Karena Itu Kita Berjuang

“Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
— 1 Korintus 15:57-58

Menjelang akhir hidupnya, penginjil terkenal Billy Graham menulis sebuah buku yang sangat menyentuh berjudul Nearing Home: Life, Faith, and Finishing Well. Dalam buku itu, ia merenungkan arti menjalani tahun-tahun terakhir kehidupan dengan iman yang tetap teguh kepada Kristus. Graham mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya bukanlah perlombaan singkat, melainkan perjalanan panjang yang harus diakhiri dengan setia. Setelah puluhan tahun memberitakan Injil ke seluruh dunia, ia tidak menekankan pencapaian pribadi atau keberhasilan pelayanannya, melainkan pentingnya tetap berpegang pada kemenangan yang telah dikerjakan Kristus sampai akhir. Mengapa demikian?

Banyak orang Kristen hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab dalam hati mereka: Apakah kematian Yesus di kayu salib sungguh sudah cukup untuk menebus dosa saya? Mereka percaya kepada Kristus, tetapi pada saat yang sama masih merasa harus menambah sesuatu melalui usaha dan perbuatan baik mereka sendiri. Akibatnya, kehidupan rohani sering dipenuhi kecemasan. Mereka melayani bukan karena sukacita, melainkan karena takut. Mereka berbuat baik bukan karena syukur, melainkan karena merasa harus membuktikan diri layak di hadapan Allah. Padahal, Injil mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Dalam bagian akhir 1 Korintus 15, Paulus berbicara tentang kemenangan Kristus atas maut. Ia menjelaskan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kuasa dosa telah dipatahkan dan maut telah dikalahkan. Kemudian Paulus berseru, “Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Perhatikan baik-baik kata-kata itu. Paulus tidak mengatakan bahwa Allah akan memberikan kemenangan jika kita cukup setia atau cukup rajin melayani. Ia mengatakan bahwa Allah telah memberikan kemenangan itu kepada kita melalui Yesus Kristus.

Di sinilah pentingnya kata “karena itu” pada ayat berikutnya. Dalam bahasa Yunani digunakan kata hoste, sebuah kata penghubung yang berfungsi sebagai jembatan antara kebenaran iman dan tindakan praktis. Kata ini menghubungkan apa yang sudah Allah kerjakan dengan bagaimana kita harus hidup sebagai respons terhadap karya-Nya.

Sebelum kata “karena itu”, ada fakta iman. Kristus telah bangkit. Maut telah dikalahkan. Kemenangan telah diberikan. Status orang percaya sudah ditetapkan di dalam Kristus. Kita berjuang dari posisi sebagai pemenang, bukan untuk menjadi pemenang.

Sesudah kata “karena itu”, muncullah respons praktis. Paulus berkata, “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan.”

Perintah-perintah ini akan terasa sangat berat jika dilepaskan dari dasar yang mendahuluinya. Jika keselamatan bergantung pada usaha manusia, maka berdiri teguh akan menjadi beban yang menakutkan. Kita akan selalu khawatir apakah kita sudah cukup baik. Kita akan selalu cemas apakah Tuhan masih menerima kita.

Namun Paulus justru mengajarkan kebalikannya. Kita berdiri teguh karena Kristus sudah menang. Kita tidak goyah karena fondasi kita bukan kemampuan sendiri, melainkan karya Yesus yang sempurna. Kita giat melayani bukan untuk membeli keselamatan, melainkan karena keselamatan telah dianugerahkan kepada kita.

Demikian pula dengan jerih payah kita. Ada kalanya pelayanan terasa melelahkan. Doa-doa seolah tidak dijawab. Kesaksian kita tampak tidak menghasilkan apa-apa. Kebaikan yang kita lakukan mungkin tidak dihargai orang lain. Tetapi Paulus berkata bahwa jerih payah dalam Tuhan tidak sia-sia.

Mengapa? Karena kebangkitan Kristus telah mengubah akhir cerita manusia. Maut bukan lagi kata terakhir. Apa yang dilakukan bagi Tuhan memiliki nilai yang melampaui kehidupan sekarang. Tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada pelayanan yang terlupakan. Tidak ada kesetiaan yang luput dari perhatian Allah.

Satu kata kecil, “karena itu,” yang sering dipakai rasul Paulus menjaga kita dari dua kesalahan sekaligus: legalisme dan kemalasan. Kita terhindar dari legalisme karena kemenangan tidak diperoleh melalui usaha kita. Namun kita juga terhindar dari kemalasan karena kemenangan yang telah diberikan Kristus justru mendorong kita untuk hidup setia dan giat melayani-Nya.

Inilah kabar baik Injil. Kita tidak berjerih payah supaya diterima Allah. Kita berjerih payah karena kita sudah diterima. Kita tidak berjuang supaya menang. Kita berjuang karena Kristus telah menang bagi kita.

Bagi orang percaya yang lelah, ayat ini juga merupakan sumber penghiburan. Tuhan tidak meminta kita membangun kerajaan-Nya dengan kekuatan sendiri. Ia hanya memanggil kita untuk setia. Hasil akhirnya sudah dijamin oleh kebangkitan Kristus.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena melalui Yesus Kristus Engkau telah memberikan kemenangan atas dosa dan maut. Tolong kami untuk hidup dalam keyakinan akan karya Kristus yang sempurna, bukan mengandalkan kekuatan dan jasa kami sendiri. Mampukan kami berdiri teguh, tidak goyah, dan setia dalam pekerjaan Tuhan, karena kami tahu bahwa setiap jerih payah dalam Engkau tidak pernah sia-sia. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar