Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam perang?

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Matius 5: 38-42

Saat ini pusat perhatian media sudah berubah, dari pandemi menjadi peperangan di Eropa. Serangan Rusia terhadap negara tetangganya, Ukraina, memunculkan pertanyaan lama tentang pandangan Kristen terhadap perang. Pertanyaannya sangat kompleks karena sulit untuk melihat bagaimana perang bisa konsisten dengan konsep Alkitab tentang pengampunan, kesabaran, dan kasih. Penekanan ini mungkin paling menonjol dalam khotbah di bukit, di mana Yesus menyebutkan ayat-ayat di atas.

Mempraktikkan ayat-ayat di atas tidaklah mudah. Jika kita sulit melaksanakannya dalam kehidupan rumah tangga, lebih sulit lagi dalam kehidupan bernegara. Apakah ajaran Yesus bahwa kita harus memberikan pipi yang lain dan mengasihi musuh kita berarti bahwa tindakan berperang selalu salah? Haruskah dunia menyerah kepada Hitler dan mencoba mencintainya? Atau apakah Yesus mengizinkan kita untuk mengasihi musuh kita dan sekaligus, dalam situasi tertentu, menggunakan kekerasan untuk menghentikan kejahatan yang mengancam jiwa?

Teori Perang yang Adil (Just War Theory) menentukan keadaan apa yang boleh dipakai untuk alasan berperang, dan cara bagaimana perang harus dilakukan. Teori ini adalah bagian dari filsafat Kristen yang mencoba untuk menyatukan tiga hal:

  • Tindakan mengambil nyawa manusia adalah sangat salah.
  • Setiap negara memiliki kewajiban untuk membela warganya, dan membela keadilan.
  • Untuk melindungi kehidupan manusia yang tidak bersalah dan mempertahankan nilai-nilai moral yang penting, terkadang sebuah negara harus menggunakan kekuatan dan kekerasan.

Meskipun dikembangkan secara ekstensif oleh para teolog Kristen, teori ini dapat digunakan oleh orang-orang yang beragama lain. Sayang sekali, dalam kehidupan gerejani hal ini jarang dibahas.

Tujuan dari Just War Theory adalah untuk memberikan panduan yang tepat bagi negara untuk bertindak dalam konflik yang muncul di dunia. Pemahaman etika ini hanya berlaku untuk negara, dan tidak untuk individu (walaupun individu dapat menggunakan teori ini untuk membantunya guna memutuskan apakah secara moral ia dibenarkan untuk mengambil bagian dalam perang tertentu). Just War Theory menyediakan kerangka kerja yang berguna bagi individu dan kelompok manusia untuk digunakan dalam diskusi mereka tentang adanya perang dan kemungkinan terjadinya perang.

Doktrin Perang yang Adil sebenarnya dapat menyesatkan seseorang untuk berpikir bahwa karena perang itu adil, sebenarnya itu adalah hal yang baik. Namun di balik teori perang apa pun terletak gagasan bahwa perang selalu buruk. Perang yang adil diperbolehkan karena itu adalah kejahatan yang dianggap lebih ringan, tetapi tetap saja kejahatan. Teori ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan perang atau memilihnya, tetapi untuk mencegahnya. Dengan menunjukkan bahwa berperang kecuali dalam keadaan terbatas tertentu adalah salah, sebuah negara dapat dimotivasi untuk menemukan cara lain untuk menyelesaikan konflik.

Prinsip-prinsip Perang yang Adil berasal dari filsuf Yunani dan Romawi klasik seperti Plato dan Cicero dan ditambahkan oleh para teolog Kristen seperti Agustinus dan Thomas Aquinas. Ada dua bagian dari teori ini, keduanya dengan nama Latin:

  • Jus ad bellum: kondisi di mana penggunaan kekuatan militer dibenarkan.
  • Jus in bello: bagaimana melakukan perang secara etis.

Perang hanyalah Perang yang Adil jika keduanya benar, jadi baik tujuan dan cara harus dilakukan dengan benar. Beberapa perang yang diperjuangkan untuk tujuan mulia dianggap tidak adil karena cara mereka berperang.

Membiarkan seseorang membunuh ketika kita memiliki kemampuan untuk menghentikan tindakan itu, sepenuhnya bertentangan dengan kesadaran moral kita. Jika seorang yang berwujud seperti Hitler sedang bergerak dan berusaha untuk menundukkan dunia dan menghancurkan seluruh kelompok etnis tertentu, adalah salah jika kita tidak menentangnya dengan kekerasan (yang terkadang merupakan satu-satunya metode yang efektif). Memang benar bahwa perang itu sendiri berbahaya dan tragis; tetapi pasifisme (anti perang) akan menghasilkan lebih banyak kerusakan pada dunia karena hal itu akan membuat orang-orang jahat bebas berkuasa. Karena itu, sebuah negara yang segan untuk berpihak pada negara yang benar, sebenarnya sudah melakukan hal yang salah.

Paulus pernah menulis bahwa Tuhan memberikan pemerintah hak untuk menggunakan kekuatan untuk menahan dan menghukum kejahatan:

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Di sini Paulus menegaskan hak pemerintah untuk menggunakan kekerasan dalam dua cara. Pertama, dia mengatakan bahwa itu “tidak percuma pemerintah menyandang pedang.” Kedua, ia menyatakan bahwa pemerintah adalah “hamba Allah” ketika melakukan pembalasan terhadap pelaku kejahatan.

Satu hal yang perlu diingat adalah perbedaan antara gereja dan negara. Orang Kristen berperang bukan sebagai duta gereja atau atas nama gereja, tetapi sebagai wakil negaranya. Gereja tidak boleh menggunakan kekerasan (Yohanes 18:36), tetapi pemerintah kadang-kadang boleh (Yohanes 18:36; Roma 13:3-4; dll.). Jadi orang Kristen tidak boleh ikut berperang sebagai wakil agama, tetapi sebagai utusan pemerintah negaranya. Keduanya pada akhirnya berada di bawah otoritas Tuhan, tetapi masing-masing memiliki peran yang berbeda.

Sekarang, apa yang harus kita ambil dari perintah radikal Yesus dalam Matius 5: 39-41? Jangan melawan orang yang jahat; tetapi siapa pun yang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu juga padanya. Dan jika ada yang ingin menuntutmu, dan ambil bajumu, biarkan dia mengambil mantelmu juga. Dan siapa pun yang memaksamu untuk pergi satu mil, pergi dengan dia dua mil. Bagaimana ini cocok dengan apa yang telah kita lihat di atas?

Pertama, kita perlu mengklarifikasi apa masalahnya. Masalahnya bukanlah bahwa Yesus tampaknya menyuruh kita untuk berbaring dan membiarkan kejahatan menguasai kita. Jelas bukan itu yang Dia katakan. Sebaliknya, Yesus mengajar kita agar “jangan kalah terhadap kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Tentunya kita semua telah melihat kebijaksanaan kata-kata Yesus ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sering kali, cara paling efektif untuk mengatasi kejahatan adalah dengan tidak melawan. Jika seseorang mengatakan kata-kata kasar, jauh lebih efektif untuk menanggapinya dengan kebaikan daripada dengan kata-kata kasar lainnya sebagai balasannya. Jika seseorang mencoba memotong anda di jalan tol, biasanya yang terbaik adalah membiarkan mereka melakukannya. Jika kita mau mempelajari prinsip-prinsip ini, hidup kita akan jauh lebih damai.

Dalam melakukan kewajiban militer, seorang prajurit Kristen harus berusaha untuk mencintai lawannya dalam perannya sebagai manusia, mengingat bahwa ia berperang sebagai wakil dari pemerintah, bukan sebagai individu pribadi. Saat berperang, kita perlu melihat orang-orang dalam kelompok tentara/teroris berada di dua tingkat, pribadi dan pemerintah. Dalam tingkat pribadi, seorang prajurit harus mendoakan dan mencintai prajurit lawan. Dalam tingkat pemerintah, seorang prajurit berperang melawan musuh – bukan sebagai individu pribadi, tetapi sebagai perwakilan pemerintah. Ini mirip sebuah tim sepakbola yang bertanding melawan tim negara lain. Dalam pertandingan mereka saling bermusuhan tetapi sebagai individu mereka tidak boleh membenci lawannya. Ini tentunya tidak mudah dilakukan dalam sebuah peperangan, tetapi harus dipegang sebagai prinsip kekristenan kita dalam peperangan.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43-44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s