Kita termasuk marga Abraham

“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” Kejadian 17: 7

Menurut Wikipedia, marga atau nama keluarga (family name) menunjukkan dari keluarga mana asal usul seseorang. Marga lazim dipakai di banyak kebudayaan di dunia. Marga dalam kebudayaan Barat dan kebudayaan yang terpengaruh oleh budaya Barat umumnya terletak di belakang, sehingga sering disebut dengan nama belakang (surname). Kebalikannya, budaya Tionghoa dan Asia Timur lainnya menulis marga di depan nama panggilan (given name) karena marga adalah lebih penting daripada nama panggilan dalam hal membedakan asal-usul dan budaya seseorang.

Di Tiongkok misalnya, ada lebih dari 4000 marga, dan tiga yang paling besar adalah Wang, Li dan Zhang. Seperti itu juga, di Indonesia ada beberapa suku yang memandang penting marga dan karena itu nama keluarga diteruskan dari generasi ke generasi. Tetapi, di berbagai tempat banyak orang di zaman ini yang mengadopsi nama yang indah, keren dan menarik untuk dipakai sebagai nama keluarga. Dapat dimengerti bahwa marga yang tidak jelas latar belakang historis dan budayanya adalah nama yang kurang ada artinya.

Ayat di atas merupakan perjanjian antara Allah dengan Abraham . Allah bermaksud untuk secara turun-temurun mengadakan perjanjian yang kekal, supaya Dia menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Sebagai tanda adanya perjanjian ini, kaum pria dari marga Abraham harus mau untuk dikhitankan. Begitu pentingnya tanda sunat ini, mereka yang tidak mau dikhitan adalah orang yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah, dan dengan demikian tidak akan menerima berkat dan penyertaan Allah. Sesudah Yesus turun ke dunia, mereka yang sudah percaya kepadaNya tidak perlu lagi memakai tanda sunat yang bersifat jasmani. Sebaliknya, orang beriman memakai sunat rohani, yaitu hidup yang menaati firman Allah (1 Korintus 7: 19). Dengan demikian, mereka yang tidak mau menurut hukum Allah adalah orang-orang yang bukan umatNya.

Adakah untungnya menjadi umat Allah? Tentu saja! Jika pada zaman Abraham Allah menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi warga dari bangsa yang besar (Kejadian 17: 6) dan tanah Kanaan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya (Kejadian 17: 8), kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia memungkinkan semua orang yang percaya untuk menjadi warga surgawi dan keselamatan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya. Dengan demikian, seperti keturunan Abraham menjadi milik Allah, kita yang sudah menjadi milik Kristus adalah “semarga” dengan Abraham, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Allah.

Bagi kita, menjadi marga Abraham karena Kristus adalah satu karunia yang terbesar yang tidak dapat ditukar dengan hal-hal yang lain. Dari segi historis, kita bisa melihat bahwa kasih Tuhan sudah ada sejak mulanya dan terus mengalir untuk semua orang percaya. Dengan demikian, dalam hidup ini seharusnya tidak ada hal lain yang bisa menarik kita untuk keluar dari marga surgawi atau marga Abraham. Kita tentunya tidak mau memilih untuk menjadi anggota marga duniawi yang bukan milik Kristus. Seperti janji Tuhan hanya diberikan kepada Abraham dan keturunannya, janji Tuhan untuk menyertai kita dan membimbing kita sampai kita bisa berjumpa dengan Dia di surga, hanya berlaku selama kita tetap mau taat dalam Kristus.

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Galatia 3: 29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s