“Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu.”
— Keluaran 20:9

“Berapa hari Anda ingin bekerja?”
Jika pertanyaan itu diajukan kepada banyak orang, jawabannya mungkin sangat beragam. Ada yang berkata empat hari seminggu sudah cukup. Ada yang menginginkan tiga hari agar lebih banyak waktu untuk keluarga dan menikmati hidup. Sebaliknya, di banyak negara berkembang masih ada orang yang bekerja enam bahkan tujuh hari seminggu, bukan karena mereka menyukainya, tetapi karena tuntutan hidup.
Lalu, apakah Alkitab memiliki jawaban tentang berapa hari idealnya seseorang bekerja?
Menariknya, Alkitab tidak terutama berbicara tentang jumlah hari, melainkan tentang makna bekerja dan beristirahat. Dalam Sepuluh Perintah Allah, Tuhan berfirman, “Enam hari lamanya engkau akan bekerja.” Perintah ini sering kali terlupakan karena perhatian kita lebih tertuju pada perintah menguduskan hari Sabat. Padahal, bekerja juga merupakan bagian dari kehendak Allah. Sejak sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Adam telah diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. Dengan demikian, bekerja bukanlah kutuk, melainkan panggilan yang mulia.
Namun, Allah juga menetapkan adanya waktu untuk berhenti. Ketika selesai menciptakan alam semesta, Allah beristirahat pada hari ketujuh. Bukan karena Ia lelah, melainkan karena Ia sedang mengajarkan ritme kehidupan kepada manusia. Kita bekerja dengan tekun, lalu berhenti dengan iman. Ketika kita berhenti bekerja, kita mengakui bahwa dunia tidak bergantung pada kekuatan kita. Allah tetap memelihara ciptaan-Nya sekalipun kita sedang beristirahat.
Di sinilah banyak orang Kristen perlu mengoreksi cara pandangnya. Sebagian mengukur keberhasilan dari banyaknya jam kerja. Sebagian lagi menganggap tujuan hidup adalah memperoleh waktu libur sebanyak mungkin. Alkitab tidak mendukung kedua ekstrem tersebut. Kerja bukanlah berhala, tetapi liburan juga bukan tujuan hidup.
Sebagai orang percaya, kita memandang kerja dan libur melalui terang salib Kristus.
Garis vertikal salib berbicara tentang hubungan kita dengan Allah. Kita bekerja untuk memuliakan-Nya, bukan untuk mencari identitas atau harga diri. Kita juga beristirahat sebagai ungkapan iman bahwa Tuhan sanggup mengurus dunia tanpa bantuan kita. Baik bekerja maupun berlibur menjadi tindakan penyembahan ketika dilakukan dengan hati yang bersandar kepada-Nya.
Garis horizontal salib berbicara tentang hubungan kita dengan sesama. Pola kerja dan hari libur yang kita pilih seharusnya membuat kita semakin mampu mengasihi pasangan, anak-anak, cucu, sahabat, rekan kerja, dan jemaat. Waktu libur bukan hanya kesempatan untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk mempererat hubungan, memperhatikan orang lain, menikmati ciptaan Tuhan, dan memulihkan tubuh serta jiwa agar siap kembali melayani.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Empat hari atau enam hari saya harus bekerja?” Melainkan, “Apakah pola hidup saya membuat saya semakin mengasihi Tuhan dan semakin mengasihi sesama?”
Yesus sendiri mengajarkan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Inilah fondasi bagi seluruh kehidupan orang percaya. Jika hubungan vertikal kita dengan Tuhan benar, hubungan horizontal kita dengan sesama akan semakin bertumbuh. Sebaliknya, jika hubungan dengan Tuhan diabaikan, baik pekerjaan maupun liburan mudah berubah menjadi sarana memuaskan diri sendiri.
Pada akhirnya, bekerja dan beristirahat memiliki tujuan yang sama: memuliakan Allah. Kita bekerja dengan rajin karena itu adalah panggilan-Nya. Kita beristirahat dengan penuh syukur karena itu adalah karunia-Nya. Setelah dipulihkan, kita kembali bekerja dengan semangat baru untuk melayani Dia dan menjadi berkat bagi sesama.
Kita bekerja untuk memuliakan Allah, dan kita beristirahat untuk semakin menikmati hubungan dengan Allah.
Ini mengingatkan pada semangat Katekismus Westminster: “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Dengan demikian, baik kerja maupun libur (termasuk pensiun) bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk hidup semakin dekat dengan Tuhan dan semakin berguna bagi sesama.
Jadi, berapa hari Anda ingin bekerja? Mungkin setiap orang memiliki jawaban yang berbeda. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Apakah setiap hari—baik hari kerja maupun hari libur—dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan? Jika ya, maka setiap hari memiliki makna yang kekal.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau mengajarkan kami untuk bekerja dengan tekun dan beristirahat dengan iman. Jagalah hati kami agar tidak menjadikan pekerjaan sebagai berhala ataupun waktu luang sebagai tujuan hidup. Tolong kami menggunakan setiap hari untuk mengasihi-Mu lebih dalam dan mengasihi sesama dengan lebih nyata. Kiranya seluruh hidup kami, baik saat bekerja maupun beristirahat, memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.