Kasih itu tidak buta

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Cinta itu buta. Love is blind. Ungkapan ini tentunya dikenal hampir semua orang dan mungkin  sudah ada sejak abad ke 15. Apa artinya? Sebagian besar orang mengartikan bahwa jika seseorang jatuh cinta, maka ia tidak memikirkan hal-hal lain selain keinginan untuk mendapatkan orang yang dicintainya. Ini ada benarnya, karena ada banyak orang yang mau mengurbankan apa saja yang dimilikinya agar ia mendapatkan orang yang dicintainya. Tetapi, cinta yang demikian sebenarnya  adalah keinginan untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Raja Edward VIII misalnya, melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dibayangkan orang lain. Ia jatuh cinta kepada seorang wanita Amerika yang bersuami dan sebelumnya sudah pernah menjanda. Untuk bisa mengawini wanita itu, Raja Edward melepaskan tahta Inggris pada tanggal 10 Desember, 1936. Untuk sebagian orang,  ini adalah sesuatu kisah cinta (love story) yang paling utama dari abad ke 20. Tetapi, untuk orang lain, ini adalah sebuah scandal yang berpotensi untuk melemahkan kerajaan Inggris. Dalam kenyataannya, hal  ini pada akhirnya tidaklah menjadi kisah cinta terbesar ataupun skandal, tetapi menjadi kisah tentang seorang raja yang ingin hidup seperti orang kebanyakan. Edward sudah memilih apa yang baik menurut pendapatnya sendiri dan untuk kepentingan dirinya.

Apakah benar cinta itu buta? Ataukah manusia yang bisa menjadi seperti buta jika dilanda cinta? Ini adalah hal yang sering dibahas orang sepanjang masa. Dalam kehidupan rohani pun ada orang-orang yang dengan bersemangat menyatakan imannya tanpa merasa perlu untuk mendalami firman Tuhan. Bagi mereka, liturgi gereja, khotbah pendeta ataupun kegiatan keagamaan sudah bisa membuat semangat mereka menggebu-gebu untuk pergi ke gereja. Pada pihak yang lain, ada juga orang-orang yang “jatuh cinta” kepada pengajaran gereja, teologi atau organisasi gereja tertentu, sehingga mereka merasa bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik dan benar. Apakah ini juga bisa dinamakan cinta buta?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip  kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih tidak semudah atau semurah cinta. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendakiNya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Pagi ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan kearah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menhilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s