Kasih itu membenci ketidakadilan

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” 1 Korintus 13: 4 -6

Keadilan adalah bukti adanya kasih.

Sejak umur berapakah seorang anak bisa memprotes adanya ketidakadilan? Saya rasa sejak ia mulai bisa bicara, seorang anak bisa mengutarakan rasa tidak senangnya atas apa yang dirasakannya sebagai ketidakadilan. Mungkin itu dimulai dengan kata yang singkat seperti “tidak mau” yang kemudian berubah menjadi “tidak adil”. Serupa dengan itu, anak kecil yang berbahasa Inggris menyatakan rasa tidak senangnya dengan menjeritkan kata “no” sambil menggelengkan kepala, yang kemudian berubah menjadi kata “not fair“. Walaupun demikian, seorang anak mungkin hanya merasakan ketidakadilan yang dialaminya, bukan apa yang dirasakan orang lain.

Rasa ketidakadilan adalah fitur universal manusia, meskipun keadaan yang dianggap tidak adil dapat bervariasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Dengan demikian, untuk bisa merasakan ketidakadilan, seorang anak harus belajar tentang apa yang adil dan apa yang tidak adil. Apa yang terjadi dalam alam semesta kadang-kadang dapat membangkitkan pengertian tentang ketidakadilan, tetapi ketidakadilan biasanya dirasakan dalam kaitannya dengan tindakan manusia seperti penyalahgunaan, pelecehan, penelantaran, atau penyimpangan yang tidak sesuai dengan sistem hukum atau sosial dari masyarakat setempat. Rasa ketidakadilan bisa menjadi kondisi motivasi yang kuat, menyebabkan orang untuk mengambil tindakan, tidak hanya untuk membela diri mereka sendiri tetapi juga orang lain yang mereka anggap diperlakukan tidak adil.

Jika ketidakadilan bisa berubah-ubah dari lokasi ke lokasi yang lain menurut standar hukum dan sosial yang berlaku, orang Kristen seringkali mengalami dilema karena sekalipun pikiran bisa menerima apa yang dialami sebagai “keadilan” di lingkungannya, hati seringkali berbisik bahwa semua itu tidaklah adil. Roh Kudus agaknya bekerja dalam diri umat Kristen dan mengetuk pintu hatinya, sehingga ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang adil. Sayang sekali bahwa suara Roh Kudus dalam hati kita yang ingin menyatakan kebenaran Tuhan seringkali tertutup oleh jawaban pikiran kita yang mengatakan bahwa kita harus bisa menerima keadaan yang ada karena itu sudah seharusnya, atau karena tidak ada jalan lain yang bisa kita pilih. Dengan demikian, perlahan-lahan orang Kristen menjadi orang yang hanya menerima keadaan di sekitarnya sebagai ‘takdir’ atau “kehendak Tuhan”.

Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang mempunyai kasih yang datang dari Tuhan adalah orang yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak cukup untuk bersifat pasif dalam menghadapi ketidakadilan, tetapi sebaliknya harus mau berjuang untuk menegakkan kebenaran. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja menegakkan kebenaran hukum dan sosial. Terutama di negara dimana penguasa setempat tidak mendukung kebebasan rakyat untuk menyatakan pendapatnya. Dalam keadaan sedemikian, orang Kristen menjadi kurang mau membuka suara dan lambat laun kehilangan kepekaan akan apa yang adil dan apa yang tidak adil menurut firman Tuhan. Mereka dengan demikian tidak dapat menyatakan kasih dengan sepenuhnya kepada orang lain, dan karena itu lambat laun mereka menjadi kebal atas ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.

Pagi hari ini firman Tuhan berkata bahwa kasih dan keadilan tidaklah dapat dipisahkan. Dimana pun kita berada kita tidak boleh berhenti memikirkan apa yang baik dan apa yang tidak baik menurut firman Tuhan. Kita juga harus bisa dan mau mendiskusikan masalah ketidakadilan yang terjadi di lingkungan kita, baik yang terjadi di rumah, di kantor, di sekolah , di gereja dan juga dalam pemerintahan dan bahkan seisi dunia. Selain itu, kita harus rajin mempelajari firman Tuhan dan mau mendengarkan suara Roh Kudus untuk menegakkan kebenaran Tuhan di setiap saat.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s