Bertanggung Jawab untuk Masa Depan

“Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’”
— Yakobus 4:15

Ada dua sikap yang sama-sama keliru dalam memandang masa depan. Yang pertama adalah terlalu khawatir. Orang seperti ini terus-menerus gelisah memikirkan hari esok. Ia takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut kekurangan, takut gagal, bahkan takut menghadapi hal-hal yang belum tentu terjadi. Di sisi lain, ada orang yang sama sekali tidak mau memikirkan masa depan. Dengan alasan “Tuhan pasti memelihara,” ia hidup tanpa perencanaan, tanpa tanggung jawab, dan tanpa persiapan.

Alkitab tidak mengajarkan kedua sikap tersebut.

Pada waktu itu, Yakobus menegur orang-orang yang begitu yakin akan rencana mereka sendiri. Mereka berkata, “Hari ini atau besok kami akan pergi ke kota anu, tinggal di sana setahun, berdagang, dan mendapat untung.” Yang salah bukanlah berdagang atau mencari keuntungan. Yang salah adalah mereka berbicara seolah-olah hidup dan masa depan sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.

Karena itu Yakobus kemudian berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Perhatikan kalimat terakhir: “berbuat ini dan itu.” Yakobus tidak mengatakan bahwa orang percaya hanya duduk diam menunggu kehendak Tuhan dinyatakan. Sebaliknya, ia mengandaikan bahwa orang percaya tetap aktif bekerja, merencanakan, berusaha, dan menjalankan tanggung jawabnya. Yang membedakan hanyalah sikap hati. Semua rencana itu disusun dengan rendah hati sambil mengakui bahwa Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.

Sebagai orang percaya, kita memang tidak perlu mengkhawatirkan masa depan, tetapi kita justru patut khawatir bila kita tidak memikirkan masa depan sama sekali. Mengabaikan masa depan bukanlah tanda iman, melainkan tanda kurang bijaksana.

Kitab Amsal memuji semut yang mengumpulkan makanan pada musim panas untuk menghadapi musim berikutnya. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa orang yang hendak membangun menara harus terlebih dahulu menghitung biayanya. Perencanaan yang bijaksana bukanlah lawan dari iman, melainkan salah satu bentuk ketaatan kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu merencanakan pendidikan anak, mengelola keuangan dengan bijaksana, menjaga kesehatan, menabung untuk hari tua, mempersiapkan surat wasiat, bahkan memelihara kemampuan agar dapat terus melayani Tuhan dengan lebih baik. Semua itu bukan tanda kurang percaya kepada Allah. Justru itulah bentuk tanggung jawab atas kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita.

Demikian pula dalam hal kesehatan. Ada orang yang berkata, “Kalau Tuhan sudah menentukan umur saya, buat apa berolahraga, menjaga pola makan, atau membuang uang untuk kontrol ke dokter?” Pemikiran seperti ini terdengar rohani, tetapi sesungguhnya mengabaikan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita. Tubuh kita adalah anugerah Tuhan sekaligus bait Roh Kudus yang harus dipelihara dengan bijaksana. Menjaga kesehatan bukan berarti kita tidak percaya kepada pemeliharaan Allah, melainkan justru menghargai kehidupan yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

Merencanakan kesehatan di masa tua juga merupakan bagian dari hikmat. Berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan yang sehat, tidur yang cukup, mengendalikan stres, serta menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala adalah bentuk tanggung jawab, bukan bentuk ketidakpercayaan kepada Tuhan. Memang benar, semua usaha itu tidak dapat menjamin kita terbebas dari penyakit dan mempunyai umur panjang. Namun, Tuhan sering kali bekerja melalui kebiasaan hidup yang baik untuk memelihara kita.

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengunci pintu rumah, memakai sabuk pengaman, menabung untuk masa depan, dan menjaga kesehatan bukan karena kita tidak percaya kepada kedaulatan Allah, tetapi karena kita percaya bahwa Allah memakai tindakan-tindakan yang bijaksana sebagai sarana pemeliharaan-Nya. Pada akhirnya, kita mengakui bahwa hasilnya tetap berada di tangan Tuhan. Kita melakukan bagian kita dengan setia, lalu menyerahkan apa yang berada di luar kendali kita kepada-Nya.

Tanggung jawab mempersiapkan masa depan juga berlaku dalam pelayanan gereja. Ada kalanya kita mendengar, “Kalau Tuhan menghendaki, nanti Dia sendiri akan membangkitkan pemimpin-pemimpin baru.” Memang benar Tuhan yang memanggil dan memperlengkapi para pelayan-Nya. Namun, Tuhan juga memakai orang-orang percaya sebagai alat untuk membimbing, melatih, dan membina generasi penerus. Musa mempersiapkan Yosua, Elia membimbing Elisa, Tuhan Yesus membentuk kedua belas murid, dan Paulus mendidik Timotius serta Titus. Mereka tidak hanya memikirkan pelayanan pada masa mereka sendiri, tetapi juga memastikan bahwa pelayanan Tuhan terus berlanjut setelah mereka selesai menjalankan panggilannya.

Karena itu, gereja yang sehat tidak hanya sibuk dengan pelayanan hari ini, tetapi juga dengan pelayanan untuk hari esok. Orang-orang yang lebih senior perlu dengan sengaja membimbing, memberi kesempatan, dan mempercayakan tanggung jawab kepada generasi yang lebih muda. Mempersiapkan penerus bukan berarti kita kurang percaya bahwa Tuhan akan memelihara gereja-Nya. Sebaliknya, itulah salah satu cara Tuhan memelihara gereja melalui ketaatan umat-Nya. Kita menanam dan menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1 Korintus 3:6).

Di balik semua perencanaan itu, kita tetap harus mengakui bahwa hidup kita rapuh. Tidak seorang pun dapat menjamin apa yang akan terjadi besok. Kita boleh menyusun agenda, tetapi hanya Tuhan yang mengetahui setiap hari yang akan kita jalani. Kesadaran inilah yang membuat kita rendah hati. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menjadi sombong ketika berhasil. Kita juga tidak putus asa ketika rencana berubah, karena kita percaya bahwa Tuhan yang sama tetap memegang kendali.

Ada sebuah ungkapan yang indah: “Rencanakan masa depan dengan bijaksana, jalani hari ini dengan setia, dan serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.” Inilah keseimbangan yang diajarkan Alkitab. Iman bukan berarti hidup tanpa rencana, tetapi hidup dengan rencana yang selalu tunduk kepada kehendak Allah.

Kiranya setiap kali kita membuat keputusan besar maupun kecil, kita belajar berkata bukan sekadar dengan bibir, tetapi dengan hati, “Jika Tuhan menghendakinya.” Dengan demikian, kita akan menjadi orang-orang yang rajin bekerja tanpa menjadi angkuh, berhikmat dalam merencanakan tanpa dikuasai kekhawatiran, serta tenang menghadapi masa depan karena mengetahui bahwa hidup kita berada di tangan Bapa yang setia.

Doa Penutup

Bapa di surga, terima kasih karena Engkau memegang masa depan kami. Ajarlah kami untuk hidup dengan bijaksana, rajin bekerja, dan bertanggung jawab atas setiap kesempatan yang Engkau berikan. Jauhkan kami dari sikap khawatir yang berlebihan maupun dari kemalasan yang mengabaikan masa depan. Kiranya dalam setiap rencana kami, kami selalu berserah kepada kehendak-Mu dan percaya bahwa rancangan-Mu adalah yang terbaik. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar