Hubungan antara Pergi ke Gereja dan Pergi ke Surga

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”
— Yakobus 2:26

Suatu pagi kita membaca berita duka di surat kabar. Di akhir berita itu tertulis, “Semasa hidupnya beliau adalah seorang yang setia pergi ke gereja.” Tanpa sadar, mungkin muncul sebuah pikiran dalam hati kita, “Kalau begitu, sekarang beliau pasti masuk surga.” Benarkah demikian? Apakah kesetiaan menghadiri kebaktian setiap minggu otomatis menjamin seseorang memperoleh hidup yang kekal? Pertanyaan ini penting, sebab banyak orang tanpa sadar menyamakan kebiasaan beragama dengan keselamatan yang sejati. Padahal Alkitab mengajarkan bahwa keduanya tidak selalu sama.

Alkitab justru mengarahkan kita kepada jawaban yang berbeda. Pergi ke gereja adalah sesuatu yang baik, bahkan sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Namun, gereja bukanlah pintu masuk menuju surga. Pintu itu hanyalah Yesus Kristus. Ia sendiri berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia.

Kalau begitu, mengapa kita tetap perlu pergi ke gereja?

Karena orang yang telah diselamatkan akan merindukan Tuhan. Ia ingin mendengar firman-Nya, memuji nama-Nya, bertumbuh bersama saudara seiman, saling menguatkan, dan diperlengkapi untuk hidup di tengah dunia. Ia pergi ke gereja bukan untuk memperoleh keselamatan, tetapi karena telah menerima keselamatan.

Yakobus berkata, “Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Sekilas ayat ini terdengar seolah-olah keselamatan bergantung pada perbuatan. Namun bila dibaca dalam keseluruhan ajaran Alkitab, Yakobus sedang berbicara tentang bukti iman, bukan dasar keselamatan.

Iman yang hidup pasti menghasilkan kehidupan yang berubah. Sama seperti pohon yang hidup akan menghasilkan buah, demikian pula orang yang telah menerima hidup baru di dalam Kristus akan semakin bertumbuh dalam kasih, ketaatan, kerendahan hati, dan kerinduan untuk melakukan kehendak Tuhan. Buah itu bukan syarat agar pohon hidup, melainkan tanda bahwa pohon itu memang hidup.

Sayangnya, sepanjang sejarah gereja selalu muncul dua penyimpangan.

Yang pertama adalah legalisme. Orang mulai berpikir bahwa rajin ke gereja, melayani, memberi persembahan, berdoa, atau berpuasa membuatnya semakin layak masuk surga. Tanpa disadari, pusat kepercayaannya bergeser dari salib Kristus kepada usahanya sendiri. Akibatnya, sebagian menjadi bangga terhadap dirinya, sementara yang lain hidup dalam kecemasan karena merasa belum cukup baik untuk diterima Allah.

Penyimpangan kedua adalah antinomianisme. Orang berkata, “Saya sudah diselamatkan oleh anugerah. Jadi bagaimana saya hidup tidak terlalu penting.” Ia tetap mengaku percaya, tetapi tidak lagi bergumul melawan dosa, tidak rindu bertumbuh, bahkan merasa tidak perlu terlibat dalam kehidupan gereja.

Kedua sikap ini sama-sama meleset dari Injil.

Paulus menegaskan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan karena perbuatan. Yakobus menegaskan bahwa iman yang menyelamatkan tidak pernah tinggal sendirian. Perbuatan baik bukan akar keselamatan, melainkan buah keselamatan.

Di sinilah gereja memiliki peranan yang sangat penting. Gereja bukanlah museum orang-orang suci yang memamerkan kesempurnaan rohani. Gereja adalah rumah sakit bagi orang-orang berdosa yang sedang dipulihkan oleh Sang Tabib Agung. Tidak seorang pun datang ke gereja karena dirinya sudah sempurna. Kita datang karena kita membutuhkan Kristus setiap hari. Kita datang untuk diingatkan kembali akan Injil, ditegur ketika menyimpang, dikuatkan ketika lemah, dan diperlengkapi untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Karena itu, jangan pernah berpikir bahwa kehadiran Anda di gereja telah menjamin tempat di surga. Tetapi jangan pula berpikir bahwa karena keselamatan adalah anugerah, maka kehidupan setelah itu tidak lagi penting. Kedua pemikiran tersebut sama-sama keliru.

Pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Sudah berapa kali saya pergi ke gereja?”, melainkan, “Apakah saya sungguh-sungguh telah datang kepada Kristus?”

Dan bila jawabannya adalah “ya”, pertanyaan berikutnya adalah, “Apakah kasih karunia-Nya sedang mengubah hidup saya?”

Orang yang benar-benar mengenal Kristus tidak akan sempurna selama masih hidup di dunia ini. Ia masih jatuh bangun, masih bergumul melawan dosa, dan masih membutuhkan pengampunan setiap hari. Namun ada satu hal yang membedakannya: ia tidak lagi nyaman hidup jauh dari Tuhan. Roh Kudus terus menariknya untuk kembali, bertobat, bertumbuh, dan semakin menyerupai Kristus.

Orang Kristen tidak pergi ke gereja untuk mendapatkan keselamatan; ia pergi ke gereja karena ia telah menerima keselamatan. Dan karena ia telah menerima keselamatan, hidupnya perlahan-lahan diubah oleh Kristus sampai suatu hari ia tiba di rumah Bapa.

Karena itu, pergilah ke gereja. Bukan untuk mencari nilai di hadapan Allah, melainkan untuk menikmati anugerah-Nya. Datanglah bukan sebagai orang yang merasa sudah cukup baik, tetapi sebagai orang berdosa yang membutuhkan Juruselamat. Dan pulanglah dengan tekad untuk hidup semakin memuliakan Dia.

Sebab yang membawa kita ke surga bukanlah bangku gereja yang kita duduki setiap hari Minggu, melainkan Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita. Namun, orang yang sungguh-sungguh berjalan bersama Kristus menuju surga akan semakin mengasihi gereja-Nya dan semakin memperlihatkan buah iman dalam kehidupan sehari-hari.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena keselamatan kami hanya bergantung pada karya Yesus Kristus, bukan pada usaha kami. Tolonglah kami agar tidak menjadi sombong karena perbuatan kami, tetapi juga tidak menyalahgunakan anugerah-Mu untuk hidup sembarangan. Bentuklah kami melalui firman-Mu, persekutuan jemaat, dan karya Roh Kudus, sehingga iman kami nyata dalam kasih dan ketaatan kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar