Ketika Rasa Takut Mendatangi

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Mazmur 23:4

Setiap orang pernah mengalami rasa takut. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut menghadapi masa depan yang tidak pasti, takut gagal, takut ditolak, takut dimarahi, takut kehilangan orang yang dikasihi, atau takut menghadapi persoalan ekonomi. Ada pula yang bergumul dengan ketakutan terhadap penyakit, pemeriksaan medis, operasi, atau penderitaan yang mungkin harus dijalani. Selama kita hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, rasa takut akan sesekali mengetuk pintu hati kita.

Sebenarnya, rasa takut bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan mengenali bahaya. Rasa takut membuat kita berhati-hati ketika menyeberang jalan, menjaga kesehatan, merencanakan masa depan dengan bijaksana, dan menghindari tindakan yang ceroboh. Dalam pengertian ini, rasa takut adalah salah satu cara Tuhan memelihara kehidupan manusia.

Namun, rasa takut dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat ketika mulai menguasai hati dan pikiran. Kita tidak lagi melihat persoalan secara proporsional. Kita membayangkan berbagai kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi. Kecemasan menguras tenaga, menghilangkan sukacita, bahkan membuat kita enggan melangkah. Tanpa disadari, kita mulai hidup seolah-olah Tuhan tidak hadir dan tidak berkuasa atas keadaan yang sedang kita hadapi.

Dari segi medis, faktor genetik diketahui bisa memengaruhi cara otak merespons stres dan ancaman. Orang dengan bawaan genetik tertentu memiliki struktur otak—seperti amygdala—yang lebih sensitif dan mudah aktif saat menghadapi situasi yang memicu rasa takut. Gen juga mengatur zat kimia otak (neurotransmiter) seperti serotonin dan dopamin, yang mengontrol suasana hati serta respons takut.

Faktor genetik seperti amygdala adalah bagian fisik dari anatomi manusia yang dirancang oleh Tuhan, tetapi tekanan destruktif dari rasa takut bukan dari Tuhan.

Selain genetik, lingkungan hidup juga bisa memengaruhi respons manusia terhadap ancaman. Seseorang yang memiliki genetik cemas tetapi tumbuh di lingkungan yang tenang dan mendukung bisa saja tidak pernah mengalami gangguan ketakutan yang parah. Sebaliknya, lingkungan yang penuh stres dan tanpa dukungan dapat mengaktifkan gen tersebut.

Mazmur 23 memberikan penghiburan yang sangat indah. Daud tidak berkata bahwa orang percaya tidak akan pernah memasuki “lembah kekelaman”. Ia juga tidak berkata bahwa lembah itu hanyalah ilusi atau tidak berbahaya. Sebaliknya, ia mengakui bahwa dalam kehidupan ini memang ada masa-masa yang gelap, lingkungan penuh ancaman, dan menakutkan.

Namun di tengah kenyataan itu Daud berkata, “Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Perhatikan alasannya. Daud tidak berkata bahwa ia berani karena dirinya kuat. Ia tidak berkata bahwa ia telah mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir. Ia juga tidak berkata bahwa semua masalah akan segera hilang. Dasar keberaniannya adalah penyertaan Tuhan. Kehadiran Allah lebih menentukan daripada lingkungan dan keadaan yang sedang dihadapinya.

Inilah perbedaan antara iman dan sikap nekat. Iman tidak menyangkal adanya bahaya. Iman memandang bahaya dengan jujur, tetapi memandang Allah sebagai Pribadi yang jauh lebih besar daripada bahaya itu.

Prinsip ini berlaku dalam berbagai pergumulan hidup. Ketika menghadapi persoalan keuangan, kita tetap berusaha bekerja dengan tekun sambil mempercayakan hidup kepada Tuhan. Ketika menghadapi konflik keluarga, kita tetap memilih jalan kasih dan pengampunan. Ketika menghadapi masalah kesehatan, kita tidak dikuasai oleh ketakutan, tetapi mengambil langkah-langkah yang bijaksana. Kita tidak menolak pemeriksaan, pengobatan, atau tindakan medis yang diperlukan hanya karena rasa takut. Dokter, perawat, obat-obatan, dan ilmu kedokteran merupakan bagian dari anugerah umum Allah yang sering dipakai-Nya untuk menolong manusia.

Pada saat yang sama, kita juga perlu memiliki belas kasihan terhadap mereka yang sedang bergumul dengan rasa takut. Sebagian orang mudah takut atau kuatir karena faktor genetik. Sebagian lagi membawa pengalaman traumatis, kecemasan yang mendalam, atau pergumulan batin yang tidak terlihat oleh orang lain. Mereka tidak membutuhkan penghakiman, melainkan empati, doa, dan pendampingan yang penuh kasih.

Daud juga berbicara tentang gada dan tongkat gembala. Gada dipakai untuk melindungi domba dari ancaman, sedangkan tongkat dipakai untuk menuntun domba agar tetap berada di jalan yang benar. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa Tuhan bukan saja sanggup melindungi umat-Nya, tetapi juga memimpin mereka melewati setiap lembah kehidupan. Kadang-kadang Ia tidak mengangkat kita keluar dari lembah seketika, tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian.

Karena itu, kemenangan iman bukanlah hidup tanpa rasa takut, melainkan tetap berjalan bersama Tuhan ketika rasa takut datang. Menjadi orang beriman bukan berarti tidak pernah gemetar. Menjadi orang beriman berarti tidak membiarkan ketakutan menjadi tuan atas hidup kita. Kita boleh mengakui ketakutan kita dengan jujur kepada Tuhan, tetapi kita tidak menyerahkan kendali hidup kepada ketakutan itu.

Iman bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi keputusan untuk mempercayai Tuhan meskipun rasa takut masih ada.

Ketika lembah terasa gelap dan masa depan tampak tidak pasti, ingatlah bahwa penghiburan terbesar bukanlah jaminan bahwa hidup akan selalu mudah, melainkan kepastian bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Selama Sang Gembala menyertai kita, tidak ada lembah yang terlalu gelap dan tidak ada ketakutan yang terlalu besar untuk dihadapi bersama-Nya.

Doa Penutup

Bapa yang penuh kasih, kami mengakui bahwa hati kami sering dipenuhi berbagai ketakutan. Kami takut akan masa depan, kegagalan, kehilangan, penderitaan, penyakit, dan banyak hal yang berada di luar kendali kami. Ampunilah kami ketika rasa takut lebih menguasai hati kami daripada iman kepada-Mu.

Tolonglah kami memandang kepada-Mu yang jauh lebih besar daripada setiap persoalan yang kami hadapi. Berikanlah kami hikmat untuk mengambil keputusan yang bijaksana, keberanian untuk tetap melakukan yang benar, serta keyakinan bahwa Engkau selalu berjalan bersama kami. Biarlah gada dan tongkat-Mu menjadi penghiburan dan kekuatan kami setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar