Kapan derita ini akan berlalu?

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12: 10

Menjelang akhir tahun 2021, banyak orang yang berharap akan redanya, dan bahkan lenyapnya, pandemi Covid-19. Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Varian baru yang dinamakan Omicron sekarang mulai muncul di berbagai negara, yang menyebabkan kembalinya berbagai bentuk PPKM atau lockdown. Semua orang ingin bebas melakukan segala aktivitas kehidupan, tetapi setelah hampir dua tahun situasi pandemi di dunia belum juga teratasi. Hal ini membuat banyak orang menjadi kuatir dan tertekan hidupnya.

Memang jika kita tahu bahwa kita belum juga bisa mempunyai kebebasan yang kita harapkan, rasa kecewa atau sedih mungkin timbul. Tetapi tentunya kita harus bersyukur bahwa dengan ditemukannya sejumlah vaksin, risiko serangan virus corona bisa diperkecil; dan karena itu kita sudah bisa melakukan apa yang perlu dalam batas-batas tertentu. Walaupun demikian, banyak juga orang yang sampai saat ini masih belum bisa mendapatkan kesempatan untuk itu karena berbagai hal.

Bukan saja menghadapi akibat pandemi, pada umumnya setiap orang pernah mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan selama hidup. Itu lumrah karena semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan harus hidup di dunia yang tidak sempurna. Tetapi jika umat Kristen mengalami penderitaan karena hal-hal yang nampaknya “tidak adil”, pertanyaan mungkin timbul di hati kita, mengapa hal-hal yang sedemikian terjadi pada anak-anak Tuhan. Bukan hanya kelemahan tubuh, penyakit, dan kesukaran hidup, tetapi juga bahaya dan penganiayaan dialami oleh banyak orang Kristen di dunia. Menjadi Kristen memang dalam kenyataannya tidak akan menghilangkan persoalan hidup, dan persoalan hidup malah justru sering muncul karena adanya iman kepada Tuhan, karena kita harus menuruti perintah Tuhan.

Ada orang Kristen yang memiliki mata rohani yang tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat adanya bimbingan Tuhan dalam segala kesulitan. Untuk mereka, kehidupan adalah baik jika mereka bisa berbuat apa yang mereka maui. Mereka dapat hidup dalam kebebasan yang semu sampai tiba saatnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena mereka tidak mempunyai Tuhan, bagi mereka tidak ada harapan dan penghiburan dalam kesulitan. Karena itu, sebagian orang yang tidak benar-benar mau dibimbing Tuhan lebih suka untuk mengabaikan adanya persoalan dalam hidup mereka.

Hari ini, Rasul Paulus sebagai rasul menceritakan bahwa dalam hidupnya ada sesuatu masalah kesehatan yang membuat ia sangat menderita. Ia sudah memohon tiga kali kepada Tuhan untuk mendapat kelepasan, tetapi jawaban Tuhan bukanlah seperti yang diharapkannya.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a

Sebab itu, bukannya menyesali keadaannya, Paulus malahan bersyukur dalam kelemahannya, supaya ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Seperti Paulus, kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu dibimbingnya untuk menjadi makin dewasa dan makin kuat dalam iman. Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kelemahan dan berbagai persoalan; tetapi bagi kita yang mau dibimbing Tuhan, kesadaran bahwa hidup kita adalah bergantung kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih adalah bagaikan obat yang memberi harapan dan kekuatan di dalam kesulitan. Biarlah kita makin bisa berserah kepada Tuhan dalam mengakhiri tahun ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s