Siapakah yang bisa dipercaya?

“Aku ini berkata dalam kebingunganku: “Semua manusia pembohong.” Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” Mazmur 116: 11-12

Suasana bisa memengaruhi perasaan, begitu kata orang. Suasana yang menyenangkan membuat hati gembira, tetapi suasana yang kacau membuat kita gelisah dan mungkin marah. Keadaan di saat pandemi ini memang dirasakan sangat menekan di mana saja, tetapi selalu ada saja orang yang melakukan hal-hal tercela demi kepentingan pribadi. Pada hari Sabtu yang baru lalu misalnya, ribuan orang melakukan demonstrasi di berbagai kota di Australia untuk menolak adanya lockdown. Beberapa bentrokan fisik antara demonstran dan polisi tidak dapat dihindari, sehingga beberapa polisi harus menerima perawatan di rumah sakit.

Keadaan pandemi ini memang sudah membuat masyarakat terpecah dalam beberapa kubu. Ada yang mendukung lockdown, ada juga yang anti. Begitu juga ada orang yang mendukung vaksinasi, tetapi ada pula yang anti. Setiap pihak berusaha meyakinkan pihak yang lain tentang apa yang mereka anggap sebagai “kebenaran” melalui berbagai cara, terutama melalui berita media. Mereka yang kurang mengerti akan keadaan setempat tentu saja makin bingung melihat pendapat-pendapat yang bertentangan, apalagi mengenai obat-obatan yang diklaim manjur. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang mencoba mengail di air keruh dengan menawarkan berbagai obat/cara untuk pencegahan atau penyembuhan Covid-19.

Pemazmur dalam ayat di atas jelas mengalami sesuatu yang membuat ia gundah. Dalam kebingungannya dia berkata bahwa tidak ada seseorang pun yang bisa dipercaya.  Apakah anda saat ini merasakan hal yang serupa karena adanya sesuatu yang terjadi dalam hidup, lingkungan atau di tempat kediaman anda? Barangkali anda marah atau gelisah atas terjadinya hal hal yang tidak adil atau bertentangan dengan kebenaran? Ataukah anda merasa kesal karena banyaknya orang yang mengabaikan bahaya penularan virus Corona dalam masyarakat?

Seperti pemazmur, kita mungkin merasa bahwa keadaan di sekeliling kita adalah sangat menakutkan atau menguatirkan. Pemazmur adalah manusia juga, sama seperti kita. Adalah lumrah jika sesekali kita mengalami frustrasi karena suasana di sekeliling kita.

“Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: “Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!” Mazmur 116: 3-4

Tetapi, sama seperti pemazmur, kita harus percaya akan Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itulah kita harus mengingat kasih Tuhan dan selalu, dengan tidak ragu, memohon pertolongan-Nya. Sekalipun mungkin banyak orang/tokoh yang tidak dapat dipercaya, Tuhan tetap bisa kita percayai untuk memimpin hidup kita. Bukankah Dia juga yang mengubah orang berdosa, yang tidak bisa dipercaya seperti kita, untuk dijadikan anak-anak-Nya?

“TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 5-7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s