Teman sehati sependeritaan

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” 1 Korintus 9: 22

Dalam hidup ini mencari teman yang baik tidaklah mudah. Jika kita sedang berjaya, teman mungkin datang tanpa diundang. Tetapi, jika kita lagi dirundung malang, teman yang dulunya terlihat baik belum tentu mau datang. Karena itulah peribahasa menyebutkan bahwa teman sejati adalah teman dalam penderitaan. A friend in need is a friend indeed.

Menjadi teman sejati bagi orang lain adalah panggilan setiap orang Kristen karena perintah Tuhan kepada umatNya untuk mengasihi sesama manusia. Tetapi ini tidak mudah dilaksanakan dengan cara yang benar.

Kebanyakan orang memilih cara yang paling mudah untuk mengasihi orang lain, yaitu dengan menyumbang atau memberi sesuatu yang mungkin dibutuhkan mereka. Dengan demikian, banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai penolong orang lain karena bisa membantu orang itu secara jasmani. Bagi gereja pun, cara yang termudah untuk mengasihi orang yang di luar gereja adalah dengan memberi secara materiil. Setiap ada kesempatan, jemaat mengumpulkan uang atau barang untuk diberikan kepada mereka yang terlihat miskin.

Mempunyai perasaan simpati adalah sudah seharusnya. Walaupun demikian, Paulus dalam ayat di atas menegaskan bahwa kita sebagai orang Kristen harus mempunyai rasa empati. Baik simpati maupun empati berasal dari kata Yunani pathos yang berkaitan dengan penderitaan dan perasaan. Tetapi kedua kata ini memiliki perbedaan inti: simpati menggambarkan perasan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihan mereka.

Kepada kita firman Tuhan mengingatkan bahwa jika kita ingin bekerja untuk Tuhan dalam membimbing orang lain ke arah yang benar, kita harus bisa menjadi orang yang sehati sependeritaan dengan mereka yang kekurangan, sakit, takut dan tertindas dan bukan hanya bisa mengulurkan tangan kita dari tempat yang tinggi.

Sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk menunjukkan belas kasihan kita untuk mereka yang menderita. Kita harus bisa menempatkan diri dalam keadaan mereka dan mempunyai empati atas kesedihan mereka. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk bisa ikut menggumuli perjuangan mereka agar mereka bisa juga merasakan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Semoga banyak orang bisa menjadi umat Tuhan melalui apa yang baik yang kita lakukan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s