Menguasai Emosi

“Hiduplah selalu dengan rendah hati dan lemah-lembut. Bersabarlah dan terimalah satu sama lain dengan kasih.”
— Efesus 4:2

Ayat ini mudah dibaca, tetapi sulit dilakukan. Tidak ada yang kesulitan memahami arti rendah hati, lemah lembut, sabar, dan saling menerima dalam kasih. Tantangannya justru terletak pada saat kita harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selama segala sesuatu berjalan baik, kita merasa mampu mengasihi. Namun ketika disalahpahami, diperlakukan tidak adil, dikecewakan, atau disakiti, semua kata indah itu mendadak terasa sangat berat untuk dijalankan.

Mengapa demikian? Karena perintah ini bertentangan dengan kecenderungan alami manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Hati kita lebih mudah membela diri daripada mengakui kesalahan, lebih suka mempertahankan harga diri daripada merendahkan diri, dan lebih ingin menang daripada berdamai. Ego selalu ingin terlihat benar, dihargai, dan diperlakukan adil. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, emosi pun mudah tersulut.

Di sinilah letak pergumulan setiap orang percaya. Kita bukan hanya bergumul melawan keadaan, tetapi juga melawan diri sendiri. Menjadi lemah lembut saat hati sedang panas membutuhkan pengendalian diri. Bersabar terhadap orang yang terus-menerus mengecewakan kita membutuhkan kasih karunia. Menerima orang lain apa adanya sering kali menjadi perjuangan yang panjang, terutama jika mereka pernah melukai hati kita.

Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya harus menjadi manusia tanpa emosi. Emosi adalah bagian dari anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Kita dapat merasa senang, sedih, takut, kecewa, bahkan marah. Semua itu adalah respons yang wajar. Yang menjadi persoalan bukanlah emosinya, melainkan bagaimana kita mengelolanya.

Karena itu Paulus menulis, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26). Perhatikan bahwa ia tidak berkata, “Jangan pernah marah.” Sebaliknya, ia mengakui bahwa kemarahan dapat muncul dalam kehidupan orang percaya. Akan tetapi, kemarahan tidak boleh berkembang menjadi dosa.

Perbedaannya sangat penting. Merasa kesal ketika diperlakukan tidak adil adalah hal yang manusiawi. Namun memaki, membalas dendam, atau menyimpan kebencian adalah pilihan yang berdosa. Merasa kecewa karena harapan tidak terpenuhi juga merupakan respons yang normal. Tetapi menghukum orang lain dengan mengabaikan, memakai jawaban keras, memanipulasi, atau menyebarkan keburukan mereka adalah dosa di hadapan Tuhan.

Itulah sebabnya kedewasaan rohani bukanlah kemampuan menekan emosi hingga seolah-olah kita tidak merasakan apa-apa. Kedewasaan rohani adalah kemampuan membawa setiap emosi kepada Tuhan sebelum emosi itu menguasai perkataan dan tindakan kita. Emosi adalah tamu yang datang, tetapi jangan biarkan ia menjadi penguasa hati kita.

Tujuan hidup orang percaya bukanlah menghilangkan emosi, melainkan menguduskan emosi.

Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Ia dapat marah terhadap ketidakbenaran, tetapi tidak pernah kehilangan kekudusan-Nya. Ia dapat terluka karena penolakan manusia, tetapi tetap mengampuni mereka. Bahkan ketika disalibkan secara tidak adil, Ia masih berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Inilah kelemahlembutan yang lahir bukan dari kelemahan, melainkan dari kekuatan yang sepenuhnya tunduk kepada kehendak Bapa.

Sebagai orang percaya, kita tidak mungkin menguasai emosi hanya dengan kekuatan kemauan sendiri. Pengendalian diri adalah buah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati yang terus diperbarui oleh firman Tuhan. Semakin kita memenuhi pikiran dengan firman-Nya, semakin Roh Kudus membentuk respons kita. Kita belajar berhenti sejenak sebelum bereaksi, berdoa sebelum berbicara, dan mengampuni sebelum kepahitan berakar. Dengan demikian, kita tidak dikuasai oleh emosi, melainkan dipimpin oleh Roh Allah.

Kedewasaan rohani tidak diukur dari seberapa sedikit emosi yang kita rasakan, tetapi dari seberapa besar Kristus menguasai emosi yang kita miliki.

Kiranya setiap kali emosi mulai menguasai hati kita, kita mengingat bahwa panggilan kita bukanlah memenangkan pertengkaran, melainkan memuliakan Kristus. Dunia mungkin menganggap pengendalian diri sebagai kelemahan, tetapi di mata Tuhan, orang yang mampu menguasai dirinya adalah orang yang sedang bertumbuh menjadi serupa dengan Anak-Nya.

Doa Penutup

Bapa di surga, kami mengakui bahwa kami sering gagal mengendalikan emosi kami. Ampunilah ketika kemarahan, kekecewaan, dan ego menguasai hati kami sehingga kami melukai orang lain. Penuhi kami dengan Roh Kudus agar kami memiliki kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih dalam setiap hubungan kami. Ajarlah kami membawa setiap emosi kepada-Mu sebelum berubah menjadi dosa, sehingga melalui perkataan dan tindakan kami, nama Kristus dimuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar