Hidup yang bergantung pada Tuhan

“Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Matius 10: 10

Berapa helai baju yang anda punya? Bagi kebanyakan orang, tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Mengapa? Setiap orang yang cukup mampu di zaman ini pada umumnya memiliki banyak baju, sehingga jumlah yang pasti tidak mudah ditentukan. Selain membeli baju baru untuk mengganti apa yang dipakai, sering orang membeli baju baru karena menyenanginya.

Jika alasan yang pertama berdasarkan kebutuhan, alasan yang kedua adalah demi kepuasan. Bagi kita yang hidup di dunia modern ini agaknya orang menganggap kedua alasan ini sebagai sesuatu yang wajar dalam batas tertentu. Keinginan untuk memiliki banyak baju, perhiasan, mobil atau rumah dianggap biasa. Hidup yang diinginkan orang adalah hidup yang bukan hanya cukup, tetapi berlebihan.

Pada zaman Yesus hidup di dunia, memiliki dua baju adalah sesuatu yang dipandang cukup. Satu baju bisa dipakai, dan kalau itu perlu dicuci, baju yang lain bisa menggantikannya. Walaupun begitu, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk pergi mengabarkan Injil tanpa membawa dua helai baju, kasut atau tongkat. Hidup secara sederhana, untuk tidak dikatakan menderita. Barangkali kita membayangkan betapa sulitnya untuk menjadi murid Yesus. Benarkah begitu?

Kita yang hidup di zaman modern sudah terbiasa dengan pandangan bahwa orang tidak seharusnya puas untuk mencapai tingkat sederhana saja. Banyak orang Kristen yang justru percaya bahwa pengikut Kristus yang baik tentu diberkatiNya sehingga berlebihan dalam segala sesuatu. Karena itu banyak orang Kristen yang justru bekerja untuk mengejar keberhasilan materi. Karena itu juga banyak orang Kristen yang lupa bahwa Tuhanlah sumber kehidupan kita. Hidup yang sedemikian justru bisa menjadi hidup yang benar-benar sulit untuk dijalani.

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki umatNya untuk memikirkan bagaimana bisa hidup berlebihan, tetapi bagaimana bisa merasa cukup dalam setiap keadaan. Hidup dengan memuliakan Tuhan sambil percaya bahwa Ia yang akan mencukupkan. Yesus menyuruh murid-muridNya bekerja untuk Dia sepenuhnya tanpa memikirkan kebutuhan atau keinginan mereka, tetapi yakin akan kemurahan Tuhan kepada mereka yang setia kepadaNya.

Memasuki tahun yang baru, kepada kita diberikan dua pilihan. Memikirkan kebutuhan kita setiap hari dan karena itu merasa menderita dan kurang puas akan pemeliharaan Tuhan, atau memikirkan bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan secara maksimal dalam hidup kita sambil percaya bahwa Ia selalu memelihara umatNya yang setia. Manakah yang kita pilih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s