungkin tidak akan mudah dipecahkan di masa depan.

Untuk bisa berlari secara konsisten dengan kecepatan lebih dari 20 km per jam ini, Eliud harus benar-benar tekun. Beberapa kali ia sudah berusaha, tetapi baru kali ini ia berhasil melakukannya dalam waktu 1 jam 59 menit. Kali ini ia menggunakan 41 pelari pendamping yang secara bergantian memacu kecepatan larinya.

Jika kekuatan (power) dan kecepatan (speed) adalah dua hal yang penting untuk lari jarak pendek, daya tahan (endurance) adalah suatu hal yang mutlak diperlukan untuk lari jarak jauh. Ini adalah kemampuan seseorang melaksanakan gerak dengan seluruh tubuhnya dalam waktu yang cukup lama dan dengan tempo sedang sampai cepat tanpa mengalami rasa sakit dan kelelahan berat.

Kemauan, tekad dan daya tahan yang besar seperti yang bisa dilihat dalam diri Eliud bukan saja dibutuhkan dalam hal berlari, tetapi juga diperlukan dalam tiap perjuangan hidup manusia. Dalam 1 Korintus 9: 24 Paulus menulis bahwa seperti dalam sebuah pertandingan ada banyak peserta yang berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah, umat Kristen juga harus “berlari” dengan bersemangat, sehingga mereka memperoleh hadiah kemuliaan di surga.

Hidup manusia di dunia ini memang tidak mudah. Kesukaran hidup, halangan, penyakit, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya bisa terjadi pada diri siapa pun. Bagi banyak orang, adanya beban hidup yang besar membuat mereka menjadi lamban dan kurang bersemangat untuk hidup. Begitu juga banyak orang Kristen yang kemudian menjadi mundur dalam iman karena adanya kekuatiran dan kesulitan yang tidak teratasi.

Dalam perjalanan hidup yang panjang, memang orang sering sulit untuk membayangkan kapan semua itu akan bisa diakhiri dengan kemenangan. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam kesulitan kita harus bisa melihat mereka yang sudah bertahan dalam iman dan menang dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Bagaikan seorang pelari maraton, kita mungkin sering menghitung-hitung jumlah kilometer yang ada di depan kita dan merasa kuatir apakah kita sanggup untuk mencapai garis finis. Tetapi, kita bisa melihat begitu banyak umat Tuhan yang berlari terus dan bertahan hingga akhir. Itu bukan karena daya tahan mereka sendiri, tetapi karena adanya Tuhan yang memberi iman dan kesabaran. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah kita bisa mencontoh mereka yang sudah menang dengan selalu memohon penyertaanNya!

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s