Sulitnya Menjadi Hamba Tuhan

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.”
— 2 Timotius 2:23-25

Menjadi hamba Tuhan bukanlah panggilan yang mudah. Dari luar, orang mungkin hanya melihat seseorang berkhotbah, mengajar, atau memimpin ibadah. Namun di balik semua itu, ada pergumulan yang sering tidak terlihat. Seorang hamba Tuhan harus menghadapi perbedaan pendapat, kritik, kesalahpahaman, bahkan penolakan. Tidak jarang ia juga menjadi sasaran perkataan yang menyakitkan, justru dari orang-orang yang dilayaninya.

Rasul Paulus memahami kenyataan itu. Karena itulah, ketika menulis kepada Timotius, ia tidak memberikan strategi untuk memenangkan setiap perdebatan. Sebaliknya, ia mengingatkan agar Timotius menghindari persoalan-persoalan yang hanya memancing pertengkaran. Tidak semua hal perlu diperdebatkan. Tidak semua perdebatan layak diikuti. Ada diskusi yang membangun iman, tetapi ada pula perdebatan yang hanya memuaskan ego dan tidak menghasilkan pertobatan.

Nasihat Paulus terasa sangat relevan pada zaman sekarang. Dengan adanya media sosial, perdebatan teologis sering terjadi di ruang publik. Kadang-kadang orang lebih bersemangat membuktikan dirinya benar daripada menolong orang lain mengenal Kristus. Bahkan sesama orang percaya dapat saling menyerang dengan kata-kata yang keras. Dalam situasi seperti ini, seorang hamba Tuhan dituntut memiliki hikmat untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam.

Paulus kemudian menyebutkan beberapa karakter yang harus dimiliki seorang hamba Tuhan. Ia tidak boleh suka bertengkar. Ia harus ramah terhadap semua orang, cakap mengajar, sabar, dan lemah lembut ketika menghadapi mereka yang menentang kebenaran. Daftar ini menunjukkan bahwa karakter lebih penting daripada kemampuan berdebat. Pesan berdasarkan Alkitab tidak akan membawa banyak manfaat jika disampaikan dengan hati yang kasar dan penuh kemarahan.

Perhatikan juga tujuan dari sikap lemah lembut itu. Paulus berkata, “sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat.” Pertobatan bukanlah hasil kepandaian berargumentasi, melainkan karya anugerah Allah. Hamba Tuhan hanyalah alat di tangan-Nya. Karena itu, tidak ada alasan untuk bersikap sombong ketika orang menerima kebenaran, dan tidak perlu putus asa ketika orang menolaknya. Tugas kita adalah menyampaikan firman dengan setia; pekerjaan mengubah hati adalah milik Tuhan.

Sebenarnya prinsip ini tidak hanya berlaku bagi pendeta atau penginjil. Dalam arti tertentu, setiap orang percaya adalah hamba Tuhan di tempat Tuhan menempatkannya. Orang tua ketika mendidik anak, guru ketika mengajar murid, pemimpin kelompok kecil, penatua, diaken, bahkan setiap orang Kristen yang bersaksi tentang Kristus, semuanya dipanggil untuk memperlihatkan karakter yang sama. Dunia tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga memperhatikan bagaimana kita mengatakannya.

Kadang-kadang kita tergoda membalas perkataan yang menyakitkan dengan kata-kata yang lebih tajam. Kita merasa bahwa kebenaran harus dibela dengan segala cara. Namun Alkitab mengingatkan bahwa cara kita menyampaikan kebenaran tidak boleh bertentangan dengan kebenaran itu sendiri. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih dapat melukai, sedangkan kasih tanpa kebenaran akan menyesatkan. Tuhan memanggil kita untuk memegang kasih dan kebenaran sekaligus.

“Kebenaran tanpa kasih dan kasih tanpa kebenaran sering kali hanyalah dua wajah dari ego manusia: yang satu ingin menang, yang lain ingin diterima.”

Menjadi hamba Tuhan memang sulit. Dibutuhkan kerendahan hati ketika disalahpahami, kesabaran ketika ditentang, kelembutan ketika disakiti, dan ketekunan ketika hasil pelayanan belum terlihat. Namun justru melalui karakter seperti inilah Kristus dinyatakan kepada dunia. Kiranya setiap orang yang melayani, dalam bentuk apa pun, tidak mencari kemenangan dalam perdebatan, tetapi kerinduan agar semakin banyak orang bertobat dan mengenal kebenaran yang menyelamatkan.

Paulus tidak mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan harus selalu berhasil meyakinkan orang, tetapi ia harus selalu setia menunjukkan karakter Kristus. Hasil akhirnya diserahkan kepada Tuhan:

“Sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat…”

Kata “mungkin” bukan berarti kuasa Tuhan terbatas, melainkan mengingatkan bahwa pertobatan adalah hak prerogatif Allah, bukan hasil kepandaian atau kefasihan seorang pelayan. Hal ini membebaskan setiap hamba Tuhan dari beban untuk “memenangkan” semua orang. Yang Tuhan tuntut adalah kesetiaan, bukan keberhasilan menurut ukuran manusia.

Kiranya itu menjadi penghiburan bagi setiap pelayan Tuhan yang merasa lelah, kurang dihargai, atau bahkan ditolak. Selama kita tetap mengajar dengan benar, melayani dengan kasih, dan memelihara karakter Kristus, kita sedang melakukan bagian yang Tuhan percayakan. Selebihnya, biarlah Roh Kudus bekerja mengubah hati manusia pada waktu-Nya.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih atas kehormatan menjadi hamba-Mu. Bentuklah hati kami agar tidak mudah terpancing dalam pertengkaran, tetapi dipenuhi kasih, kesabaran, dan kelemahlembutan. Berikanlah hikmat untuk menyampaikan kebenaran dengan setia dan rendah hati. Tolonglah kami agar tidak mencari kemenangan bagi diri sendiri, melainkan kemuliaan bagi nama-Mu dan keselamatan bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar