“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103:2

Semakin bertambah usia, semakin banyak orang mulai akrab dengan kata “lupa.” Lupa menaruh kunci. Lupa nama seseorang. Lupa janji kecil yang tadi pagi masih diingat. Kadang bukan karena penyakit serius, tetapi karena tubuh dan pikiran memang sudah lelah. Kesibukan hidup, tekanan pekerjaan, kurang tidur, atau usia yang terus berjalan membuat daya ingat manusia tidak lagi sekuat dahulu.
Dan itu manusiawi.
Alkitab tidak pernah menuntut manusia menjadi sempurna secara fisik. Kita diciptakan dari debu tanah, dengan keterbatasan yang nyata. Bahkan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab pun mengalami kelemahan, keletihan, dan pergumulan batin. Tetapi ada satu jenis “lupa” yang Tuhan ingatkan dengan sangat serius: lupa kepada Tuhan dan segala kebaikan-Nya.
Daud berkata kepada dirinya sendiri, “Janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Menarik bahwa Daud berbicara kepada jiwanya sendiri. Ia seperti sedang menasihati hatinya agar tidak kehilangan fokus. Sebab sering kali masalah terbesar dalam hidup bukanlah kita tidak tahu Tuhan baik, melainkan kita terlalu mudah melupakan kebaikan-Nya ketika tekanan hidup datang.
Bangsa Israel mengalami hal itu berulang kali. Mereka melihat laut terbelah. Mereka makan manna dari langit. Mereka dipimpin tiang awan dan tiang api. Tetapi ketika menghadapi kesulitan baru, mereka kembali bersungut-sungut. Ketakutan membuat mereka lupa bahwa Tuhan yang menolong kemarin masih sanggup menolong hari ini.
Bukankah kita juga sering demikian?
Saat doa dijawab, kita bersukacita. Saat keadaan baik, kita mudah memuji Tuhan. Tetapi ketika sakit datang, ekonomi terguncang, keluarga bermasalah, atau masa depan terasa gelap, hati mulai dipenuhi kecemasan. Sedikit demi sedikit, ingatan tentang kesetiaan Tuhan tertutup oleh besarnya persoalan.
Lupa secara rohani sebenarnya jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya dimulai perlahan. Hati menjadi terlalu sibuk. Pikiran terlalu dipenuhi kekhawatiran. Dunia terasa lebih nyata daripada janji Tuhan. Akhirnya kita hidup seolah-olah harus menanggung semuanya sendiri.
Karena itu Daud tidak berkata, “Ingatlah Tuhan hanya saat ibadah.” Ia berkata kepada jiwanya sendiri untuk terus memuji dan terus mengingat. Mengingat dalam pengertian Alkitab bukan sekadar aktivitas otak, tetapi tindakan hati. Mengingat berarti membawa kembali kesetiaan Tuhan ke pusat pikiran dan kehidupan kita.
Itulah sebabnya penting untuk memiliki “mezbah syukur” dalam hidup. Ada orang yang menulis jurnal doa. Ada yang menyimpan catatan tentang pertolongan Tuhan. Ada yang mengingat tanggal-tanggal penting ketika Tuhan membuka jalan yang mustahil. Semua itu bukan sekadar nostalgia rohani, tetapi cara menjaga hati agar tidak lupa.
Pujian juga menolong kita mengingat. Memuji Tuhan saat keadaan baik memang mudah. Tetapi memuji Tuhan di tengah badai adalah tindakan iman. Ketika mulut tetap bersyukur walau mata masih melihat masalah, jiwa sedang diarahkan kembali kepada kebenaran bahwa Tuhan tetap bekerja.
Selain itu, Tuhan memberi komunitas iman agar kita saling menguatkan. Kesaksian sederhana dari orang lain kadang menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa Tuhan belum meninggalkan umat-Nya.
Mungkin hari ini ada hal-hal yang mulai Anda lupakan karena usia atau kelelahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Kita semua manusia yang terbatas. Tetapi mintalah agar hati kita jangan sampai melupakan Tuhan. Sebab selama hati tetap mengingat kasih dan kesetiaan-Nya, hidup tidak akan kehilangan arah.
Tubuh boleh melemah. Ingatan manusia boleh memudar. Tetapi jiwa yang terus melekat kepada Tuhan akan tetap menemukan pengharapan baru setiap hari.
Doa Penutup
Tuhan, kami mengaku bahwa hati kami sering lebih mudah mengingat masalah daripada mengingat kebaikan-Mu. Di tengah kesibukan, kekhawatiran, dan pergumulan hidup, tolong kami agar jangan melupakan kasih dan kesetiaan-Mu. Ajarlah kami memiliki hati yang terus bersyukur, bahkan di saat sulit sekalipun. Ketika tubuh dan pikiran kami melemah, biarlah jiwa kami tetap melekat kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.