Berharap untuk masa depan

“Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 24:14

See the source imageJika kita membaca media hari-hari ini, seolah hanya kabar buruklah yang ada. Pandemi COVID-19 sudah memporak-porandakan banyak negara, termasuk negara-negara yang besar dan kaya. Jika akhir pandemi ini belum bisa ditentukan sebelum adanya vaksin, krisis ekonomi, sosial, hukum dan politik sudah mulai muncul di beberapa negara. Dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, kebutuhan sehari-hari semakin sulit untuk diperoleh. Apalagi harga bahan makanan pun mulai naik karena produksi dan distribusi yang terganggu dengan adanya wabah ini. Dengan keadaan yang makin sulit ini, bagaimana kita bisa berharap untuk dapat melalui tahun 2020  dengan selamat?

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan kapan krisis pandemi ini bisa diatasi. Jika ada orang yang mencoba membuat prediksi tentang hal itu, semuanya hanya berdasarkan asumsi-asumsi tertentu yang belum tentu benar. Yang pasti, dunia ini akan berada dalam keadaan “sakit” paling tidak sampai akhir tahun ini. Pandangan yang suram dan pesimistik? Mungkin sebagian orang berpendapat begitu. Memang ada orang yang percaya bahwa semua ini akan berakhir dengan cepat dan karena itu mereka ingin segera memulai aktivitas kehidupan mereka secepatnya. Tetapi, sebagian yang lain agaknya merasa bahwa mereka harus lebih sabar untuk menderita, karena mereka tidak ingin untuk mengalami kesulitan yang lebih besar di kemudian hari. Keputusan mana yang terbaik?

Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan harus dipunyai semua orang. Masa depan sepenuhnya ada di tangan kita, begitu sebagian orang berpendapat. Tetapi, sebagian orang sebaliknya yakin bahwa masa depan manusia ada di tangan Tuhan sepenuhnya. Mana yang benar? Bagi umat Kristen, sudah tentu apa saja yang terjadi adalah seizin Tuhan dan sesuai dengan rancanganNya. Tetapi ini bukan berarti manusia tidak perlu mengambil keputusan untuk mengatur hidupnya. Manusia harus menggunakan hikmat kebijaksanaan yang diterimanya dari Tuhan untuk dapat mengatur seisi dunia seperti apa yang diperintahkan Tuhan sejak awalnya (Kejadian 1: 28). Menolak tanggung jawab untuk berusaha dan bekerja dengan demikian adalah dosa.

Dalam berusaha dan bekerja manusia haruslah melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika manusia hanya melakukan apa yang dikehendakinya, Tuhan bisa menghentikan atau mengubah arah tujuannya agar sesuai dengan rancanganNya. Tuhan yang berkuasa tidak akan kehilangan jejak atau terlena jika manusia melakukan tindakan apa pun di dunia, dan dihadapanNya tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan dosa dan kesalahannya.  Bagi kita umat Kristen, sudah sepatutnya kita bekerja dan menjalankan tugas kita seperti yang dikehendakiNya. Kita harus memakai hikmat kebijaksanaan yang ada pada kita untuk bisa mencapai hasil yang baik. Hikmat kebijaksanaan dan hasil baik yang bagaimana?

Jika manusia hanya memakai hikmat dan kebijaksanaannya sendiri, apa yang diperbuatnya hanya menghasilkan sesuatu yang bodoh dimata Tuhan. Manusia tanpa Tuhan adalah bagaikan layang-layang yang ingin terbang tinggi tanpa menyadari bahwa talinya sudah putus.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”`1 Korintus 3: 19

Hikmat kebijaksanaan hanya bisa diperoleh dari Tuhan. Hanya dengan mengenal Tuhan dan perintahnya, manusia akan dapat bekerja dan mengambil tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mengenal Tuhan, dan karena itu mereka tidak dapat mengerti bahwa hidup mereka seharusnya untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, kita sadar bahwa tantangan dan perjuangan besar ada di depan kita. Tetapi kita juga sadar bahwa Tuhan adalah lebih besar dari semuanya. Karena itu, dengan menyadari kuasa Tuhan, marilah kita hidup dengan rasa takut akan Dia. Takut bukan berarti kita merasa bahwa Ia kejam, sebaliknya kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia menghendaki umatNya untuk mempunyai hidup yang berbahagia dan karena itu mau mengaruniakan hikmat kebijaksanaan kepada mereka yang tunduk kepadaNya. Dengan hikmat kebijaksanaan dari Tuhan, kita akan mempunyai harapan untuk masa depan.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s