Berapa harga hidupmu?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Markus 8: 37 – 37

Hari ini di media Australia ada kabar bahwa seseorang yang sudah dituduh membunuh seorang tokoh kepolisian dan kemudian dibebaskan setelah dipenjara selama hampir 20 tahun, telah mendapat ganti rugi dari negara sebesar $7 juta. Jumlah yang tidak sedikit untuk seorang yang berumur 74 tahun.

Untuk apa uang sebanyak itu? Tidak ada seorang pun yang tahu! Walaupun begitu, orang itu berkata bahwa ia akan berusaha untuk mempunyai hidup normal lagi. Ia memang mengalami berbagai hal yang menakutkan dari sesama narapidana selama hidup di penjara. Lebih dari itu, ibu dan dua saudara perempuannya meninggal dunia sewaktu ia masih dipenjara.

Sebagian orang mungkin membayangkan bahwa untuk dipenjara dan kemudian dibebaskan dengan uang sebanyak itu adalah keuntungan. Tidak sia-sialah masa penderitaan yang dialaminya. Menjadi seorang jutawan bukanlah mudah dan mungkin kebanyakan orang sudah senang jika bisa pensiun dengan uang sepersepuluhnya. Tetapi, adakah orang yang mau mengalami hal yang sama?

Mungkin tidak ada orang yang dengan sengaja mau dipenjara selama 20 tahun untuk memperoleh uang sebanyak 7 juta dolar. Di penjara, bisa saja nyawa seseorang melayang karena penjara adalah tempat dimana para pembunuh dan penjahat berusaha untuk menjadi penguasa atas sesama narapidana. Belum lagi penyiksaan, pemerkosaan, pelecehan dan penggunaan narkoba yang terjadi setiap hari. Walaupun demikian tentu ada orang yang bersedia hidup dalam suasana yang penuh bahaya dan dosa di luar penjara, demi untuk memperoleh uang dan harta.

Mengapa ada orang yang mau mempertaruhkan apa saja demi harta? Tentu saja karena orang sedemikian tidak mengerti bahaya yang akan dihadapinya. Orang mungkin tidak sadar bahwa ia tidak dapat membeli keselamatan dan kebahagiaan dengan uangnya. Mereka yang mengejar harta justru bisa jatuh ke dalam berbagai godaan dan menempuh hidup yang jauh dari Tuhan. Jika Tuhan yang harus dimuliakan kemudian diabaikan karena manusia lebih mementingkan harta, tidaklah mengherankan jika hidup mereka akan menjadi kosong dan tidak bermakna. Selama manusia masih di dunia dan juga sesudahnya, hidup yang tidak berTuhan adalah hidup yang mati. Manakah yang kita pilih: harta atau nyawa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s