Dari Mana Datangnya Iman?

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”
— Matius 22:14

Dari mana datangnya iman? Apakah iman muncul karena kita memutuskan untuk percaya, ataukah iman merupakan pemberian Allah? Pertanyaan ini telah menjadi bahan perenungan orang percaya selama berabad-abad. Di baliknya tersembunyi satu pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang sesungguhnya bekerja dalam keselamatan?

Dalam perumpamaan tentang perjamuan kawin, Yesus menceritakan bahwa banyak orang menerima undangan sang raja. Namun, ada yang menolak datang karena lebih mementingkan pekerjaan dan urusannya sendiri. Ada pula yang datang, tetapi tidak mengenakan pakaian pesta yang telah disediakan. Perumpamaan itu ditutup dengan kalimat yang mengundang banyak perenungan: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Alkitab mengajarkan dua kebenaran yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, Injil diundangkan kepada semua orang. Setiap orang dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada Kristus. Tidak seorang pun dapat berkata bahwa ia binasa karena Allah tidak pernah mengundangnya. Sebaliknya, penolakan terhadap Injil adalah tanggung jawab manusia sendiri.

Namun di sisi lain, Alkitab juga mengajarkan bahwa keselamatan pada akhirnya adalah karya anugerah Allah. Tidak ada seorang pun dapat membanggakan dirinya seolah-olah ia lebih bijaksana atau lebih saleh daripada orang lain. Jika kita percaya kepada Kristus, itu karena Allah terlebih dahulu bekerja di dalam hati kita. Seperti yang ditulis Paulus, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8).

Kedua kebenaran ini tidak saling bertentangan. Justru keduanya menjaga hati kita dari dua kesalahan. Yang pertama adalah kesombongan, seolah-olah keselamatan diperoleh karena keputusan kita sendiri. Yang kedua adalah kepasifan, seolah-olah karena Allah berdaulat maka manusia tidak perlu merespons Injil. Alkitab tidak mengajarkan salah satu dari kedua ekstrem tersebut.

Kisah Petrus memberikan gambaran yang indah. Pada malam sebelum penyaliban, ia dengan berani berjanji akan setia kepada Yesus. Namun beberapa jam kemudian ia menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Seandainya keselamatan bergantung pada kekuatan iman Petrus, tentu semuanya sudah berakhir malam itu.

Tetapi Yesus telah berkata sebelumnya, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Petrus memang jatuh, tetapi ia tidak ditinggalkan. Ia menangis dengan sedih, dipulihkan oleh Tuhan yang bangkit, lalu dipakai secara luar biasa untuk menguatkan saudara-saudaranya dan menjadi salah satu pemimpin gereja mula-mula.

Kisah ini mengajarkan bahwa iman orang percaya bukanlah sesuatu yang dipelihara oleh kekuatan dirinya sendiri. Kristus sendiri menopang iman itu. Ketika Petrus lemah, Kristus tetap setia. Ketika Petrus gagal, Kristus tidak membuangnya. Bahkan kegagalan itu dipakai Allah untuk membentuk seorang rasul yang lebih rendah hati dan lebih bergantung kepada anugerah.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Ada kalanya iman terasa kuat, tetapi ada kalanya begitu lemah sehingga kita hanya mampu berseru, “Tuhan, tolonglah aku.” Pada saat-saat seperti itulah kita belajar bahwa iman bukanlah prestasi rohani yang kita hasilkan, melainkan karunia yang terus dipelihara oleh Allah.

Kesadaran ini seharusnya tidak membuat kita menjadi pasif. Sebaliknya, kita terdorong untuk terus membaca firman, berdoa, bersekutu, dan menaati Tuhan. Semua itu bukan untuk memperoleh keselamatan, melainkan karena Allah memakai sarana-sarana tersebut untuk menguatkan iman yang telah dikaruniakan-Nya.

Pada akhirnya, setiap orang percaya hanya dapat berkata dengan penuh syukur: “Aku percaya bukan karena aku lebih baik daripada orang lain, melainkan karena Tuhan berbelas kasihan kepadaku.” Dan jika hari ini kita masih tetap mengasihi Kristus, itu bukan terutama karena kita memegang Dia dengan erat, melainkan karena Dia tidak pernah melepaskan tangan kita.

Semoga renungan ini menguatkan hati kita untuk semakin bersyukur bahwa keselamatan dimulai oleh anugerah, dipelihara oleh anugerah, dan akan disempurnakan oleh anugerah.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena keselamatan kami berasal dari kasih karunia-Mu. Peliharalah iman kami ketika kami lemah, teguhkan kami ketika kami jatuh, dan mampukan kami untuk terus hidup setia kepada-Mu. Kiranya hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu. Amin.

Tinggalkan komentar