“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
— Efesus 5:15–16

Seorang pria bekerja keras selama lebih dari empat puluh tahun. Ia menabung, membesarkan anak-anak, dan akhirnya memasuki masa pensiun dengan kondisi keuangan yang cukup. Namun, beberapa bulan kemudian ia mulai merasa gelisah. Rutinitas yang selama ini mengisi hari-harinya telah hilang. Ia bangun pagi tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Perlahan ia menyadari bahwa selama ini ia telah memiliki pekerjaan, tetapi belum benar-benar memiliki tujuan hidup. Kisah seperti ini tidak jarang terjadi.
Banyak orang mempersiapkan diri untuk bisa sukses secara duniawi, tetapi tidak pernah dengan sengaja mempersiapkan diri untuk menjalani hidup yang bermakna.
Sesungguhnya persoalan ini tidak hanya dialami oleh mereka yang sudah lanjut usia. Banyak anak muda juga menjalani hidup tanpa arah yang jelas. Mereka mengikuti arus zaman, mengejar apa yang sedang populer, berpindah dari satu kesenangan ke kesenangan lain, tanpa pernah bertanya untuk apa mereka hidup. Waktu berlalu, usia bertambah, tetapi semua yang dialami hanya datang dan pergi. Akibatnya, baik muda maupun tua dapat terjebak dalam kehidupan yang sibuk tetapi kosong.
Rasul Paulus memberikan nasihat yang sangat berbeda. Ia berkata, “Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya tidak boleh dijalani secara sembarangan atau sekadar mengikuti keadaan. Setiap langkah perlu dipikirkan dengan bijaksana di hadapan Allah. Paulus bahkan menambahkan, “Pergunakanlah waktu yang ada.” Secara harfiah, ungkapan ini berarti “menebus waktu”, yaitu memanfaatkan setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Mengapa? Karena dunia yang kita hidupi penuh dengan godaan yang dapat mengalihkan perhatian kita dari tujuan yang sejati.
Iman Kristen bukanlah hidup yang berjalan dengan “autopilot”. Hidup orang percaya adalah hidup yang disengaja (intentional living). Kita tidak sekadar bertanya, “Apa yang saya inginkan?” melainkan, “Apa yang Tuhan kehendaki?” Kita tidak hanya mengejar apa yang menyenangkan, tetapi dengan sadar memilih apa yang memuliakan Allah.
Katekismus Westminster membuka dengan pertanyaan yang sangat terkenal: “Apakah tujuan utama manusia?” Jawabannya sederhana namun mendalam: “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya.” Inilah kompas yang seharusnya mengarahkan seluruh hidup kita. Ketika tujuan ini jelas, maka pekerjaan, keluarga, pelayanan, bahkan masa pensiun memperoleh makna yang baru. Semua menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan.
Itulah sebabnya hidup yang disengaja tidak bergantung pada usia. Seorang mahasiswa dapat memuliakan Tuhan melalui kesungguhan belajar dan integritasnya. Seorang ayah atau ibu memuliakan Tuhan dengan mengasihi keluarganya dan membesarkan anak-anak dalam takut akan Allah. Seorang profesional memuliakan Tuhan melalui kejujuran dan tanggung jawab dalam pekerjaannya. Bahkan seorang pensiunan tetap memiliki panggilan yang mulia: menjadi pendoa, membimbing generasi yang lebih muda, melayani sesuai kemampuan, serta terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Selama Tuhan masih memberikan napas, tidak ada seorang pun yang telah selesai dari panggilannya.
Hidup yang disengaja juga berarti terus membentuk pikiran kita dengan firman Tuhan. Dunia setiap hari berusaha membentuk cara berpikir kita melalui nilai-nilai yang berpusat pada diri sendiri. Sebaliknya, firman Tuhan memperbarui akal budi kita sehingga kita mampu membedakan apa yang berkenan kepada Allah. Semakin pikiran kita dipenuhi firman-Nya, semakin bijaksana keputusan-keputusan kita, dan semakin jelas arah hidup kita. Orang Kristen tidak hanya mengisi waktu, tetapi juga mengisi pikirannya dengan kebenaran Allah agar setiap langkahnya selaras dengan kehendak-Nya.
Dari sudut pandang iman, semua ini bukanlah usaha manusia untuk memperoleh kenyamanan atau keselamatan. Kita tidak hidup dengan tujuan untuk menikmati segala sesuatu di dunia. Pada pihak lain, kita tidak hidup dengan tujuan supaya Allah menerima kita, melainkan karena di dalam Kristus kita telah diterima oleh kasih karunia-Nya.
Keselamatan oleh iman menghasilkan kehidupan yang terus dikuduskan oleh Roh Kudus. Buah dari iman yang sejati adalah hidup yang semakin terarah kepada kehendak Allah. Orang yang telah ditebus tidak hidup secara kebetulan, melainkan dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan yang Tuhan percayakan untuk memuliakan-Nya.
Karena itu, apa pun tahap kehidupan kita hari ini—masih muda, sedang sibuk bekerja, atau telah memasuki masa pensiun—marilah kita bertanya: Apakah saya sedang hidup dengan sengaja bagi Kristus, atau hanya mengikuti arus? Selama Tuhan masih memberikan hari ini, Ia juga masih memberikan panggilan. Dan hidup yang dipersembahkan untuk kemuliaan-Nya tidak akan pernah menjadi hidup yang kosong dan sia-sia.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih untuk setiap hari yang Engkau anugerahkan kepada kami. Ajarlah kami menjalani hidup dengan bijaksana dan penuh tujuan, sehingga setiap keputusan, pekerjaan, dan pelayanan kami memuliakan nama-Mu. Pimpin kami oleh Roh Kudus agar tidak menyia-nyiakan waktu, tetapi setia mengerjakan kehendak-Mu sampai akhir hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.