Kebenaran tidak bergantung pada keajaiban

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22-23

Setiap hari kita bisa menjumpai banyak berita yang menunjukkan adanya berbagai penderitaan yang dialami manusia. Hati kita mungkin menjadi sedih jika kita membayangkan bahwa banyak di antara mereka yang tidak dapat memperoleh pertolongan baik untuk kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa dalam keadaan yang buruk bagaimanapun, kita bisa melihat Tuhan masih tetap bekerja baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menolong mereka yang menderita.

Memang kebutuhan manusia itu berbagai ragam adanya, dan sekalipun mereka yang kaya-raya tetap juga mempunyai berbagai hal yang masih mereka cari. Sering kali, dalam usaha untuk mencari apa yang sangat diperlukannya, manusia mengalami jalan buntu dan karena itu hanya bisa berharap akan adanya mukjizat. Sebagian menemukan “miracle” yang terjadi melalui datangnya pertolongan yang tidak disangka, melalui mukjizat, maupun kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh pikiran sehat manusia. Dan jika itu terjadi, manusia mungkin merasakan adanya keajaiban atau faktor keberuntungan.

Mereka yang selalu mengharapkan datangnya sesuatu yang luar biasa, sering kali terperangkap dalam hal-hal yang nampaknya spektakuler namun sebenarnya hanya sekadar bayangan atau impian saja. Karena harapan yang terlalu besar, apa pun yang muncul lebih mudah diterima sebagai manifestasi apa yang mereka inginkan. Serupa dengan efek plasebo dalam ilmu obat-obatan, apa yang mereka alami, baik dalam hal jasmani ataupun rohani hanyalah semu dan bersifat sementara saja.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dibahas. Yesus menyatakan bahwa hari terakhir banyak orang akan berseru kepada Dia dan mengaku bahwa mereka sudah membuat banyak keajaiban dalam nama-Nya. Pada waktu itulah Yesus akan menjawab bahwa mereka akan ditolak-Nya. Mengapa begitu? Penafsir Alkitab Matthew Henry menulis bahwa Kristus di sini menunjukkan bahwa kita tidak cukup mengakui Dia hanya dalam kata dan lidah. Sebaliknya, adalah penting untuk keselamatan kita bahwa kita percaya kepada Kristus, bertobat dari dosa, menjalani kehidupan yang kudus, dan saling mengasihi. Ini adalah kehendak-Nya, agar kita berhenti mengharapkan atau melakukan hal-hal iyang nampaknya ajaib, agar jangan sampai kita menipu diri kita sendiri, dan binasa selamanya, seperti yang dilakukan orang banyak.

Kata “kejahatan” dalam ayat itui merupakan indikator utama untuk mengenali kepalsuan para nabi palsu tersebut. Dalam Matius 7: 17-20, Yesus menyebutkan bahwa buah yang baik dihasilkan dari pohon yang baik. Sebaliknya buah yang tidak baik dihasilkan dari pohon yang tidak baik. Yang dimaksud dengan buah disini bukanlah hasil pekerjaan berupa kemampuan untuk “bernubuat, mengusir setan dan penyembuhan”, melainkan menujuk kepada “motivasi dan karakter pribadi”. Karena disini Yesus memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi nabi palsu itu dari sisi etika, bukan dari sisi doktrinal, maka para nabi palsu itu perlu diuji dengan memperhatikan buahnya, bukan pada tindakan supranatural yang mereka lakukan.

Mengapa orang Kristen bisa jatuh kedalam jerat mukjizat dan keajaiban palsu? Itu pada umumnya disebabkan oleh fokus kehidupan sehari-hari. Mereka yang memusatkan perhatian pada kekayaan, mengharapkan Tuhan membuat mukjizat dalam hal harta dan kesuksesan. Mereka yang selalu memikirkan hal kesehatan, mudah terperangkap dalam hal kesembuhan ilahi yang bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian pandangan mata rohani mereka menjadi sangat terbatas kemampuannya. Bagi mereka, kehadiran Tuhan hanya bisa terasa ada karena adanya mukjizat yang bisa mereka lihat atau alami. Secara doktrin, memang Tuhan bisa memberi kemampuan istimewa kepada orang-orang tertentu, tapi itu bukan berarti setiap orang yang bisa melakukannya adalah orang-orang yang diselamatkan.

Pagi ini, ayat di atas mengingatkan kita bahwa iblis adalah oknum yang pintar. Iblis bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang selalu bergantung pada mukjizat, dengan membuat berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu, dan dengan rupa-rupa tipu daya jahat. Tipu daya iblis pasti berhasil jika ada orang-orang yang masih tidak sadar bahwa mereka sudah menerima keajaiban terbesar yang sudah ditawarkan oleh Yesus Kristus, Anak Allah yang lahir di palungan, yaitu keselamatan jiwa mereka.

Mereka yang tidak berpegang pada kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka, akan tetap tinggal dalam kebodohan mereka dan menerima apa yang tidak ada gunanya di hadapan kemuliaan Tuhan. Kita harus sadar bahwa sekalipun kita tidak melihat tanda-tanda ajaib dengan mata kita, keajaiban yang terbesar sudah terjadi pada diri kita. Karena itu, biarlah kita selalu sadar bahwa:

  • Iman kita tidak berlandaskan pada mukjizat, tetapi berlandaskan pada Yesus.
  • Kita tidak memuliakan mukjizat, tetapi memuliakan Tuhan.
  • Kita tidak mencari mukjizat, tetapi mencari kehendak Tuhan.
  • Kita tidak memasyhurkan mukjizat, tetapi memasyhurkan nama Tuhan.

Semoga kita tetap berfokus pada dasar iman yang benar!

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” 2 Tesalonika 2: 9 – 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s