Jika kenal mengapa acuh tak acuh?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Apakah anda masih kenal dengan teman-teman SD anda? Bagi setiap orang, waktu sudah berjalan cepat dan karena itu mungkin tidak ada orang yang ingat siapa saja yang pernah dikenalnya di masa kecil. Lama tak jumpa membuat orang sulit mengingat nama mereka yang pernah sekelas atau yang pernah bermain bersama. Jika pun ada kesempatan bertemu lagi, terkadang rasa ragu mungkin membuat seseorang tidak acuh terhadap orang-orang yang mungkin pernah dikenalnya.

Jika lama tak jumpa membuat hubungan antar manusia menjadi renggang, lama tak berbakti kepada Tuhan membuat orang lupa untuk memuliakan Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Oleh sebab itu, pelan-pelan pikiran mereka tidak lagi diisi hal-hal yang sesuai dengan firman Tuhan. Hidup berjalan terus, dan secara lambat tetapi pasti, mereka tidak dapat merasakan perlunya untuk mengenal Tuhan. Tidak dapat ditolak bahwa kenyataan menunjukkan bahwa mereka sudah meninggalkan iman yang dulunya ada.

Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dialami dan dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma 2000 tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil untuk zaman sekarang. Betapa tidak? Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal  yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam beberapa negara kepercayaan kepada Tuhan itu digembar-gemborkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh rakyatnya mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik.

Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan.  Karena itu ada banyak orang yang merasa kenal akan Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan”  yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Tuhan yang tidak dikenal.

Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Sekalipun hidup mereka terlihat baik, pengenalan akanTuhan bukan dibuktikan dengan adanya kehidupan yang penuh kenyamanan yang bisa disombongkan.

Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama. Tuhan menghendaki hubungan rohani yang didasari rasa hormat dan syukur dari setiap umat-Nya pada setiap saat. Tuhan bukan hanya untuk dipuja melalui apa yang diakui mulut, tetapi cara hidup manusia hari lepas hari dan secara keseluruhan.

Hari ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan memberikan pengertian secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan dapat melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dengan pengampunan-Nya, kita harus mau  mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan.

Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik untuk sesama dan keinginan kita untuk berbakti kepada Tuhan adalah tanda bahwa hidup kita sudah diubah-Nya dan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s