Injil membawa kabar buruk

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Roma 3: 12

Siapakah yang tidak mengingini tubuh yang sehat? Tentunya semua orang tidak mau jatuh sakit. Karena itu banyak orang yang sebenarnya sakit tetapi tidak mau mengaku sakit. Apalagi orang-orang yang terjangkit penyakit menular seperti Covid19 sering merasa bahwa mereka bisa dikucilkan, dimusuhi atau dibenci orang lain. Karena itu, mereka yang sakit apa pun sering kali lebih suka untuk minum “obat” pilihan sendiri. Ada juga orang yang sakit serius, tidak tahu kalau sakit dan tidak pernah ke dokter karena hidupnya sibuk . Selain itu ada juga orang sakit yang tidak mau mengaku sakit karena takut sakit. Ada pula yang merasa sehat karena melihat banyak orang lain yang jauh lebih tidak sehat jika dibandingkan dengan dirinya.

Beberapa tahun yang lalu saya sendiri pernah mengalami masalah kesehatan yang serius. Pada hari itu saya masih sempat berolahraga pagi hari dengan bersepeda mengelilingi sebuah taman yang sukup besar di sebelah barat kota Sydney. Di kantor, saya tiba-tiba merasa mual luar biasa sehingga saya harus minta izin untuk pulang. Di rumah, keadaan saya makin buruk sehingga seorang teman membawa saya ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan yang teliti. Sorenya, saya menerima kabar buruk bahwa usus buntu saya sudah pecah. Hanya melalui operasi dan perawatan rumah sakit selama dua minggu kemudian bisa sembuh.

Memang kabar buruk ada di mana-mana dan bisa muncul secara tiba-tiba. Tetapi jika kabar buruk itu menimpa diri kita sendiri, kita akan bisa kaget dan bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi. Kepercayaan pada diri sendiri bisa goncang karena kita tidak dapat menghindarinya. Bagaimana tidak? Jika saya masih sanggup berolahraga pada pagi hari itu, saya harus mengalami operasi pada hari yang sama. Itu setelah dokter menyampaikan kabar buruk kepada saya: jika tidak dioperasi keadaan saya akan memburuk dan bisa berubah fatal.

Pada waktu Yesus menjumpai para pemungut cukai dan orang-orang yang dimusuhi masyarakat, Ia memutuskan untuk makan bersama orang-orang itu (Markus 2: 14-16). Ketika para ahli Taurat dan kaum Farisi melihat hal itu, mereka menjadi tidak senang hati karena bagi mereka, orang pemungut cukai dan orang berdosa adalah seperti orang yang mempunyai penyakit menular yang harus dihindari. Tetapi Yesus dengan tepat menjawab bahwa seperti seorang tabib yang datang untuk orang yang sakit, Ia datang bukan untuk orang yang benar, tetapi untuk orang berdosa.

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Jika kita meneliti jawaban Yesus itu, mungkin kita bertanya-tanya apakah Ia datang untuk membawa kabar baik untuk para pemungut cukai itu, yaitu kabar keselamatan dari surga? Mungkinkah Yesus sebenarnya bermaksud untuk menjelaskan bahwa Ia datang untuk semua umat manusia? Benar! Tetapi Ia datang juga untuk membawa kabar buruk: bahwa semua orang sudah berdosa dan patut dihukum mati.

Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Matius 4:17

Walaupun demikian, tidak semua orang merasa atau mau menerima kabar buruk itu, yaitu kenyataan bahwa mereka adalah orang berdosa sekalipun terlihat sebagai “orang baik”. Seperti orang sakit, banyak juga orang yang tidak menyadari, tidak peduli atau tidak mau mengakui bahwa mereka adalah orang yang membutuhkan seorang Juruselamat. Seperti masalah kesehatan, sering kali, orang merasa bahwa hidup mereka masih lebih baik daripada orang lain dan karena itu tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Banyak orang Kristen yang menyebut bahwa Injil adalah kabar baik.Tetapi sebenarnya Injil dimulai dengan kabar buruk bahwa manusia tidak sadar bahwa mereka adalah orang yang berdosa dan sakit rohaninya, dan karena itu membutuhkan pertolongan. Biarpun hidup jasmani kita terasa nyaman dengan segala kekayaan, ketenaran, kedudukan dan kekuasaan dan bahkan dengan kesehatan tubuh yang prima saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa menolong kita dalam hal hidup suci yang sesuai dengan perintah Tuhan. Semua orang seharusnya mengalami maut sebagai hukuman atas dosa mereka.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Semua orang tidak dapat memenuhi syarat kesucian dan hidup baik menurut standar Allah, dan karena itu semua orang harus menerima kabar buruk bahwa mereka akan menemui hukuman Tuhan, yaitu kematian abadi. Barangsiapa benar-benar percaya akan kabar buruk dari Yesus dan bertobat dari hidup lamanya akan memperoleh kabar baik bahwa dosa mereka akan dicuci bersih oleh darah Kristus. Lebih dari itu, jika mereka benar-benar mau menyerahkan hidup mereka kepada Yesus, mereka akan menerima bimbingan Roh Kudus sehingga makin lama hidup mereka akan makin dipenuhi kasih Kristus. Dengan demikian, mereka akan lebih mampu untuk membagikan kasih Kristus itu kepada orang lain yang belum sempat atau mau untuk menjumpai Sang Juruselamat.

Barangkali sebagai orang Kristen kita rajin ke gereja. Tetapi jika hidup kita di luar gereja tidak sejalan dengan firman Tuhan, kita mungkin masih tergolong orang yang sakit. Memang ada banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa karena mereka mengaku Kristen, sudah tentu hidup mereka berkenan kepada Tuhan. Tetapi, ayat pembukaan kita mempertanyakan keyakinan kita: Siapakah dapat berkata bahwa ia telah membersihkan hatinya, dan yakin bahwa ia bersih dari dosanya?

Alkitab menyebutkan bahwa semua orang dalam pandangan Tuhan adalah orang berdosa, seperti orang-orang yang sakit yang memerlukan perawatan dokter. Setiap orang dengan demikian membutuhkan kesembuhan rohani melalui penebusan darah Kristus dan pemeliharaan-Nya setiap hari. Mereka yang sudah merasa pernah menerima Yesus dan kemudian dengan sengaja melupakan-Nya dalam hidup sehari-harinya, tidaklah berbeda dengan orang yang sudah merasa sehat untuk selamanya setelah menemui seorang dokter.

Hari ini, biarlah kita mau meneliti hidup kita. Maukah kita mengakui bahwa untuk dapat disembuhkan dari penyakit kronis rohani yang kita alami, kita harus mau menerima kabar buruk dan datang bersujud kepada Kristus untuk meminta pengampunan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s