Berkomunikasi dengan Tuhan Kapan Saja

“Bersama Yesus sebagai Imam Besar kita, kita bisa datang ke hadapan takhta Allah secara bebas di mana ada kasih karunia. Di sana kita menerima rahmat dan kemurahan untuk menolong kita apabila kita membutuhkannya.”
— Ibrani 4:16

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin sulit pula akses untuk bertemu dengannya. Bayangkan jika kita harus membuat janji berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk berbicara beberapa menit dengan seorang pemimpin negara. Belum tentu permohonan kita diterima. Belum tentu kita diizinkan masuk.

Begitulah gambaran hubungan manusia dengan Allah pada zaman Perjanjian Lama. Bukan karena Allah tidak mengasihi umat-Nya, tetapi karena kekudusan-Nya tidak dapat didekati oleh manusia yang berdosa. Di Bait Allah terdapat tirai tebal yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Mahakudus. Hanya Imam Besar yang boleh masuk ke Ruang Mahakudus, itupun hanya setahun sekali, setelah mempersembahkan korban penebusan dosa. Tirai itu menjadi pengingat bahwa dosa telah menciptakan jurang antara manusia dan Allah.

Namun semuanya berubah ketika Yesus mati di kayu salib. Pada saat Ia menyerahkan nyawa-Nya, tirai Bait Allah terbelah dari atas ke bawah. Itu bukan sekadar peristiwa yang menggetarkan, tetapi sebuah pengumuman ilahi bahwa jalan menuju hadirat Allah kini telah terbuka. Yesus telah menjadi Imam Besar Agung yang sempurna. Melalui pengorbanan-Nya, setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hak istimewa untuk datang langsung kepada Allah.

Karena itu penulis kitab Ibrani mengajak kita untuk “datang dengan penuh keberanian ke takhta kasih karunia.” Keberanian di sini bukanlah sikap kurang hormat, melainkan keyakinan seorang anak yang tahu bahwa ayahnya mengasihinya. Kita tidak datang membawa jasa atau prestasi rohani. Kita datang karena Yesus telah membuka jalan itu bagi kita.

Sungguh luar biasa bahwa sekarang kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan di mana saja dan kapan saja. Kita tidak perlu menunggu berada di gereja. Kita tidak harus berada di tempat yang dianggap suci. Di rumah, di tempat kerja, di dalam mobil, ketika berjalan kaki, bahkan di tengah malam saat hati dipenuhi kegelisahan, kita dapat berseru kepada Bapa kita di surga. Tidak ada jarak yang membatasi-Nya, tidak ada tirai yang menghalangi kita, dan tidak ada jam operasional bagi takhta kasih karunia-Nya.

Lalu mengapa masih banyak orang percaya yang merasa Tuhan itu jauh? Sering kali bukan Tuhan yang menjauh, melainkan kita yang sibuk dengan begitu banyak hal sehingga mengabaikan hubungan dengan-Nya. Ada pula yang merasa tidak layak datang karena menyadari dosa-dosanya. Sebagian lagi berpikir bahwa persoalannya terlalu kecil untuk dibawa kepada Tuhan. Ada juga yang menjadi malas berdoa karena merasa doa hanyalah kewajiban, bukan sebuah percakapan dengan Bapa yang penuh kasih.

Padahal, melalui Kristus kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita boleh memanggil-Nya, “Ya Bapa.” Seorang ayah yang baik tidak menolak anaknya yang datang dengan hati yang tulus. Demikian pula Bapa surgawi kita. Ia tidak hanya mendengar doa-doa yang panjang dan indah, tetapi juga keluhan yang sederhana, ucapan syukur yang singkat, bahkan air mata yang tidak sanggup diungkapkan dengan kata-kata.

Doa bukanlah cara untuk memaksa Allah mengikuti kehendak kita. Doa adalah sarana Allah membentuk hati kita agar semakin selaras dengan kehendak-Nya. Melalui doa, kita belajar menyerahkan kekhawatiran, menerima kekuatan baru, memperoleh hikmat, dan menikmati damai sejahtera yang melampaui segala akal. Semakin sering kita datang kepada-Nya, semakin kita menyadari bahwa Allah bukan Pribadi yang jauh, melainkan Bapa yang selalu hadir menyertai anak-anak-Nya.

Lebih daripada itu, Allah tidak membiarkan kita berjuang sendiri dalam kehidupan doa. Roh Kudus diam di dalam setiap orang percaya dan menjadi Penolong yang setia. Rasul Paulus menulis bahwa ketika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, Roh Kudus sendiri berdoa syafaat bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26–27). Betapa menghiburkan kebenaran ini!

Tuhan tidak menilai doa dari kefasihan kata-kata atau panjangnya kalimat, melainkan dari hati yang datang dengan iman kepada-Nya. Bahkan ketika air mata lebih banyak daripada kata-kata, ketika hati begitu lelah sehingga kita hanya mampu berkata, “Tuhan, tolonglah aku,” Roh Kudus membawa pergumulan kita ke hadapan Bapa sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, tidak ada alasan untuk menunda atau menghindari doa. Bapa membuka jalan melalui Anak-Nya, dan Roh Kudus menolong kita berjalan di jalan itu setiap hari.

Jika takhta kasih karunia selalu terbuka, maka masalahnya bukanlah apakah Allah bersedia mendengar kita, melainkan apakah kita bersedia datang kepada-Nya.

Jangan sia-siakan hak istimewa yang dibeli dengan harga yang begitu mahal, yaitu darah Kristus. Takhta kasih karunia selalu terbuka. Datanglah kepada-Nya hari ini, bukan hanya ketika hidup terasa berat, tetapi juga ketika hati dipenuhi sukacita.

Kita datang kepada Allah dengan keberanian, tetapi bukan dengan sikap sembrono. Keberanian (boldness) kita lahir dari keyakinan akan karya Kristus, sementara rasa hormat (reverence) kita lahir dari pengenalan akan kekudusan Allah. Kedua hal ini berjalan bersama. Berkomunikasilah dengan Tuhan kapan saja, karena Dia selalu siap mendengar!

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena melalui Yesus Kristus kami dapat datang dengan bebas ke hadirat-Mu. Ampunilah kami ketika kami lebih sering mengandalkan diri sendiri daripada mencari Engkau dalam doa. Ajarlah kami menikmati persekutuan yang akrab dengan-Mu setiap hari, sehingga kami hidup dalam damai, hikmat, dan ketaatan kepada kehendak-Mu. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar