Tetap waspada dalam segala keadaan

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. 1 Petrus 5: 7 – 8

Saat ini, Australia seperti banyak negara lainnya mengalami berbagai masalah yang cukup besar. Adanya pandemi sudah membuat ekonomi negara menjadi kocar-kacir, dan dalam hal pendidikan pun kekacauan sudah terjadi karena banyak murid sekolah lanjutan yang tidak dapat menerima pendidikan yang seharusnya. Untunglah, untuk tingkat universitas pendidikan tetap bisa berjalan secara online.

Dalam menghadapi persoalan besar, manusia bisa saja menyerah pada keadaan. Karena usaha yang tidak kunjung membuahkan hasil yang baik, orang kemudian kehilangan harapan dan kemudian tenggelam dalam rasa putus asa. Pada pihak yang lain, ada orang yang mencoba melupakan apa yang terjadi dengan melarikan diri dari kenyataan, dan mencari apa saja yang bisa dipakai untuk menghibur diri. Pada hakikatnya, kedua reaksi manusia di atas adalah pernyataan menyerah karena tidak adanya hal yang baik yang dilakukan.

Ayat di atas mengatakan bahwa kita harus mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kita. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Karena itulah, banyak orang Kristen memilih untuk menyerah pada keadaan daripada berserah kepada Tuhan. Mungkin anda bertanya apakah kedua tindakan ini berbeda. Tentu saja! Tuhan tidak menghendaki umatNya untuk menyerah. Tuhan menghendaki umatNya untuk menyerahkan rasa takut dan kuatir kita, selagi kita berjuang. Tuhan tidak juga menghendaki kita melarikan diri dari kenyataan dan tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan masa depan.

Menyerah adalah suatu kata yang seharusnya tidak ada dalam perbendaharaan kata orang Kristen. Itu karena mereka percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Dengan demikian, sekalipun hidup di dunia bisa menjadi sangat berat karena satu dan lain hal, orang yang beriman bisa tetap teguh karena mereka bisa menyerahkan diri kepada Tuhan dan bukan menyerah kepada keadaan. Kita tentunya ingat bahwa sewaktu umat Israel berperang melawan orang Filistin, semua tentara Israel merasa takut karena adanya Goliat yang tinggi besar. Hanya Daud yang berani menghadapi Goliat dan dengan perlindungan Tuhan kemudian dapat mengalahkannya.

Hidup ini memang penuh tantangan dan bahaya. Terutama karena iblis yang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Jika kita menyerah dan tidak berbuat apa-apa, sudah tentu kita akan menjadi korbannya. Jika kita melarikan diri, sang singa akan menerkam kita dari belakang. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Ayat di atas menulis bahwa kita harus sadar dan berjaga-jaga. Ini berarti kita harus bertindak dan bukannya pasif. Untuk bisa selalu sadar dan berjaga-jaga, kita membutuhkan kekuatan dan kebijaksanaan dari Tuhan. Kita harus sadar akan apa yang terjadi dalam hidup kita, dan berhati-hati melangkahkan kaki kita. Tidak lengah, apalagi tidur rohani. Sebaliknya, kita harus makin dekat dengan Tuhan dan taat kepada firmanNya. Berserah bukan berarti menyerah. Dengan demikian, kita bisa menghadapi hidup ini dengan keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan adalah yang membimbing kita ke arah kemenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s