Kuat dalam Kekurangan, Tetap Setia dalam Kelimpahan

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi‬ ‭4‬:‭13‬‬

Ayat ini sangat sering dikutip saat seseorang sedang susah, sakit, gagal, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi tekanan hidup. Memang benar, Tuhan memberi kekuatan kepada umat-Nya untuk bertahan dalam penderitaan. Rasul Paulus sendiri menulis ayat ini dalam keadaan yang tidak nyaman. Ia pernah lapar, dipenjara, dihina, dan hidup berkekurangan.

Namun sering kali kita lupa bahwa konteks ayat ini bukan hanya tentang bertahan dalam kesulitan, tetapi juga tentang hidup benar dalam kelimpahan.

Beberapa ayat sebelumnya Paulus berkata:

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan.” Filipi 4:12

Ternyata “segala perkara” bukan hanya soal menghadapi penderitaan, tetapi juga menghadapi kenyamanan, keberhasilan, kecukupan, bahkan kemakmuran. Dan justru di sinilah banyak orang jatuh.

Tidak semua orang kuat saat miskin, tetapi tidak sedikit juga yang gagal saat kaya. Ada orang yang tetap berdoa ketika sakit, tetapi mulai jarang berdoa ketika hidup menjadi mudah. Ada yang sangat bergantung kepada Tuhan ketika tidak punya apa-apa, tetapi mulai merasa mampu berdiri sendiri ketika segala sesuatu berjalan lancar.

Kenyamanan sering kali lebih berbahaya daripada penderitaan karena kenyamanan dapat membuat hati perlahan-lahan lupa kepada Tuhan tanpa disadari.

Bangsa Israel adalah contoh yang jelas. Ketika mereka berada di padang gurun, mereka berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi ketika masuk ke tanah yang berlimpah susu dan madu, hati mereka berkali-kali menyimpang. Musa bahkan sudah memperingatkan:

“Jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu.” Ulangan 8:11

Manusia berdosa memiliki kecenderungan aneh: saat susah kita mencari Tuhan, tetapi saat nyaman kita mulai merasa tidak terlalu membutuhkan-Nya.

Karena itu Filipi 4:13 sebenarnya adalah ayat tentang rahasia kecukupan rohani. Paulus belajar tetap setia dalam dua musim kehidupan: musim kekurangan dan musim kelimpahan. Ia tidak diperbudak oleh penderitaan, tetapi juga tidak mabuk oleh kenyamanan.

Ini bukan kekuatan mental biasa. Ini kekuatan dari Kristus.

Dunia mengajarkan bahwa kekuatan berarti kemampuan mengendalikan keadaan. Tetapi kekuatan rohani berarti tetap melekat kepada Kristus apa pun keadaan kita. Saat miskin tidak bersungut-sungut. Saat kaya tidak menjadi sombong. Saat gagal tidak putus asa. Saat berhasil tidak mencuri kemuliaan Tuhan.

Kadang-kadang ujian terbesar bukan ketika dompet kosong, melainkan ketika hidup terasa terlalu aman. Ketika doa mulai singkat karena semua kebutuhan terpenuhi. Ketika ibadah menjadi formalitas. Ketika hati lebih menikmati berkat daripada Sang Pemberi berkat.

Tidak mudah menjadi orang yang tetap rendah hati ketika dipuji. Tidak mudah tetap sederhana ketika berkecukupan. Tidak mudah tetap haus akan Tuhan ketika dunia terasa nyaman. Karena itu kita juga membutuhkan kekuatan Kristus dalam masa-masa baik.

Paulus tidak berkata, “Aku dapat menikmati segala perkara.” Ia berkata, “Aku dapat menanggung segala perkara.” Bahkan kelimpahan pun perlu “ditanggung” dengan hati yang dijaga Tuhan.

Orang percaya sejati bukan hanya dipanggil untuk bertahan dalam badai, tetapi juga tetap setia ketika laut terasa tenang.

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Amsal‬ ‭30‬:‭8‬‬

Doa Penutup

Tuhan, ajar kami untuk bergantung kepada-Mu bukan hanya saat susah, tetapi juga saat hidup terasa nyaman. Jagalah hati kami agar tidak melupakan-Mu ketika Engkau memberi kelimpahan. Berikan kami kekuatan untuk tetap rendah hati, setia, dan mengasihi-Mu dalam segala keadaan. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar