Mengapa Meminta Ampun Setiap Hari?

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
— 1 Yohanes 1:8-9

Ada orang yang bukan Kristen merasa bingung ketika mendengar doa orang percaya yang terus meminta pengampunan dosa. Mereka bertanya, “Bukankah Yesus sudah menebus dosa? Bukankah orang Kristen sudah menjadi ciptaan baru? Mengapa masih terus meminta ampun? Apakah agar mereka bisa berbuat dosa lagi?”

Pertanyaan itu sebenarnya sangat masuk akal bila dilihat dari luar. Banyak orang mengira bahwa setelah seseorang percaya kepada Kristus, ia akan langsung hidup sempurna tanpa pergumulan lagi. Ada juga yang menuduh bahwa orang Kristen adalah orang yang justru sering berbuat dosa. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa selama manusia masih hidup di dunia ini, pergumulan melawan dosa tetap ada.

Banyak orang yang merasa jarang berbuat dosa. Padahal, dosa bukan hanya tentang perbuatan besar seperti mencuri, membunuh, atau berzina. Dosa juga dapat muncul dalam perkataan yang melukai, dalam kemarahan yang tersembunyi, iri hati, kesombongan, ketamakan, pikiran yang kotor, atau sikap hati yang menjauh dari Tuhan. Bahkan kadang-kadang dosa muncul bukan dalam apa yang kita lakukan, tetapi dalam kebaikan yang seharusnya kita lakukan namun kita abaikan. Dan ini terjadi setiap hari pada setiap orang.

Karena itulah, berbeda dengan orang lain, orang percaya tetap datang kepada Tuhan setiap hari untuk meminta ampun. Bukan karena pengorbanan Kristus tidak cukup, tetapi karena mereka sadar bahwa mereka masih membutuhkan kasih karunia Tuhan setiap saat. Bukan karena orang Kristen takut akan adanya “karma”, tetapi karena mereka ingin untuk lebih dekat kepada Tuhan yang mahasuci.

Doa pengakuan dosa sebenarnya adalah tanda bahwa hubungan seseorang dengan Tuhan masih hidup. Orang Kristen sejati yang hatinya peka akan lebih mudah menyadari kesalahannya. Sebaliknya, hati yang mulai keras akan merasa dirinya selalu benar dan tidak lagi merasa perlu bertobat. Dan orang yang hatinya yang dingin tidak lagi menyadari perlunya berdoa.

Rasul Yohanes menulis bahwa jika kita berkata tidak berdosa, kita menipu diri sendiri. Ayat ini mengingatkan bahwa kerendahan hati adalah bagian penting dari kehidupan rohani. Tidak ada manusia yang dapat berdiri di hadapan Tuhan dengan kesombongan rohani atau ketidakpedulian.

Namun kabar baik dari Injil Tuhan tidak berhenti pada pengakuan dosa. Tuhan juga memberikan janji pengampunan. Ia setia dan adil untuk mengampuni dan menyucikan orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus. Betapa besar kasih karunia Tuhan kepada manusia yang lemah.

Menjadi ciptaan baru bukan berarti langsung sempurna, melainkan memiliki arah hidup yang baru. Dahulu manusia mencintai dosa dan hidup jauh dari Tuhan. Ia jarang berdoa dan minta ampun. Sekarang ia belajar membenci dosa dan kembali kepada Tuhan ketika jatuh. Dahulu ia membenarkan dirinya sendiri, sekarang ia belajar rendah hati dan bertobat. Dahulu ia sering menyalahkan keadaan atau orang lain untuk dosanya, sekarang ia mau bertanggung jawab.

Kehidupan orang percaya sebenarnya adalah perjalanan pengudusan seumur hidup. Tuhan sedang membentuk karakter kita sedikit demi sedikit. Kadang proses itu menyakitkan karena Tuhan menyingkapkan dosa-dosa yang tersembunyi dalam hati kita. Tetapi semua itu dilakukan-Nya supaya kita semakin serupa dengan Kristus.

Doa meminta ampun juga menjaga kita dari kesombongan rohani. Ketika seseorang merasa dirinya sudah cukup baik, ia mulai berhenti bergantung kepada Tuhan. Tetapi orang yang sadar akan kelemahannya akan terus mencari Tuhan dalam doa.

Daud adalah contoh yang indah. Walaupun ia disebut seorang yang berkenan di hati Tuhan, ia tetap datang dengan pertobatan ketika jatuh dalam dosa. Mazmur-mazmurnya penuh dengan seruan meminta belas kasihan Tuhan. Daud memahami bahwa manusia hanya dapat hidup oleh anugerah Allah.

Hari ini mungkin kita tidak melakukan dosa besar menurut ukuran manusia. Tetapi apakah hati kita penuh kasih? Apakah perkataan kita membawa damai? Apakah pikiran kita menyenangkan Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita kembali berlutut di hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, ampunilah aku dan ubahkanlah hidupku.”

Dan syukur kepada Tuhan, Ia tidak pernah menolak orang yang datang dengan hati yang hancur dan mau bertobat.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,
kami mengakui bahwa kami masih lemah dan sering jatuh dalam dosa, baik melalui perkataan, pikiran, maupun perbuatan kami. Ampunilah kami dan sucikanlah hati kami. Ajarlah kami untuk hidup dalam pertobatan setiap hari dan jangan biarkan hati kami menjadi keras atau sombong. Tolong kami agar semakin serupa dengan Kristus dan semakin membenci dosa. Terima kasih karena kasih karunia-Mu selalu tersedia bagi kami yang datang dengan hati yang tulus. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar