Menjadi anggota keluarga Allah

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.” Markus 3: 35

Jika saya telusuri perbincangan antar pemakai sosial media di zaman ini, mau tidak mau saya merasa geli. Bagaimana tidak? Dulu kita selalu memakai istilah saudara dan saudari untuk memanggil orang yang kita ajak berbincang, tetapi sekarang ini orang sering memakai panggilan “bro” dan “sis“. Memang, kedua panggilan ini agaknya lebih keren karena berasal dari bahasa Inggris “brother” dan “sister” yang artinya “saudara” dan “saudari”. Tetapi, yang agak aneh ialah selain “bro”, panggilan  “Mas Bro” juga dipakai untuk teman pria. Mas Bro?

Lawan dari “bro” adalah “sis”, tetapi panggilan “sis” ini banyak ditemui di online shop, ketika penjual memanggil pelanggannya, tidak peduli pria atau wanita. Selain itu, ada juga panggilan “gan” yaitu panggilan untuk sesama pria anggota sebuah forum internet (agan). Bagaimana dengan panggilan “om”? Di zaman Belanda, “oom” dan “tante” adalah panggilan untuk paman dan bibi, tetapi “om” sekarang dipakai untuk memanggil pria yang dihormati, walaupun belum tentu tua atau lebih tua. Selain itu, di banyak gereja panggilan “om” dan “tante” sering dipakai untuk mereka yang duduk sebagai pemimpin gereja.

Panggilan-panggilan di atas tidaklah perlu ditanggapi terlalu serius. Jika kita dipanggil orang yang memakai istilah seperti itu, kita tidak perlu merasa kurang enak. Orang memanggil kita, tentunya dengan maksud agar bisa lebih akrab. Bagaimana dengan hal panggil-memanggil antara umat Kristen? Di Alkitab berbahasa Inggris, memang istilah brother and sister dipakai untuk memanggil orang yang belum tentu mempunyai hubungan darah, tetapi adalah saudara dan saudari dalam satu iman. Bahkan rasul-rasul memanggil siapa pun yang seiman sebagai saudara dan saudari, sekalipun belum pernah berjumpa. Agaknya iman yang mempersatukan semua umat Kristen, dimana pun mereka berada dan dari bangsa apapun.

Berbeda dengan panggilan saudara dan saudari dalam hubungan sehari-hari, panggilan saudara dan saudari dalam konteks kekristenan adalah hal yang serius. Alkisah, pada waktu Yesus tengah berbicara dengan orang banyak, ada orang yang mengingatkan Dia bahwa ibu dan saudara-saudaraNya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Apa jawab Yesus? Ia berkata: “Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?” Lalu kataNya, sambil menunjuk ke arah murid-muridNya: “Inilah ibuKu dan saudara-saudaraKu! Yesus bukannya tidak menghormati Maria dan bukannya tidak mengasihi saudara-saudaraNya, tetapi pada kesempatan itu Ia ingin menekankan pentingnya ikatan dengan Allah. Jika manusia sering memusatkan hidup mereka untuk kebutuhan keluarga, orangtua, saudara dan teman, sebagai orang Kristen mereka seharusnya memusatkan hidup mereka kepada Tuhan.

Pada ayat di atas Yesus menjelaskan bahwa barangsiapa melakukan kehendak Allah, dia adalah saudara, saudari dan ibu Yesus. Yesus adalah Anak Allah dan Ia adalah satu dengan Allah. Dengan demikian, jika kita hidup menurut firman Allah, kita adalah anggota keluarga Allah. Ini bukanlah hal yang remeh, karena mereka yang tidak mau melakukan kehendak Allah tentu adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan karena itu bukanlah “bro” dan “sis” yang sesungguhnya. Sekalipun kita mempunyai saudara dan saudari yang berhubungan darah, semua itu pada akhirnya tidak ada artinya jika mereka tidak dipersatukan dengan kita dalam darah Kristus. Sebaliknya, sekalipun kita tidak mengenal orang-orang yang jauh di sana dan tidak pernah berjumpa muka, kita bisa mendoakan dan mau menolong mereka yang sehati dan seiman dalam Kristus.

Pagi ini, marilah kita meneliti hubungan kita dengan mereka yang hidup di sekeliling kita. Mungkin kita mengasihi mereka yang akrab dan tergolong teman baik ataupun sanak. Itu sudah sepantasnya. Alkitab justru mengajarkan agar kita mau mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Walaupun demikian, apakah artinya kasih kita jika kita mengerti bahwa Allah, sekalipun Ia mengasihi seluruh umat manusia, tidak akan mengakui semua orang sebagai anak-anakNya? Bukankah kita terpanggil untuk selalu mengingatkan mereka bahwa adalah terlebih baik menjadi anggota keluarga Allah daripada menjadi anggota keluarga manusia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s