Mengapa Tuhan Melihat Segala Ciptaan-Nya Baik?

“ Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian‬ ‭1‬:‭31‬‬

Sesudah menciptakan langit, bumi, laut, tumbuhan, binatang, dan manusia, Tuhan memandang semuanya dan berkata, “Sungguh amat baik.” Itu berarti ciptaan pada awalnya berada dalam keharmonisan yang indah. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada kesalahan desain, tidak ada cacat dalam karya Allah. Semua berjalan sesuai tujuan-Nya.

Tetapi, ketika saat ini ada orang yang bertanya, “Mengapa dunia ini penuh penderitaan?” sebenarnya ada satu pertanyaan tersembunyi di baliknya: “Apakah dunia ini sejak awal memang buruk?” Alkitab menjawab dengan jelas: tidak. Dunia ini tidak dimulai dengan kegelapan moral, kebencian, penyakit, dan kematian. Dunia dimulai dari tangan Tuhan yang sempurna.

Kita sering lupa bahwa dunia yang kita lihat sekarang bukan lagi dunia seperti semula. Kita terbiasa dengan berita perang, wabah penyakit, pertengkaran keluarga, pengkhianatan, dan ketidakadilan sehingga seolah-olah itulah bentuk asli kehidupan. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa semua itu adalah akibat dari dosa yang merusak ciptaan Tuhan.

Karena itulah ada ketegangan dalam hidup manusia. Di satu sisi kita masih melihat keindahan ciptaan. Matahari terbit dengan teratur, burung bernyanyi, hujan menyuburkan bumi, bayi lahir dengan ajaib, dan tubuh manusia bekerja dengan kompleksitas yang luar biasa. Tetapi di sisi lain kita juga melihat dunia yang retak. Virus menyebar, tubuh sakit, manusia saling membenci, dan kematian datang tanpa diundang.

Beberapa tahun terakhir dunia diguncang oleh COVID-19. Ketika pandemi mulai mereda, manusia kembali mendengar tentang hantavirus dan berbagai ancaman penyakit lainnya. Banyak orang menjadi takut dan bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini ada?” Namun di balik ketakutan itu, kita juga diingatkan bahwa dunia ini memang sedang mengerang.

Virus dan penyakit menjadi tanda bahwa ciptaan tidak lagi berada dalam kondisi sempurna seperti semula. Tetapi bahkan di tengah semua itu, manusia masih dapat melihat hikmat Tuhan melalui kemampuan tubuh untuk bertahan, para tenaga medis yang melayani, ilmu pengetahuan yang berkembang, dan kasih manusia yang muncul di tengah penderitaan. Dunia telah jatuh, tetapi belum kehilangan seluruh jejak tangan Penciptanya.

Kadang orang juga bertanya, “Kalau Tuhan menciptakan segala sesuatu baik, mengapa ada nyamuk, bakteri, atau virus yang mematikan?” Pertanyaan itu muncul karena kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Banyak hal dalam ciptaan yang awalnya memiliki tempat dan fungsi yang baik, kini menjadi bagian dari dunia yang rusak. Alam yang dulu harmonis sekarang ikut “mengerang” karena akibat dosa manusia.

Namun menariknya, sekalipun dunia telah jatuh, sidik jari Tuhan masih terlihat di mana-mana. Bahkan dalam makhluk kecil yang tidak kasatmata, manusia menemukan keteraturan, desain, dan kompleksitas yang mengagumkan. Seorang ilmuwan dapat mempelajari sel, bakteri, atau sistem tubuh manusia dengan rasa kagum yang mendalam karena tetap adanya hubungan antara keberadaan dan fungsi masing-masing. Dunia belum kehilangan seluruh jejak kemuliaan Penciptanya.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan manusia. Tuhan menciptakan Hawa untuk menemani Adam. Manusia diciptakan untuk hidup dalam kasih dan persekutuan. Tetapi dosa membuat manusia saling melukai. Kadang tempat yang seharusnya penuh kasih justru menjadi tempat penuh luka: rumah tangga, keluarga, bahkan gereja. Kita merindukan hubungan yang sempurna, tetapi hati manusia telah rusak oleh dosa.

Meski demikian, kerinduan untuk dikasihi dan mengasihi tidak pernah hilang. Itu adalah sisa jejak gambar Allah dalam diri manusia. Hati kita tahu bahwa kebencian bukan keadaan yang seharusnya. Hati kita tahu bahwa dunia ini seharusnya lebih indah daripada sekarang.

Dan di situlah Injil menjadi kabar baik. Tuhan tidak membuang dunia yang rusak ini. Ia datang ke dalamnya melalui Yesus Kristus. Tuhan masuk ke dunia yang penuh air mata, penderitaan, dan kematian untuk menebus ciptaan-Nya. Salib Kristus menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerah kepada manusia yang jatuh.

Suatu hari nanti, Tuhan akan memperbarui langit dan bumi. Tidak akan ada lagi maut, tangisan, atau penderitaan. Dunia akan dipulihkan seperti yang Tuhan kehendaki sejak semula.

Sementara menunggu hari itu, setiap keindahan kecil yang masih kita lihat — kasih seorang ibu, pelukan seorang sahabat, suara burung di pagi hari, atau damai yang Tuhan berikan dalam doa — semuanya seperti bisikan lembut yang mengingatkan kita: ciptaan Tuhan memang pada awalnya baik, dan Tuhan masih terus bekerja di dunia ini: dalam diri, keluarga, gereja, masyarakat dan negara kita.

Doa Penutup:

Tuhan, terima kasih karena Engkau menciptakan dunia ini dengan baik dan indah. Walaupun dosa telah merusak banyak hal, tolong kami tetap melihat jejak kasih dan kemuliaan-Mu dalam kehidupan ini. Ajarkan kami berharap kepada-Mu di tengah dunia yang penuh luka. Pulihkan hati kami, hubungan kami, dan iman kami sampai hari Engkau menjadikan segala sesuatu baru. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar