Biarlah engkau kuat dalam batinmu

“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Efesus 3: 16 – 17

Besok pagi, pada hari Senin tanggal 17 Februari, kebanyakan universitas di Australia akan memulai tahun ajaran baru yaitu Semester 1, 2020. Bagi para murid baru, minggu depan belumlah saat untuk mulai kuliah, tetapi saat untuk orientasi. Mereka akan diperkenalkan dengan fasilitas dan staff pengajar universitas.

Untuk sebagian besar murid saya, minggu depan masih merupakan minggu santai. Tetapi, bagi banyak dosen minggu itu adalah kesempatan terakhir untuk mempersiapkan bahan ajaran, sebelum mulai memberi kuliah minggu berikutnya. Minggu depan bagi saya adalah minggu kerja keras dan seiring dengan itu ada juga rasa tegang yang muncul dalam hati saya karena adanya perasaan kurang siap.

Sebenarnya, jika anda bisa memilih, manakah yang lebih anda sukai: kelelahan fisik atau ketegangan batin? Banyak orang mungkin memilih kelelahan fisik karena itu lebih mudah mengatasinya. Dengan beristirahat atau tidur, memang kita bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan kelelahan jasmani. Sebaliknya, kelelahan batin tidak mudah untuk dihilangkan. Kita juga tahu bahwa banyak orang yang hancur masa depannya atau goncang hidupnya karena persoalan batiniah atau rohani yang besar, dan yang tidak teratasi.

Jika kita lelah atau sakit secara jasmani, kita mungkin bisa meminta pertolongan orang lain, baik itu secara cuma-cuma atau dengan membayar jasa. Tetapi, jika kita lelah secara batin atau rohani, tidaklah mudah bagi orang lain untuk mengerti keadaan kita atau untuk menolong kita. Kelelahan batin jugalah yang banyak diderita di zaman ini sehingga orang sering kehilangan harapan.

Bukan saja kegiatan di luar rumah yang bisa membebani batin manusia. Kehidupan dalam rumah tangga justru sering membuat orang lelah secara batin dan putus asa. Bagaimana tidak? Istri mungkin tertekan batinnya, tetapi suami tidak menyadarinya. Suami mengalami depresi, tetapi istri tidak dapat menolong. Begitu juga hubungan antara anak dan orangtua bisa membawa tekanan batin yang besar pada kedua pihak.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus yang tercantum di atas, berdoa supaya Tuhan menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan mereka melalui Roh Kudus yang berdiam dalam batin mereka. Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa jika kita mengalami kesulitan hidup dan penderitaan batin dan orang lain tidak dapat menolong kita, Roh Kudus yang ada dalam hati kita akan berdoa untuk kita. Roh Kudus yang merupakan Roh Penolong akan menguatkan kita sehingga kita selalu ingat akan kasih Yesus yang pernah menderita sebagai manusia. Ia adalah Tuhan yang mahakasih dan yang mengerti akan apa yang kita alami dan bisa menolong kita. Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan. Mengapa kita harus berkecil dan bersusah hati jika kita sadar akan kasihNya?

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” Efesus 3: 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s