Apakah Tuhan sengaja membuat orang jahat?

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya dan sudah memyebar ke seluruh penjuru dunia. Sudah banyak korban virus corona yang meninggal dunia, dan setiap orang agaknya mengenal atau tahu siapa yang sudah tidak lagi di dunia. Bagi umat Kristen, perginya orang yang dikasihi tentunya dirasakan sebagai hal yang sedih, tetapi adanya iman kepada Yesus Kristus membuat hati terhibur karena mereka yang percaya kepada-Nya pasti masuk ke surga.

Yang benar-benar membawa kesedihan adalah jika ada kerabat atau teman yang meninggal, yang dulunya terlihat baik dan mengaku “simpatisan Kristen”, tetapi belum mau atau sempat beribadah di gereja selama hidup mereka. Mungkin juga ada rasa sesal di hati kita karena kita tidak berhasil mengajak mereka untuk bergabung menjadi umat Kristen. Lebih dari itu, kita mungkin merasa bingung karena adanya orang yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap orang dan kehendak-Nya pasti terjadi. Kehendak yang bagaimana?

Ayat di atas sering dipakai oleh sebagian orang Kristen dalam pengajaran bahwa Tuhan menghendaki orang-orang tertentu untuk masuk ke surga dan orang lainnya untuk dibinasakan. Dalam istilah teologi, inilah yang disebut faham predestinasi ganda (double predestination). Bagi golongan yang bisa dikatakan ekstrim ini, kepercayaan ini sangat penting untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka adalah orang-orang terpilih dan Tuhan yang mahakuasa berhak untuk menolak orang-orang tertentu dari awalnya. Jika ada orang yang kemudian menganggap bahwa Tuhan adalah kejam, golongan ini menjawab bahwa Tuhan adalah kasih karena mereka sendiri yang seharusnya binasa, sudah dipilih untuk diselamatkan.

Terlepas dari populernya teologi predestinasi ganda di kalangan tertentu, semua orang Kristen di dunia memang seharusnya percaya bahwa Tuhan sudah memilih mereka. Tanpa bimbingan Tuhan tidak mungkin manusia bisa mengenal Dia. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang saat ini belum mau menjadi orang Kristen agaknya sudah dipilih Tuhan untuk ke neraka. Tidaklah mengherankan bahwa ayat di atas sudah menjadi bahan perdebatan di antara orang Kristen selama berabad-abad. Banyak orang Kristen yang menyatakan bahwa penekanan segi mahakuasa dari Tuhan oleh kelompok tertentu sudah mengesampingkan segi Tuhan lain yang sangat penting untuk keselamatan umat manusia yaitu mahakasih.

Ayat di atas dalam bahasa Ibraninya tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Bukan saja kata-kata Ibrani sering kali mempunyai beberapa arti, kitab Amsal sering menampilkan ayat-ayat yang mungkin tidak bisa diartikan secara literal. Dalam hal ini, pengertian yang lebih tepat dari ayat di atas agaknya sebagai berikut:

“TUHAN mengerjakan segala sesuatu agar menemui akhir yang semestinya, dan orang fasik pun akan menerima ganjaran yang setimpal.

Ini sejalan dengan apa yang tertulis di beberapa terjemahan Alkitab, seperti yang ada di New International Version (NIV).

The Lord works out everything to its proper end — even the wicked for a day of disaster.

Dengan demikian, ayat di atas bukanlah menyangkut penentuan Tuhan atas “nasib” manusia setelah meninggalkan dunia, tetapi hal tanggung jawab moral secara pribadi dari setiap orang kepada Tuhan selagi masih hidup dan sesudahnya.

Alkitab mengajarkan kedaulatan ilahi berdampingan dengan kehendak bebas. Tuhan ingin setiap orang untuk diselamatkan (Yohanes 3: 16), tetapi tidak semua orang mau menerima uluran tangan Tuhan. Karena itu, pada akhirnya orang yang tetap hidup dalam kefasikan seharusnya tidak terkejut ketika Tuhan memberikan hukuman-Nya. Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku dan terlihat sebagai orang Kristen akan diselamatkan. Mereka yang menyangka bahwa mereka sudah dipilih Tuhan tetapi secara sengaja tetap menjalani hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan akan ditolak-Nya. Memang tidak ada orang yang tidak berdosa, yang tidak perlu mengambil keputusan untuk bertobat.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Hari ini, kita patut merenungkan bahwa Tuhan menghendaki setiap orang agar mau mendengar suara-Nya dan bertobat dari hidup lamanya sehingga darah Yesus bisa menebus segala dosanya. Tuhan yang mahakasih tidak menentukan dari awalnya agar sejumlah orang untuk ke neraka, tetapi Ia yang mahakasih akan bersukacita jika satu orang mau bertobat dan menjadi umat-Nya.

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” Lukas 15: 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s