Tuhan dan Genetik Manusia

“Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”
— ‭‭Yohanes‬ ‭9‬:‭3‬‬

Ketika seseorang lahir dengan kelainan genetik, cacat bawaan, atau penyakit yang diwariskan dalam keluarga, sering muncul pertanyaan yang sulit dijawab: “Mengapa ini terjadi?” Tidak jarang pertanyaan itu berkembang menjadi tuduhan yang lebih menyakitkan: “Apakah ini hukuman Tuhan?” atau “Apakah ada dosa tertentu yang menyebabkan hal ini?”

Pertanyaan seperti itu sebenarnya bukan hal baru. Dua ribu tahun yang lalu, para murid Yesus juga memiliki pemikiran yang sama. Ketika mereka melihat seorang pria yang buta sejak lahir, mereka bertanya kepada Yesus, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Mereka beranggapan bahwa penderitaan pasti merupakan akibat langsung dari kesalahan seseorang.

Alkitab tidak mengatakan apakah orang yang buta sejak lahir itu mendengar percakapan antara Yesus dan para murid, tetapi jika ia mendengarnya, sangat mungkin pertanyaan itu akan terasa menyakitkan.

Bayangkan hidup sebagai seorang yang buta sejak lahir. Selama bertahun-tahun ia mungkin sudah menghadapi keterbatasan fisik, ketergantungan pada orang lain, dan pandangan rendah dari masyarakat. Lalu di hadapannya sendiri orang-orang memperdebatkan, “Siapa yang berdosa? Dia atau orang tuanya?” Seolah-olah keberadaannya hanyalah sebuah kasus teologis yang perlu dianalisis, bukan seorang manusia yang memiliki perasaan.

Sayangnya, hal seperti ini masih terjadi sampai sekarang. Ketika seseorang mengalami penyakit berat, cacat bawaan, atau masalah genetik, sebagian orang lebih sibuk mencari penyebab dan menyalahkan daripada menunjukkan empati. Mereka bertanya, “Apa dosanya?”, “Mungkinkah ia kurang beriman?” atau “Apa kesalahan keluarganya?” Padahal orang yang sedang menderita lebih membutuhkan kasih daripada penjelasan.

Yang indah adalah bahwa Yesus tidak memperlakukan orang buta itu sebagai objek diskusi. Para murid melihat sebuah masalah teologis; Yesus melihat seorang manusia yang perlu dikasihi. Para murid bertanya tentang dosa; Yesus berbicara tentang pekerjaan Allah. Para murid mencari penyebab; Yesus memberikan pertolongan.

Ada pelajaran penting bagi kita di sini. Ketika berhadapan dengan penderitaan orang lain, sering kali respons yang paling Kristiani bukanlah memberikan analisis yang panjang, melainkan menunjukkan belas kasihan. Sebelum berbicara tentang alasan di balik penderitaan seseorang, kita perlu hadir, mendengar, menghibur, dan menolong.

Mungkin itulah sebabnya jawaban Yesus begitu menenangkan: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya…” Dengan satu kalimat, Yesus membebaskan orang itu dari tuduhan moral yang telah lama membebaninya. Ia bukan orang yang sedang dihukum Tuhan. Ia adalah seorang yang dikasihi Tuhan.

Betapa banyak orang yang sedang memikul beban serupa pada masa kini. Mereka tidak hanya menanggung rasa sakit fisik, tetapi juga rasa bersalah yang tidak semestinya. Kepada mereka, perkataan Yesus ini tetap menjadi kabar baik: penderitaan tidak selalu berarti hukuman, dan kelemahan tidak membuat seseorang kurang berharga di mata Allah. Tuhan melihat mereka bukan sebagai masalah yang harus dijelaskan, melainkan sebagai pribadi yang dikasihi dan yang di dalam hidupnya pekerjaan-pekerjaan Allah dapat dinyatakan.

Jawaban Yesus mengoreksi kecenderungan manusia untuk mencari kambing hitam ketika menghadapi penderitaan. Kita sering merasa lebih nyaman jika segala sesuatu memiliki penjelasan sederhana. Jika seseorang sakit, pasti ada yang salah. Jika seseorang menderita, pasti ada yang harus disalahkan. Namun Yesus menunjukkan bahwa kenyataan hidup tidak selalu sesederhana itu.

Alkitab memang mengajarkan bahwa dunia ini telah rusak oleh dosa sejak kejatuhan manusia di Taman Eden. Penyakit, kematian, penderitaan, dan berbagai kelemahan fisik merupakan bagian dari dunia yang tidak lagi sempurna. Namun hal itu berbeda dengan mengatakan bahwa setiap penyakit atau kelainan genetik adalah hukuman Tuhan atas dosa tertentu.

Ilmu pengetahuan modern membantu kita memahami bahwa banyak kondisi genetik terjadi karena mutasi, kelainan kromosom, atau faktor biologis yang berada di luar kendali manusia. Pengetahuan ini tidak bertentangan dengan iman Kristen. Sebaliknya, hal itu memperlihatkan betapa kompleks dan rapuhnya kehidupan dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Sebagai orang percaya, kita tidak berhenti pada penjelasan ilmiah semata. Kita juga percaya bahwa Allah tetap berdaulat atas kehidupan manusia. Tidak ada satu pun kromosom yang berada di luar pengetahuan-Nya. Tidak ada satu pun sel dalam tubuh kita yang luput dari perhatian-Nya. Pemazmur berkata bahwa Tuhan menenun kita dalam kandungan ibu kita dan mengenal kita sepenuhnya.

Ini tidak berarti bahwa Allah sengaja menciptakan penderitaan untuk menyenangkan diri-Nya. Namun kita percaya bahwa Allah sanggup bekerja bahkan melalui situasi yang tidak kita pahami. Itulah inti dari jawaban Yesus. Fokus-Nya bukan pada penyebab kebutaan itu, melainkan pada bagaimana pekerjaan Allah akan dinyatakan melalui kehidupan orang tersebut.

Sepanjang sejarah gereja, kita melihat banyak orang yang hidup dengan keterbatasan fisik tetapi menjadi alat Tuhan yang luar biasa. Ada yang menjadi saksi kasih Kristus melalui kesabaran mereka. Ada yang menguatkan orang lain melalui penderitaan yang mereka alami. Ada pula yang menunjukkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuhnya, melainkan oleh kasih Allah yang bekerja dalam dirinya.

Karena itu, ketika kita bertemu seseorang yang memiliki penyakit genetik atau kelainan bawaan, panggilan kita bukanlah menghakimi atau mencari kesalahan. Panggilan kita adalah menunjukkan empati, kasih, dan dukungan. Kita dipanggil untuk melihat mereka sebagaimana Tuhan melihat mereka: sebagai manusia yang berharga dan diciptakan menurut gambar Allah.

Mungkin ada hal-hal dalam hidup kita yang tidak pernah kita mengerti sepenuhnya di dunia ini. Namun kita dapat memegang satu kebenaran yang pasti: Tuhan tidak meninggalkan anak-anak-Nya dalam penderitaan. Ia hadir di tengah kelemahan, memberi kekuatan dalam pergumulan, dan sanggup mendatangkan kebaikan bahkan dari keadaan yang paling sulit sekalipun.

Daripada terus bertanya, “Siapa yang harus disalahkan?”, marilah kita belajar bertanya, “Bagaimana pekerjaan Allah dapat dinyatakan melalui keadaan ini?” Pertanyaan itulah yang membawa kita kepada pengharapan, kasih, dan iman yang lebih dalam kepada Tuhan.

Jika ada di antara kita yang sedang bergumul dengan penyakit, kelainan genetik, atau keterbatasan fisik yang tidak kunjung membaik, ingatlah bahwa kondisi Anda tidak mengurangi nilai Anda di hadapan Tuhan. Dunia mungkin sering menilai manusia berdasarkan kekuatan, kesehatan, dan kemampuan yang dimilikinya, tetapi Tuhan melihat hati dan mengasihi setiap anak-Nya dengan kasih yang sempurna.

Mungkin Anda tidak memahami mengapa pergumulan ini menjadi bagian dari hidup Anda, tetapi Anda dapat yakin bahwa Tuhan tidak meninggalkan Anda. Ia berjalan bersama Anda dalam setiap rasa sakit, setiap air mata, dan setiap hari yang sulit. Di dalam Kristus, penderitaan bukanlah akhir cerita. Tuhan sanggup memakai bahkan kelemahan kita untuk menyatakan kasih karunia-Nya, dan suatu hari nanti Ia akan memperbarui segala sesuatu sehingga tidak ada lagi penyakit, penderitaan, atau kematian. Sampai hari itu tiba, tetaplah berpegang pada-Nya dan lupakan komentar orang lain yang kurang baik, sebab kasih-Nya kepada Anda tidak pernah berkurang sedikit pun.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena Engkau mengenal kami sepenuhnya dan mengasihi kami tanpa syarat. Tolong kami untuk tidak cepat menghakimi penderitaan orang lain, tetapi memiliki hati yang penuh belas kasihan dan empati. Ajarlah kami percaya bahwa Engkau tetap bekerja bahkan dalam keadaan yang sulit dan tidak kami mengerti. Kiranya hidup kami menjadi tempat pekerjaan-Mu dinyatakan dan nama-Mu dimuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar