Hasil Akhir Bergantung pada Tujuan Hidup

“Aku telah berlomba dengan baik. Aku telah menyelesaikan perlombaanku, dan aku telah setia melayani Allah.”
— 2 Timotius 4:7

Sekalipun orang umumnya tidak mau memikirkan berapa lama ia akan hidup, setiap orang pasti akan mencapai garis akhir kehidupannya. Muda atau tua, tidak seorang pun dapat menghentikan waktu atau memperpanjang hidup dengan kekuatannya sendiri. Yang membedakan setiap orang bukanlah kapan itu berakhir, melainkan bagaimana ia menjalaninya dan untuk apa ia hidup.

Ketika rasul Paulus menulis surat terakhirnya kepada Timotius, ia tahu bahwa kematiannya sudah dekat. Namun, tidak ada nada penyesalan dalam kata-katanya. Ia tidak sibuk menghitung keberhasilan yang pernah diraih atau kesempatan yang telah hilang. Dengan hati yang damai ia berkata, “Aku telah berlomba dengan baik. Aku telah menyelesaikan perlombaanku, dan aku telah setia melayani Allah.”

Kalimat yang singkat itu merupakan ringkasan dari sebuah kehidupan yang dipersembahkan sepenuhnya kepada Kristus. Paulus tidak mengatakan bahwa hidupnya bebas dari penderitaan. Justru sebaliknya. Ia pernah dipenjara, dicambuk, dilempari batu, difitnah, dikhianati, bahkan ditinggalkan oleh beberapa rekannya. Namun semua itu tidak mengubah arah hidupnya. Tujuannya tetap sama: mengenal Kristus, memuliakan-Nya, dan menyelesaikan panggilan yang telah dipercayakan kepadanya.

Di sinilah letak rahasia kehidupan yang bermakna. Hasil akhir selalu bergantung pada tujuan hidup. Orang yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan akan menghabiskan hidupnya mengejar uang. Orang yang mengejar pujian akan mudah kecewa ketika penghargaan tidak lagi datang. Orang yang hidup demi kenyamanan akan terus menghindari pengorbanan. Namun semua tujuan itu bersifat sementara. Ketika hidup ini berakhir, semuanya akan tertinggal.

Sebaliknya, orang yang menjadikan Kristus sebagai tujuan hidup akan memandang setiap hari sebagai kesempatan untuk semakin menyerupai Dia. Pekerjaan bukan lagi sekadar mencari nafkah, tetapi ladang pelayanan. Keluarga bukan hanya tempat menikmati kebahagiaan, tetapi tempat mempraktikkan kasih Kristus. Kesulitan bukan sekadar beban, tetapi sarana Allah membentuk karakter. Bahkan keberhasilan pun tidak menjadi alasan untuk meninggikan diri, melainkan kesempatan untuk memuliakan Tuhan.

Karena itu, setiap hari kita dapat menetapkan tiga sasaran yang sederhana tetapi sangat menentukan.

Pertama, berjuanglah untuk apa yang sungguh penting. Tidak semua persoalan harus dimenangkan. Tidak semua perdebatan layak diteruskan. Jangan habiskan tenaga untuk mengejar hal-hal yang tidak memiliki nilai kekal. Gunakan waktu, pikiran, dan kemampuan yang Tuhan berikan untuk mengasihi Dia, melayani sesama, membangun keluarga, mengerjakan tugas dengan setia, dan menjadi saksi Kristus di mana pun kita berada.

Kedua, selesaikan apa yang telah Tuhan percayakan. Dunia sering mengagungkan semangat memulai, tetapi Alkitab menghargai kesetiaan untuk mengakhiri. Ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah, doa terasa kering, pelayanan tidak dihargai, atau pekerjaan tampak tidak membuahkan hasil. Justru pada saat-saat seperti itulah ketekunan dibentuk. Kesetiaan bukanlah melakukan hal-hal besar sesekali, melainkan terus menaati Tuhan dalam hal-hal kecil setiap hari.

Ketiga, peliharalah iman dan integritas. Di zaman yang serba kompromi, godaan terbesar bukan selalu penderitaan, melainkan kenyamanan. Sedikit demi sedikit hati dapat bergeser dari Kristus kepada ambisi pribadi, dari kebenaran kepada popularitas, dari kesetiaan kepada keuntungan. Karena itu kita perlu terus menguji hati di bawah terang Firman Tuhan agar kompas kehidupan kita tetap menunjuk kepada Kristus.

Semua ini tidak berarti bahwa kita sedang berusaha memperoleh keselamatan melalui perbuatan baik. Sebaliknya, iman Kristen mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya oleh anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Kesetiaan kita adalah buah dari keselamatan, bukan syarat untuk mendapatkannya. Allah yang telah memanggil juga akan memelihara umat-Nya. Roh Kudus bekerja setiap hari membentuk kita sehingga kita dimampukan untuk terus berlari, bahkan ketika langkah terasa berat. Anugerah yang menyelamatkan adalah anugerah yang juga menopang dan menguduskan.

Bayangkan jika pada akhir hidup nanti kita sempat dan dapat mengucapkan kata-kata Paulus dengan tulus. Bukan karena hidup kita sempurna, tetapi karena, oleh kasih karunia Tuhan, arah hidup kita tidak pernah berubah. Kita mungkin pernah jatuh, tetapi Tuhan mengangkat kita kembali. Kita mungkin pernah lemah, tetapi Dia memberi kekuatan baru. Kita mungkin tidak dikenal dunia, tetapi kita dikenal oleh Sang Gembala Agung.

Memang, 2 Timotius 4:7 sangat selaras dengan pertanyaan pertama dari Katekismus Kecil Westminster: “Apakah tujuan utama manusia?” Jawabannya: “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya.” Seluruh hidup Paulus merupakan ilustrasi nyata dari jawaban katekismus tersebut.

Kiranya itulah kerinduan kita setiap hari: bukan sekadar menjalani hidup yang panjang, melainkan hidup yang terarah. Sebab pada akhirnya, hidup yang berhasil bukanlah hidup yang dipenuhi pencapaian dunia, melainkan hidup yang setia kepada Kristus. Dan ketika tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah, maka setiap langkah, setiap pergumulan, dan setiap kemenangan akan menjadi bagian dari perlombaan yang pada akhirnya berujung pada sukacita kekal di hadapan-Nya.

Doa:

Bapa yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau telah memanggil kami menjadi milik-Mu melalui anugerah di dalam Kristus. Tolonglah kami agar setiap hari hidup dengan tujuan yang benar, yaitu memuliakan nama-Mu. Berilah kami hikmat untuk memilih apa yang penting, ketekunan untuk menyelesaikan panggilan kami, dan keberanian untuk menjaga iman serta integritas kami. Mampukan kami, oleh kuasa Roh Kudus, tetap setia sampai garis akhir, sehingga seluruh hidup kami menjadi kesaksian bagi kemuliaan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar