Tuhan memberi kekuatan kepada yang lemah

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Ayat di atas adalah ayat yang terkenal, tetapi tidak mudah dimengerti. Mengapa Paulus menulis “Aku akan bersukacita atas kelemahanku”? Apakah pernyataan Paulus kepada jemaat di Korintus itu serupa dengan beberapa bentuk “sukacita” dalam penderitaan di bawah ini?

  1. “Aku bersukacita karena aku menderita’: Penderitaan adalah sesuatu yang bisa aku banggakan.
  2. “Aku bersukacita karena penderitaan yang kupaksakan pada diriku sendiri”: Aku berusaha membuat diriku menderita sedemikian rupa agar bisa menaikkan tingkat kerohanianku.
  3. “Aku bersukacita walaupun aku menderita”: Aku mampu menghadapi badai kehidupan dengan wajah tegar.
  4. “Aku bersukacita karena penderitaanku tidak seburuk orang lain”: Sejelek-jeleknya nasibku, aku masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan orang lain.

Jika dibandingkan dengan ucapan Paulus, empat bentuk sukacita di atas kelihatannya menunjukkan bahwa kita sanggup untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dalam kenyataannya, keadaan dunia di saat ini bisa membuat orang yang paling kuat untuk merasa lemah dan putus asa. Betapa besar bedanya dengan sukacita yang Paulus miliki!

Sukacita yang Paulus miliki berkata “Aku bersukacita di dalam penderitaan.” Penderitaan, bagi Paulus, justru adalah konteks dimana sukacitanya muncul. Mengapa? Karena sukacita Paulus bukanlah sukacita yang melihat ke dalam diri, atau bahkan membandingkan diri dengan orang lain.

Sukacita Paulus adalah sukacita di dalam Kristus, karena Yesus sudah menderita dan menyelamatkannya. Kesadaran bahwa Kristus telah bangkit dari kematian dan memerintah seisi alam semesta dari surga, justru bisa membuat Paulus selalu ingat akan besarnya kasih anugerah Tuhan dalam hidupnya.

Hidup ini memang tidak mudah dan terkadang penuh tantangan, masalah atau bahaya. Banyak orang yang dalam keadaan semacam itu akan berusaha untuk bertahan dan berjuang seorang diri, karena mereka berharap untuk bisa kuat dan menang dengan tenaga sendiri. Itu jugalah yang diajarkan para motivator terkenal di berbagai seminar. Tetapi, sebagai makhluk sosial tidak ada orang yang bisa survive dalam hidup ini tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Sayang sekali, seringkali tidak ada orang yang mengerti penderitaan kita, mau atau mampu menolong kita.

Bagi kita yang beriman, Juru Penolong yang sejati adalah Yesus Kristus. Bukannya khayalan, Yesus Anak Allah itu benar-benar datang dari surga ke dunia, mati menebus dosa manusia, tapi bangkit lagi pada hari yang ketiga. Hari ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah gembala kita yang sebenarnya. Yesus adalah Tuhan, Tuhan yang juga sudah menciptakan segala sesuatu, yang memelihara segala sesuatu dan yang dari mulanya mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ialah kebanggaan kita yang sesungguhnya, karena Ia bisa dan mau menolong mereka yang meyadari kelemahan mereka.

Dalam keangkuhan dan kebodohan kita tidak menyadari kuasa dan kasih Tuhan, tetapi dalam kelemahan kita bisa merasakan kuasaNya seperti apa yang dialami Rasul Paulus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s