Patutkah aku marah kepada Tuhan?

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1: 21

Pandemi COVID-19 yang berkepanangan sudah tentu akan menyebabkan berbagai masalah di dunia. Pelonjakan angka pengangguran rakyat dan kebangkrutan perusahaan sudah dapat terlihat di berbagai negara besar dan kecil. Berbagai fiskal stimulus sudah dijalankan oleh pemerintah banyak negara, tetapi hasilnya akan sulit diprediksi. Sebaliknya, krisis moneter  diramalkan akan terjadi dimana-mana dan ini tentunya bisa membuat banyak negara yang dulunya sudah kurang stabil ekonominya untuk menjadi bangkrut. Dalam hal ini, tidaklah mengherankan adanya orang- orang yang merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakasih karena Ia mengizinkan atau bahkan memungkinkan semua ini terjadi. Dalam kesedihan atau kemarahannya, ada orang-orang Kristen yang kemudian goncang imannya dan bahkan mengalami gangguan kejiwaan.

Di Australia, diperkirakan gangguan kejiwaan yang dialami rakyat menghabiskan setengah juta dollar per hari sehubungan dengan ongkos perawatan dan kerugian ekonomi. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang dialami masyarakat di banyak negara maju. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat Barat hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat di saat ini, bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup, dan itu termasuk mereka yang harus tinggal di rumah (stay at home) selama berbulan-bulan, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka, tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub dalam ayat di atas sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”

Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati? Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendakNya.

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s