“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”
Matius 5:45

Jika seseorang bertanya, “Apa karunia Tuhan yang terbesar?” kebanyakan orang Kristen akan menjawab, “Keselamatan di dalam Yesus Kristus.” Jawaban itu tentu benar. Keselamatan adalah anugerah terbesar yang tidak mungkin diperoleh manusia melalui usaha atau perbuatan baik. Inilah inti dari Sola Gratia—kita diselamatkan semata-mata oleh kasih karunia Allah.
Namun, sering kali kita berhenti sampai di sana. Kita lupa bahwa setiap hari kita juga hidup karena karunia Allah yang lain, yaitu karunia umum (common grace).
Yesus mengingatkan bahwa Bapa di surga “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik” serta “menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matahari tidak hanya menyinari orang percaya. Hujan tidak hanya turun di ladang orang saleh. Udara yang kita hirup, makanan yang kita nikmati, kesehatan yang kita rasakan, kemampuan berpikir, keluarga, persahabatan, keindahan alam, bahkan keteraturan hukum-hukum alam—semuanya adalah pemberian Allah kepada seluruh umat manusia.
Tanpa karunia umum itu, kehidupan di dunia tidak akan berlangsung. Tidak ada panen, tidak ada ilmu pengetahuan, tidak ada seni, tidak ada pemerintahan, tidak ada pekerjaan, bahkan tidak ada kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Dunia tetap dapat berjalan karena Allah terus memeliharanya dengan kasih-Nya.
Sayangnya, karunia inilah yang paling sering dilupakan. Apa yang kita terima mungkin terasa sudah cocok dengan hukum tabur dan tuai.
Ketika usaha berkembang, kita berkata, “Saya bekerja keras.” Ketika memperoleh promosi, kita berkata, “Saya memang pantas mendapatkannya.” Ketika tubuh sehat, kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Ketika keluarga hidup berkecukupan, kita merasa semua itu adalah hasil kecerdasan, disiplin, atau strategi keuangan kita.
Padahal, siapa yang memberi kesehatan sehingga kita mampu bekerja? Siapa yang memberikan akal budi untuk berpikir? Siapa yang membuka kesempatan? Siapa yang menjaga jantung tetap berdetak saat kita tertidur? Tidak satu pun dari semua itu berada sepenuhnya dalam kendali kita.
Rasul Yakobus mengingatkan, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas” (Yakobus 1:17). Jadi, semua yang baik berasal dari Allah, yang diberikan kepada manusia berdosa.
Pemahaman tentang karunia umum seharusnya menumbuhkan kerendahan hati. Tidak ada seorang pun yang benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri. Kita menerima karunia bukan karena kita lebih baik dari orang lain. Orang yang menolak Tuhan pun tetap menikmati udara ciptaan-Nya, makanan dari bumi-Nya, dan kehidupan yang dipelihara oleh-Nya. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa Allah panjang sabar dan penuh kemurahan.
Bagi orang percaya, kesadaran ini membawa ucapan syukur yang lebih dalam. Kita tidak hanya bersyukur karena suatu hari nanti akan masuk surga. Kita juga bersyukur karena hari ini masih dapat membuka mata, menikmati sinar matahari, menghirup udara segar, bekerja, mengasihi keluarga, dan melayani sesama. Semua itu adalah karunia yang sama sekali tidak layak kita terima.
Akkitab mengajarkan bahwa seluruh hidup orang percaya berada di bawah anugerah Allah. Anugerah yang menyelamatkan membawa kita kepada Kristus, sedangkan karunia umum menopang kehidupan kita setiap hari hingga rencana Allah digenapi. Yang satu membawa kita kepada hidup yang kekal, yang lain memungkinkan kita menjalani hidup di dunia ini. Inilah yang sering disebut sebagai ordo salutis (urutan karya keselamatan). Semua tahap itu berlangsung oleh satu saving grace yang sama.
“Setiap orang hidup oleh karunia umum Allah, tetapi hanya orang yang menerima kasih karunia keselamatan yang mampu menghargai karunia umum itu sebagaimana mestinya.”
Karena itu, jangan pernah memisahkan kehidupan rohani dari kehidupan sehari-hari. Setiap napas adalah pemberian-Nya. Setiap kesempatan adalah belas kasihan-Nya. Setiap keberhasilan adalah kemurahan-Nya. Tidak ada alasan untuk memegahkan diri, sebab semua yang kita miliki berasal dari tangan Allah.
Marilah kita belajar memandang hidup dengan mata yang penuh syukur. Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah karunia Tuhan, hati kita akan dipenuhi penyembahan, bukan kesombongan; dipenuhi rasa cukup, bukan keluhan; dan dipenuhi kerendahan hati, bukan rasa berjasa. Bukankah hidup yang demikianlah yang memuliakan Dia, Sang Pemberi segala karunia?
Doa
Bapa di surga, ampunilah kami karena sering menganggap apa yang kami miliki sebagai hasil kekuatan kami sendiri. Bukalah mata kami untuk melihat bahwa setiap napas, setiap kesempatan, setiap berkat, dan terlebih lagi keselamatan di dalam Kristus adalah anugerah-Mu semata. Ajarlah kami hidup dengan hati yang selalu bersyukur, rendah hati, dan memakai setiap karunia yang Engkau percayakan untuk memuliakan nama-Mu dan melayani sesama. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.