Hal mengasihi saudara seiman

Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. 1 Yohanes 5: 2

Lebih mudah bergaul dengan orang yang bukan Kristen tapi yang terlihat baik hidupnya, daripada berteman dengan orang Kristen yang kacau hidupnya. Mungkin banyak orang yang berpendapat begitu karena pengalaman pribadi yang dialaminya. Memang agaknya sulit bagi kita untuk menyenangi orang yang mengaku Kristen tetapi seringkali mengecewakan kita. Mengasihi sesama tidaklah mudah, tetapi mengasihi orang yang seiman seringkali lebih sukar, apalagi karena adanya perbedaan antar golongan dan antar aliran.

Bagaimana kita bisa memupuk kasih kepada semua orang percaya? Ayat pertama dari 1 Yohanes 5 mengatakan bahwa “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya.” Dengan demikian, jika kita pada satu pihak mengasihi Yesus yang lahir dari Allah, kita harus sadar bahwa kesulitan kita dalam mengasihi sesama umat Kristen yang juga lahir dari Allah, sebenarnya bertentangan dengan kasih kita kepada Allah.

Lebih dari itu, jika kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan, seharusnya kita bisa mengasihi saudara seiman yang kelihatan. Ayat 1 Yohanes 4: 20 menyatakan Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Adakah tanda-tanda bahwa kita sudah mengasihi saudara seiman kita? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa tandanya terlihat dalam hal bagaimana kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. Ini agaknya seperti logika yang berputar (circular logic). Tetapi memang orang yang mengasihi Allah tentu mau melakukan segala perintahNya.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14: 15

Apa yang diperintahkan Allah kepada umatNya diringkas oleh Yesus dalam dua hal:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30 – 31

Jika kita mau mengasihi sesama kita, kita tidak dapat tidak mengasihi semua orang, termasuk mereka yang kurang kita sukai dan mereka yang tidak menyukai kita. Jelas kasih kepada sesama harus mencakup kasih kepada saudara-saudara seiman.

Sebagai manusia berdosa, kasih yang kita punyai bukanlah kasih untuk orang lain, tetapi kasih kepada diri sendiri. Kita sering mengasihi orang lain jika itu membawa kebaikan dan rasa senang untuk diri kita sendiri. Tetapi, karena kita sudah diangkat menjadi anak-anak Allah, kita memperoleh kemampuan untuk mengasihi sesama kita dengan kasih yang murni (agape). Dengan demikian, kasih yang benar bukan berasal dari diri kita, tetapi harus datang dari Allah.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” 1 Yohanes 4: 7

Saat ini kita mungkin merasa siap dan sanggup untuk mengasihi sesama kita, tetapi itu belum lengkap jika kasih kita tidak diteruskan kepada saudara seiman. Kasih kepada saudara seiman malahan harus lebih diutamakan karena mereka adalah anak-anak Allah seperti kita. Biarlah kasih kita makin bertumbuh di dalam Dia yang sudah memberi kita hidup baru!

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10