“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Paulus menulis dalam Roma 3:28, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Sedangkan Yakobus menuliskan dalam Yakobus 2:24, “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Kedua ayat ini sering kali dipertanyakan, karena sepintas seolah-olah seperti bertentangan. Paulus menyatakan bahwa manusia dibenarkan karena iman sedangkan Yakobus berkata manusia dibenarkan karena perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Yang harus kita percaya dan mengerti adalah bahwa Firman Tuhan tidak ada yang bertentangan satu sama lainnya. Kanon Alkitab adalah sebuah keselarasan yang sempurna dan sudah teruji. Yang kita butuhkan adalah pemahaman yang baik dan utuh untuk bisa melihat bahwa sebetulnya Yakobus tidak menentang Paulus, tetapi sebaliknya justru mendukung Paulus.
Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang di bahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.
Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekuensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.
Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk memercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai.
Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugas-Nya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepada-Nya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolak-Nya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.
Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita. Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.
Firman di atas mengingatkan kita bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita kan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan.
Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22
Seperti yang dijelaskan dalam kitab Roma, manusia dibenarkan karena iman. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus itulah yang membenarkan dan menyelamatkan seseorang. Ditegaskan juga dalam Yohanes 3:16: “… supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kejadian 15:6 menyatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.“ Jelas bahwa karena Abraham percaya maka Abraham dibenarkan.
Yakobus pun mengutip Kejadian 15:6 di dalam suratnya di Yakobus 2:23. Yakobus sama sekali tidak menentang pernyataan Paulus mengenai keselamatan oleh karena iman. Yakobus justru menekankan dan menjelaskan iman seperti apa yang menyelamatkan itu. Iman sejati yang dibuktikan melalui perbuatan. Iman yang nyata, bukan sekadar ucapan mulut seseorang yang mengaku percaya tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukti dari sebuah perkataan adalah tindakan, demikian juga bukti dari peryataan iman adalah tindakan iman. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus akan terlihat imannya melalui perbuatan yang dia lakukan!