“Dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan…”
— Lukas 21:11

Ketika dunia melewati pandemi COVID-19, banyak orang mulai membaca kembali perkataan Tuhan Yesus tentang akhir zaman. Sekarang, ketika Ebola kembali muncul di beberapa wilayah dunia, sebagian orang kembali bertanya dengan cemas: apakah ini tanda kedatangan Tuhan sudah dekat? Adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada?
Memang, Yesus pernah memperingatkan bahwa sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali akan terjadi peperangan, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit. Dunia yang jatuh dalam dosa akan mengalami banyak goncangan. Manusia modern mungkin memiliki teknologi yang luar biasa, tetapi wabah penyakit tetap mengingatkan bahwa hidup manusia sesungguhnya rapuh.
Namun Yesus tidak menyampaikan semua itu supaya murid-murid-Nya hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, Ia ingin agar umat-Nya berjaga-jaga dan tetap setia. Dalam bagian yang sama, Yesus juga berkata, “Janganlah kamu takut.”
Sayangnya, ketakutan sering membuat manusia kehilangan keseimbangan. Ada orang yang begitu takut sehingga hidup dalam kepanikan terus-menerus. Tetapi ada juga yang bereaksi sebaliknya: menolak semua peringatan, mencurigai segala usaha medis, bahkan memusuhi ilmu pengetahuan.
Di masa pandemi COVID-19, dunia melihat perpecahan seperti itu. Sebagian besar orang Kristen mendukung pelayanan medis dan vaksinasi sebagai bentuk kasih kepada sesama. Tetapi ada juga yang menolak semua usaha kesehatan publik karena menganggapnya sebagai ancaman terhadap iman.
Kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada dua ekstrem:
- menuhankan sains,
- atau memusuhi sains.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa iman kepada Tuhan berarti menolak pengetahuan dan pengobatan. Lukas, penulis Injil Lukas, adalah seorang tabib. Dalam sejarah gereja, banyak rumah sakit dan pelayanan kesehatan justru lahir dari kasih Kristen kepada orang sakit dan miskin.
Tuhan sering bekerja melalui sarana biasa:
- dokter,
- perawat,
- ilmuwan,
- peneliti,
- obat-obatan,
- dan pelayanan kesehatan.
Menggunakan pengobatan bukan berarti kurang iman. Sama seperti seorang petani tetap menanam sambil berdoa meminta hujan, demikian pula orang percaya boleh berdoa memohon kesembuhan sambil memakai pertolongan medis yang tersedia. Orang Kristen bukanlah orang yang fatalis: yang pasrah kepada nasib.
Hal yang sama berlaku untuk kesehatan mental. Banyak orang menderita depresi, trauma, kecemasan, atau kelelahan jiwa. Mereka tidak membutuhkan penghakiman, tetapi belas kasihan. Kadang Tuhan menolong melalui doa dan firman, tetapi kadang juga melalui konseling, terapi, komunitas, dan pengobatan yang tepat.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hadir membawa pengharapan di tengah dunia yang terluka. Ketika wabah datang, gereja seharusnya bukan menjadi sumber ketakutan atau teori konspirasi, melainkan menjadi tempat kasih dan penghiburan.
Kita dipanggil untuk:
- memakai sarana pengobatan yang perlu
- mendoakan yang sakit,
- mendukung tenaga medis,
- menolong yang lemah,
- menjaga sesama dengan bijaksana,
- dan tetap memberitakan Injil keselamatan.
Karena pada akhirnya, penyakit terbesar manusia bukan hanya penyakit tubuh, tetapi dosa yang memisahkan manusia dari Allah. COVID-19, Ebola, dan berbagai wabah lain mengingatkan bahwa dunia ini tidak sempurna dan manusia membutuhkan Juruselamat.
Namun di tengah dunia yang gelap, orang percaya memiliki pengharapan. Kristus telah bangkit dan memegang sejarah dunia di tangan-Nya. Tidak ada wabah, perang, atau ketakutan yang dapat menggagalkan rencana Tuhan.
Karena itu, kita tidak hidup dalam kepanikan, tetapi juga tidak hidup dengan sembrono. Kita hidup dengan iman yang tenang, hati yang bijaksana, dan kasih yang nyata kepada sesama.
Doa Penutup
Tuhan Yesus,
Di tengah dunia yang penuh ketakutan, ajar kami untuk tetap tenang dan percaya kepada-Mu. Berikan kami hikmat agar tidak hidup dalam kepanikan, tetapi juga tidak menolak kebenaran dan pengetahuan yang dapat menolong manusia.
Tolong kami menjadi umat yang membawa kasih, pengharapan, dan penghiburan bagi mereka yang sakit dan menderita. Pakailah para dokter, perawat, peneliti, dan semua pelayan kesehatan sebagai alat pemeliharaan-Mu. Dan di atas semuanya, arahkan hati kami kepada Kristus, satu-satunya sumber keselamatan dan hidup kekal.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.