Mengapa orang gemar berdusta?

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” Kolose 3: 9 – 10

Pernahkah anda membaca buku Pinokio? Buku bacaan anak-anak yang sangat terkenal ini dikarang oleh Carlo Collodi dari Italia pada abad ke 19. Dongeng Pinokio merupakan suatu cerita edukatif tentang sebuah boneka kayu yang berubah menjadi anak laki-laki. Pinokio yang nakal dan suka berbohong, melalui petualangannya kemudian menjadi anak yang baik dan patuh pada orang tua.

Mengapa Pinokio senang berbohong? Buku itu tidak menyebutkan sebabnya. Tetapi, menurut ilmu psikologi, ada beberapa sebab mengapa ada orang suka berbohong. Sebab yang pertama ialah karena jika orang lain menganggap suatu hal sebagai apa yang tidak ada artinya, orang yang suka berbohong justru merasa hal itu penting untuk dibesar-besarkan.

Sebab kedua ialah karena orang itu ingin memegang kontrol dengan segala kebohongannya. Dengan menjadi “sutradara” orang bisa mengatur pikiran dan perasaan orang lain. Ia merasa senang jika bisa membodohi orang lain. Yang ketiga adalah karena orang itu tidak ingin mengecewakan orang lain. Dengan berbohong, ia ingin membuat orang lain dekat kepadanya.

Sebab yang keempat, orang berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dengan demikian, kebohongannya makin lama menjadi makin besar. Yang kelima, orang suka berbohong karena sudah sering berbohong; ini membuat mereka lupa akan apa yang terjadi dan apa yang hanya lamunan. Dan sebab yang terakhir ialah karena kebohongan itu merupakan apa yang diharapkan untuk terjadi.

Semua penyebab di atas adalah berdasarkan pemikiran kejiwaan. Tetapi, bagaimana kata Alkitab? Alkitab menghubungkan kebohongan dengan hidup lama yang belum mengenal Kristus. Seperti Adam dan Hawa yang berbohong setelah mereka jatuh ke dalam dosa, semua manusia yang belum diperbaharui oleh Kristus selalu cenderung untuk berdusta. Memang karena mereka hidup dalam dosa, dusta merupakan bagian hidup mereka.

Ayat di atas menyatakan bahwa untuk berhenti berdusta kita harus mengalami pembaharuan terus menerus untuk makin menyerupai Tuhan Sang Pencipta yang tidak pernah berdusta. Hanya dengan hidup beriman kepadaNya, kita akan bisa mengubah hidup lama yang penuh dosa agar bisa menjadi hidup baru yang selalu berisi kebenaran. Maukah kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s