Biarlah Dia Makin Besar dan Aku Makin Kecil

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”
— ‭‭Matius‬ ‭6‬:‭1‬‬

Beberapa tahun terakhir, gereja-gereja semakin memanfaatkan berbagai bentuk seni untuk mendukung ibadah. Musik yang berkualitas, tata suara yang baik, pencahayaan yang indah, multimedia yang menarik, hingga tarian penyembahan dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk membantu jemaat memuji Tuhan. Semua itu bukanlah sesuatu yang salah. Allah sendiri adalah Pencipta keindahan, dan Alkitab mencatat bahwa Dia mengaruniakan kemampuan seni kepada Bezaleel untuk membangun Kemah Suci dengan penuh keahlian.

Namun, di balik semua itu tersembunyi sebuah bahaya yang sering kali datang secara perlahan. Seni yang semula dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan dapat bergeser menjadi sarana untuk memuliakan manusia. Panggung yang seharusnya mengarahkan mata kepada Kristus dapat berubah menjadi panggung yang mengarahkan perhatian kepada para pelayannya.

Yesus telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Matius 6:1. Yang Ia kecam bukanlah melakukan sesuatu di depan umum, melainkan melakukannya “supaya dilihat orang.” Persoalannya bukan pada tempat pelayanan, melainkan pada motivasi hati.

Karena itu, setiap pelayan Tuhan perlu sesekali bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa saya melayani? Siapa yang ingin saya puaskan? Bagaimana perasaan saya jika setelah ibadah tidak ada seorang pun yang memuji saya?

Jika kita merasa kecewa karena tidak mendapat apresiasi, mungkin tanpa sadar kita telah mulai mencari upah dari manusia. Jika kita lebih sibuk memikirkan kostum, tata lampu, atau penampilan daripada mempersiapkan hati melalui doa, mungkin fokus kita mulai bergeser. Jika kita merasa iri ketika pelayan lain lebih sering mendapat kesempatan atau lebih dipuji, mungkin pelayanan telah berubah menjadi arena persaingan, bukan lagi persembahan kasih kepada Tuhan.

Ironisnya, semua itu dapat terjadi tanpa kita sadari. Dari luar kita tetap melayani di gereja, tetapi di dalam hati kita mulai menikmati sorotan yang seharusnya hanya menjadi milik Kristus.

Di sisi lain, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa pelayanan kepada Tuhan boleh dilakukan dengan asal-asalan. Tuhan layak menerima yang terbaik. Latihan yang sungguh-sungguh, disiplin, dan persiapan yang matang merupakan bagian dari mempersembahkan talenta kepada-Nya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kualitas pelayanan menggantikan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Teknik dapat dipelajari, tetapi hati yang menyembah hanya dapat dibentuk melalui persekutuan yang akrab dengan Kristus.

Ukuran keberhasilan ibadah juga bukanlah tepuk tangan yang meriah atau pujian dari jemaat atau orang lain. Bisa saja sebuah ibadah tampak sederhana tanpa efek panggung yang memukau, tetapi Kristus dimuliakan dan hati jemaat disentuh oleh Roh Kudus. Sebaliknya, sebuah pertunjukan yang sangat mengesankan belum tentu menghasilkan penyembahan yang sejati.

Yohanes Pembaptis memberikan teladan yang luar biasa ketika pelayanannya mulai “dikalahkan” oleh Yesus. Murid-muridnya merasa khawatir karena semakin banyak orang mengikuti Yesus. Namun Yohanes tidak merasa terancam. Sebaliknya, ia berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30).

Inilah hati seorang pelayan sejati. Sukacitanya bukan ketika dirinya semakin dikenal, tetapi ketika Kristus semakin ditinggikan. Kepuasannya bukan ketika namanya disebut-sebut, tetapi ketika nama Yesus dimuliakan.

Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi tim musik atau penari, tetapi juga bagi pendeta, pengkhotbah, pemimpin doa, guru Sekolah Minggu, penatua, pemain multimedia, bahkan setiap orang yang melayani di balik layar. Apa pun bentuk pelayanan kita, tujuan akhirnya tetap sama: membawa orang semakin dekat kepada Kristus, bukan semakin mengagumi kita.

“Tujuan hidup orang percaya bukanlah supaya dirinya semakin dikenal, melainkan supaya Kristus semakin dimuliakan. Sebab pada akhirnya, bukan besarnya pelayanan kita yang akan dikenang di hadapan Allah, melainkan kesetiaan kita untuk berkata: ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.’

Kiranya setiap kali kita melayani, doa dalam hati kita bukanlah, “Tuhan, biarlah orang melihat aku,” melainkan, “Tuhan, biarlah mereka melihat Engkau melalui hidupku.” Sebab pada akhirnya, semua talenta, semua kemampuan, dan semua kesempatan melayani hanyalah alat untuk satu tujuan yang mulia: Soli Deo Gloria — hanya bagi kemuliaan Allah.

Doa Penutup

Bapa di surga, kami bersyukur atas setiap talenta dan kesempatan untuk melayani-Mu. Jagalah hati kami agar tidak mencari pujian manusia, melainkan hanya kerinduan untuk memuliakan nama-Mu. Ajarlah kami melayani dengan rendah hati, mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, dan tetap bergantung kepada Roh Kudus. Biarlah dalam setiap pelayanan kami, Kristus makin besar dan kami makin kecil. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar