“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
— Ibrani 4:16

Pernahkah kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan? Setelah jatuh ke dalam dosa, gagal memenuhi harapan, atau berkali-kali mengulangi kesalahan yang sama, kita sering berpikir bahwa Tuhan pasti sudah kecewa. Kita membayangkan seolah-olah kasih-Nya mulai berkurang, kesabaran-Nya mulai habis, dan kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum berani berdoa. Namun firman Tuhan justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Penulis Ibrani tidak berkata, “Datanglah setelah engkau menjadi lebih baik.” Ia berkata, “Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia.”
Mengapa kita dapat datang dengan berani? Bukan karena kita layak, melainkan karena Yesus Kristus telah menjadi Imam Besar yang memahami kelemahan kita dan telah membuka jalan bagi kita melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dasar keberanian orang percaya bukanlah prestasi rohani, melainkan karya Kristus yang sempurna. Takhta Allah bukan lagi menjadi tempat penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, tetapi menjadi takhta kasih karunia.
Kasih karunia Tuhan pertama-tama adalah anugerah yang diberikan tanpa syarat. Keselamatan tidak pernah dapat dibeli dengan perbuatan baik, disiplin rohani, ataupun pelayanan kita. Paulus berkata bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan hasil usaha kita, supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri. Semua dimulai oleh inisiatif Allah. Bahkan iman untuk percaya pun merupakan pemberian-Nya. Inilah yang membedakan Injil dari semua usaha manusia untuk memperoleh keselamatan. Kita tidak bekerja agar diterima Tuhan; kita bekerja karena sudah diterima oleh Tuhan.
Namun kasih karunia Tuhan tidak berhenti pada saat kita percaya kepada Kristus. Kasih karunia itu terus menyertai perjalanan hidup orang percaya. Ratapan 3:22-23 mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan dan belas kasihan-Nya selalu baru setiap pagi. Betapa menghiburkan mengetahui bahwa setiap hari kita memulai hidup bukan dengan catatan kegagalan kemarin, melainkan dengan belas kasihan Allah yang diperbarui. Tuhan tidak berkata, “Aku sudah cukup menolongmu.” Sebaliknya, setiap pagi Ia menyediakan kasih karunia yang baru untuk menghadapi tantangan yang baru pula.
Sering kali kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin ada kabar yang mengecewakan, masalah kesehatan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau pergumulan batin yang berat. Tetapi Tuhan yang sudah mengetahui semuanya telah lebih dahulu menyediakan kasih karunia yang sesuai dengan kebutuhan kita. Ia tidak memberikan kekuatan untuk satu tahun sekaligus, melainkan kekuatan yang cukup untuk hari ini. Sama seperti manna di padang gurun yang diberikan setiap hari, demikian pula kasih karunia-Nya dipelihara hari demi hari agar kita terus bergantung kepada-Nya.
Kasih karunia itu juga merupakan dukungan yang konstan. Ibrani 4:16 mengatakan bahwa kita akan “menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Perhatikan ungkapan “pada waktunya.” Tuhan mungkin tidak selalu bertindak menurut jadwal kita, tetapi Ia tidak pernah terlambat menurut hikmat-Nya. Saat kita merasa tidak sanggup lagi melangkah, justru pada saat itulah Tuhan memberikan kekuatan yang kita perlukan. Ketika hati hampir putus asa, Roh Kudus menghibur. Ketika hikmat terasa buntu, Tuhan membuka jalan. Ketika kita lemah, kasih karunia-Nya menjadi cukup.
Sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengalami salah satu masa paling gelap dalam hidup. Usus buntu saya pecah dan harus segera dioperasi dengan metode laparoskopi. Setelah beberapa hari saya diperbolehkan pulang, tetapi tidak lama kemudian saya mengalami demam tinggi dan harus dirawat kembali di rumah sakit.
Hari demi hari berlalu. Meskipun saya sudah menerima antibiotik melalui infus, demam itu tidak juga turun. Para dokter mulai khawatir, dan terus terang saya pun berpikir bahwa mungkin saat saya akan meninggalkan dunia sudah dekat. Dalam keadaan itu saya menelepon putri saya yang sedang berada di luar negeri. Ia segera terbang kembali ke Australia dan berbicara dengan dokter yang merawat saya. Akhirnya diputuskan untuk mengganti antibiotik yang saya terima. Puji Tuhan, dua hari kemudian demam saya hilang, dan kondisi saya mulai membaik. Ketika saya melihat kembali peristiwa itu, saya hanya dapat berkata, semuanya berakhir karena kasih karunia Tuhan.
Kehidupan Kristen bukanlah perjalanan yang mengandalkan kekuatan sendiri. Dari awal keselamatan hingga akhir kehidupan, semuanya ditopang oleh kasih karunia Allah. Kita diselamatkan oleh kasih karunia, dipelihara oleh kasih karunia, dikuatkan oleh kasih karunia, dan kelak akan dimuliakan oleh kasih karunia. Seperti ungkapan yang indah, “Kita diselamatkan oleh kasih karunia saja, tetapi kasih karunia yang menyelamatkan tidak pernah berjalan sendirian.” Kasih karunia itu akan terus mengubahkan hidup kita sehingga semakin serupa dengan Kristus.
Maka, apa pun keadaan kita hari ini, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan penuh keberanian. Di hadapan takhta kasih karunia selalu tersedia rahmat bagi orang yang gagal, pengampunan bagi orang yang bertobat, kekuatan bagi yang lemah, dan pertolongan yang selalu datang tepat pada waktunya. Kasih karunia Tuhan tidak pernah berhenti.
Doa Penutup
Bapa di surga, terima kasih karena kasih karunia-Mu tidak pernah habis. Terima kasih karena Engkau menerima kami bukan berdasarkan kelayakan kami, tetapi karena karya Yesus Kristus. Ajarlah kami untuk setiap hari datang kepada takhta kasih karunia-Mu dengan penuh keberanian, menerima belas kasihan-Mu yang baru setiap pagi, dan mengandalkan kekuatan-Mu dalam setiap pergumulan. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian bahwa kasih karunia-Mu bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memelihara dan mengubahkan kami sampai akhir. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.